Sains

Masih Hujan Terus, Sebagian Wilayah Indonesia Diperkirakan Tak Alami Musim Kemarau pada 2022

Setidaknya ada tiga faktor ini yang membuat musim kemarau 2022 lebih basah untuk sejumlah wilayah Indonesia.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi Hujan. (Pixabay/Pexels)
Ilustrasi Hujan. (Pixabay/Pexels)

Hitekno.com - Beberapa wilayah Indonesia masih terus mendapati hujan hingga kini, bahkan diperkirakan tidak akan mengalami musim kemarai pada 2022.

Hal ini disampaikan oleh Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (Prima), Organisasi Riset Kebumian dan Maritim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Instagram Minggu (5/6/2022).

Menurut Prima BRIN, ada tiga faktor yang membuat musim kemarau 2022 lebih basah dan bahkan di beberapa wilayah tak ada kemarau sama sekali.

Ketiganya adalah pembentukan siklon tropis di Samudra Hindia, aktivitas gelombang ekuator Rossby dan La Nina yang stabil di nilai antara -0,5 hingga -1 derajat Celcius.

"Ini berpotensi membuat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami peningkatan hujan sepanjang tahun 2022 serta dapat menimbulkan sifat musim kemarau yang cenderung basah di selatan Indonesia," terang Prima BRIN.

Fenomena ini bukan yang pertama kali terjadi di Idonesia. Kemarau basah yang berdampak pada musim hujan sepanjang tahun di Pulau Jawa juga pernah terjadi pada tahun 2010.

"Demikian pula potensi kemarau basah pada tahun 2022 yang dapat menghilangkan musim kemarau di beberapa wilayah di Pulau Jawa," jelas lembaga tersebut lebih lanjut.

Berdasarkan data historis, La Nina berkepanjangan selama lebih dari dua tahun berturut-turut juga pernah terjadi pada pertengahan tahun 1998 hingga awal tahun 2000 dan pada saat itu menimbulkan banyak kejadian banjir dan longsor yang meluas di Indonesia.

Sebelumnya dalam sebuah diskusi online akhir pekan lalu Erma Yulihastin, peneliti senior pada Prima BRIN menjelaskan bahwa ada di beberapa daerah di Indonesia diprakirakan tak ada kemarau pada tahun ini.

Bahkan pada Agustus ada potensi banjir serta longsor akibat intensitas hujan tinggi, tetapi di saat yang bersamaan akan terjadi suhu udara panas.

Fenomena ini berkemungkinan besar terjadi saat La Nina diperparah oleh Indian Ocean Dipole (IOD) - yakni fenomena antara lautan dan atmosfer yang terjadi di daerah ekuator Samudera Hindia, yang memberikan dampak kekeringan ataupun peningkatan intensitas curah hujan. Ada dua jenis IOD, yang positif dan negatif. IOD negatif berdampak pada peningkatan curah hujan di Indonesia.

Kombinasi antara La Nina dan IOD negatif, jelas Erma, menyebabkan curah hujan di Indonesia semakin tinggi pada musim ini.

Sementara ketika puncak musim kemarau terjadi di Tanah Air pada Agustus, maka warga Indonesia berpeluang merasakan suhu panas. Tetapi di waktu yang sama ada potensi IOD negatif mencapai intensitas maksimum sehingga meningkatkan curah hujan di Indonesia.

"Ada potensi La Nina, ada IOD negatif yang puncaknya akan mendekati Agustus 2022. Mungkin tahun ini kita bebas dari kebakaran hutan dan lahan karena basah sekali bahkan di beberapa wilayah itu musim kemaraunya hilang. Tapi di sisi lain kita harus siap-siap dengan banjir dan longsor," beber Erma.

Itulah perkiraan Prima BRIN yang menyebutkan kalau sebagaian wilayah Indonesia tidak mengalami musim kemarau pada 2022 karena masih hujan terus. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait