Sains

ISS Deteksi Kebocoran Udara dengan Ini, Bukan Teknologi Canggih

Anggota kru akhirnya menemukan lokasi kebocoran setelah melakukan tes pendeteksian yang tidak biasa.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa (sumber foto: Pixabay)
Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa (sumber foto: Pixabay)

Hitekno.com - Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS dilaporkan telah mengalami kebocoran udara. Bahkan telah terjadi sejak September 2019 silam.

Pada awalnya, para awak menunda memperbaikinya karena kebocorannya tidak besar. Namun laporan terbaru terus terjadi peningkatan.

Hingga pada Agustus 2020, tingkat kebocoran meningkat dan ini mendorong para astronot serta kosmonot di dalam ISS untuk mulai mendeteksi sumber kebocoran.

Badan antariksa Rusia, Roscosmos, mengumumkan pada Kamis (15/10/2020), anggota kru akhirnya menemukan lokasi kebocoran setelah melakukan tes pendeteksian yang tidak biasa.

Alih-alih menggunakan teknologi canggih, para awak menggunakan daun teh untuk menemukan kebocoran udara.

Kosmonot Anatoly Ivanishin melepaskan beberapa lembar daun dari kantong teh di ruang transfer Modul Layanan Zvezda pada bagian segmen Rusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional yang menampung dapur, tempat tidur, dan kamar mandi.

Kemudian kru menutup ruangan itu dengan menutup palka dan memantau daun teh di kamera saat daun itu mengapung dalam gayaberat mikro.

Stasiun luar angkasa. [Shutterstock]
Stasiun luar angkasa. [Shutterstock]

 

Daun teh perlahan melayang menuju goresan di dinding dekat peralatan komunikasi modul dan itu adalah bukti celah di mana udara mengalami kebocoran. Para kru kemudian menambal kebocoran tersebut menggunakan pita Kapton.

Kebocoran udara selama setahun di ISS selalu mengeluarkan sedikit udara. Biasanya, misi pasokan ulang membawa wadah bertekanan tinggi yang penuh dengan campuran oksigen dan nitrogen untuk menggantikan udara yang hilang dari ISS. Campuran tersebut dirancang untuk meniru udara yang dapat dihirup seperti di Bumi.

Namun pada September 2019, standar tingkat kebocoran sedikit meningkat. Itu tidak dianggap sebagai risiko besar, tetapi pada Agustus 2020, tingkat kenaikan telah meningkat lima kali lipat, dari 0,6 menjadi 3,1 pon udara per hari.

Karena itu, selama dua bulan terakhir, para anggota kru di ISS mencari kebocoran dengan mengisolasi bagian stasiun dan memantau perubahan tekanan.

Astronot dan kosmonot telah mempersempit pencarian sumber kebocoran ke ruang transfer Zvezda. Tetapi masih belum bisa menemukan lokasi pasti dari kebocoran tersebut. Hingga akhirnya, lahirlah ide menggunakan daun teh.

"Kami yakin bahwa kami telah mengidentifikasi kemungkinan area kebocoran," kata Ivanishin, seperti dikutip Science Alert, Selasa (20/10/2020).

Pita perekat yang dipasang para awak di atas celah dapat tetap stabil dan lengket di berbagai suhu. Tapi para kru tidak berpikir pita itu akan bertahan lama sehingga anggota kru berharap untuk segera menggantinya dengan tambalan yang lebih aman.

Ilustrasi stasiun luar angkasa internasional (ISS) [Shutterstock).
Ilustrasi stasiun luar angkasa internasional (ISS) [Shutterstock).

 

Roscosmos mengatakan bahwa badan antariksa itu mengatakan sedang mengerjakan program operasi untuk secara permanen menutup lokasi kebocoran.

Menurut laporan kantor berita RIA Novosti, kosmonot veteran Rusia Gennady Padalka mengatakan bahwa peralatan Rusia di ISS sudah harus diganti. Ini mengindikasikan bahwa segmen Rusia di ISS mungkin membutuhkan peningkatan.

"Semua modul di segmen Rusia telah melewati tanggal penggunaannya," kata Padalka.

Padalka menambahkan bahwa peralatan tersebut sebaiknya hanya digunakan selama 15 tahun, namun saat ini Rusia telah menggunakannya selama dua dekade.

Kebocoran ini bukan kali pertama yang terjadi di pihak Rusia. Pada Agustus 2018, anggota kru menemukan lubang bor berukuran 2 milimeter di bagian pesawat luar angkasa Soyuz milik Rusia, yang berlabuh di ISS. Lubang itu sepertinya berasal dari cacat produksi. Kosmonot akhirnya menambal lubang itu dengan segel epoksi.

Itulah bagaimana para crew menemukan kebocoran di Stasiun Luar Angkasa Internasional. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).

Berita Terkait