Sains

Sambut Sumpah Pemuda, Yuk Nostalgia Momen Bersejarah Ini

Selamat menyambut Sumpah Pemuda, para putra dan putri Indonesia!

Tinwarotul Fatonah | Amelia Prisilia

Ilustrasi pemuda. (pexels/Dio Hasbi Saniskoro)
Ilustrasi pemuda. (pexels/Dio Hasbi Saniskoro)

Hitekno.com - Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia merayakan Sumpah Pemuda yang diperingati pada 28 Oktober. Hari Sumpah Pemuda menjadi momen persatuan masyarakat Indonesia untuk tidak terpecah-pecah karena perbedaan.

Sumpah Pemuda menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar para pemuda ini dianggap sebagai semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara ini.

Ikrar ini diputuskan pada Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan pada 27 hingga 28 Oktober 1928 di Batavia yang kini menjadi Jakarta.

Ikrar Sumpah Pemuda ini menegaskan cita-cita bangsa untuk tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia.

Melihat sejarahnya, pada saat Sumpah Pemuda dibuat, rata-rata usia pemuda pada saat itu baru masuk 20-an. Beberapa di antaranya bahkan berada di bawah 18 tahun dan berasal dari berbagai latar belakang, daerah asal, suku, hingga agama yang berbeda.

Beberapa pemuda bahkan lebih banyak fasih berbahasa Belanda jika dibandingkan dengan bahasa Melayu.

Karena masih berusia muda, saat menyusun ikrar Sumpah Pemuda, para pencetus ini tinggal di sebuah kos-kosan di Jalan Kramat 106 yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda. Tidak hanya berdiskusi mengenai Sumpah Pemuda, para pemuda ini juga berdiskusi mengenai wanita yang ditaksir.

Sumpah Pemuda. (Wikipedia/Public Domain)
Sumpah Pemuda. (Wikipedia/Public Domain)

Satu hari sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan yaitu Sabtu, (27/10/2018), Soegondo Djojopoespito membuka Kongres Pemuda II ini sambil diawasi langsung oleh polisi Belanda.

Mendengar banyak peserta kongres yang menggunakan kata ''merdeka'', polisi ini lalu tegas melarangnya. Karena larangan ini, lagu kebangsaan Indonesia saat pertama kali diperdengarkan tidak dengan syairnya.

Jelang penutupan kongres pada Minggu (28/10/2018), seorang pemuda dengan biola bernama W.R Soepratman mendekati Soegondo dan menyerahkan secarik kertas berisi syait lagu yang diubahnya.

Karena banyak kata ''merdeka'', ''Indonesia Raya'', dan ''Indonesia'' di syair tersebut, Soegondo lalu khawatir jika kongres akan dibubarkan paksa bila lagu itu diperdengarkan dengan syairnya. Ia lalu mengijinkan lagu tetap dimainkan namun tanpa syair. Ketika lagu tersebut berhenti, seluruh peserta kongres langsung bertepuk tangan panjang.

Pada sesi akhir kongres ini, sekretaris Yamin yang duduk di sebelah kiri Soegondo menyodorkan secarik kertas yang berisi rumusal resolusi yang elegan. Setelah membaca rumusan tersebut, Seogondo lalu tersenyum dan membubuhkan paraf setuju.

Usulan resolusi elegan ini yang kemudian menjadi isi Sumpah Pemuda yang hingga detik ini kita hafalkan.

''Pertama, Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea, Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.''

Selamat menyambut Sumpah Pemuda, para putra dan putri Indonesia!

Berita Terkait