Sains

Ilmuwan: Lockdown Mempengaruhi Pengurangan Gangguan Seismik Bumi

Lockdown ternyata membuat ilmuwan geologi lebih akurat dalam meneliti data seismik Bumi.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta

Ilustrasi getaran di Bumi. (Pixabay/ Tumisu)
Ilustrasi getaran di Bumi. (Pixabay/ Tumisu)

Hitekno.com - Pandemi virus corona yang membuat beberapa negara melakukan lockdown ternyata mempengaruhi pengurangan gangguan seismik (seismic noise). Seperti yang telah diketahui, virus corona telah membawa kekacauan kehidupan dan ekonomi di seluruh dunia.

Namun itu justru berbuah positif bagi para ilmuwan geologi yang sedang meneliti gelombang seismik Bumi dengan lebih akurat.

Para peneliti yang mempelajari getaran dan gerakan Bumi melaporkan penurunan kebisingan atau gangguan seismik (seismic noise).

Gangguan seismik adalah sebuah dengungan getaran di kerak planet yang bisa jadi hasil dari jaringan transportasi dan aktivitas manusia lainnya.

Noise juga berarti sinyal yang dianggap mengganggu dalam proses pengolahan data seismik.

Potret Bumi istirahat. (twitter/a7medabdelhady1)
Potret Bumi istirahat saat lockdown. (twitter/a7medabdelhady1)

 

"Pengurangan gangguan sebesar ini biasanya hanya dialami sebentar di sekitar Natal," kata Thomas Lecocq, seismolog Royal Observatory of Belgium di Brussels, tempat penurunan itu telah diamati.

Para peneliti menjelaskan bahwa itu dapat memungkinkan detektor untuk melihat gempa bumi yang lebih kecil dan meningkatkan upaya untuk memantau aktivitas vulkanik dan peristiwa seismik lainnya.

"Data dari seismometer di observatorium menunjukkan bahwa langkah-langkah untuk mengekang penyebaran COVID-19 di Brussels, Belgia menyebabkan kebisingan seismik yang disebabkan oleh manusia turun sekitar sepertiga," tambah Lecocq dikutip dari Nature.

Sama seperti peristiwa alam gempa Bumi yang menyebabkan kerak Bumi bergerak, getaran juga bisa disebabkan oleh kendaraan yang bergerak dan mesin industri.

Getaran dari aktivitas manusia yang menghasilkan noise mengurangi kemampuan seismolog untuk mendeteksi sinyal lain yang terjadi pada frekuensi yang sama.

Penampakan bangunan di Brussel, Belgia. (Pixabay/ Ji-Sun Yoo)
Penampakan bangunan di Brussel, Belgia. (Pixabay/ Ji-Sun Yoo)

 

Pada masa lockdown, terjadi penurunan aktivitas manusia dan juga mesin industri sehingga berbanding lurus dengan penurunan noise.

"Jika lockdown berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, detektor pada kota di seluruh dunia mungkin bisa lebih baik dari biasanya dalam mendeteksi gempa susulan," kata Andy Frassetto seismolog dari Incorporated Research Institutions for Seismology di Washington DC, Amerika Serikat.

Turunnya noise juga dapat menguntungkan seismolog yang menggunakan getaran latar yang terjadi secara alami, seperti yang berasal dari gelombang laut, untuk menyelidiki kerak Bumi.

Seismolog Belgia bukan satu-satunya yang memperhatikan efek lockdown pada pengurangan noise seismik.

Celeste Labedz, seorang mahasiswa pascasarjana geofisika pada California Institute of Technology di Pasadena, Amerika Serikat juga mengumumkan terdapat penurunan noise pada sebuah stasiun di Los Angeles.

"Penurunan noise sangat liar," kata Celeste Labedz.

Jika lockdown terjadi lebih lama, penurunan noise ini bisa cukup menguntungkan bagi ilmuwan geologi dalam melakukan pengukuran seismik.

Berita Terkait