Sains

Kalah Dari Kecerdasan Buatan, Juara Dunia Catur China Pilih Pensiun

Kecerdasan buatan kalahkan juara dunia catur China dengan skor 4-1.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi catur China atau Go. (Pixabay)
Ilustrasi catur China atau Go. (Pixabay)

Hitekno.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence makin pesat di segala bidang. Termasuk dalam dunia catur China atau Go.

Bahkan kecerdasan buatan sampai bisa mengalahkan Lee Sedol, juara dunia catur China. Pria ini akhirnya dibuat menyerah dalam serangkaian permainan Go.

Diwartakan Suara.com, Lee Sedol telah kalah dari serangkaian permainan Go melawan program Buatan Intelegensi Google DeepMind pada 2016.

Karena kekalahannya dari kecerdasan buatan ini, juara dunia catur China ini sampai memutuskan untuk pensiun dari dunia yang ia geluti selama ini.

Lee Sedol sampai mengatakan bahwa kecerdasan buatan sekarang "tidak dapat dikalahkan".

Sebagai informasi, Korea Selatan adalah juara dunia 18 kali dan dianggap sebagai salah satu pemain Go terhebat di zaman modern.

Sayangnya, Lee Sedol sebagai juara dunia catur China ini dikalahkan 4-1 oleh perangkat lunak AlphaGo dari DeepMind.

Ilustrasi catur China atau Go. (Pixabay)
Ilustrasi catur China atau Go. (Pixabay)

 

Lee Sedol  mengatakan kepada kantor berita Yonhap, sebagaimana dilansir laman Metro.uk, di Korea Selatan bahwa penampilan AI telah membuatnya kehilangan kepercayaan diri.

"Dengan debut AI dalam game Go, saya menyadari bahwa saya tidak berada di puncak bahkan jika saya menjadi nomor satu melalui upaya yang panik. Bahkan, jika aku menjadi orang nomor satu, ada entitas yang tidak bisa dikalahkan," katanya.

Kemenangan AlphaGo pada 2016 secara luas dianggap sebagai momen penting dalam pengembangan perangkat lunak kecerdasan buatan karena kompleksitas permainan papan.

Permainan catur China yang berbasis strategi diyakini berumur beberapa ribu tahun.

Go, yang dikenal sebagai Weiqi di China dan Baduk di Korea, dianggap permainan menantang.

Para pemain bergiliran menempatkan batu-batu putih atau hitam pada kisi-kisi persegi panjang dengan 361 persimpangan, mencoba mengelilingi area papan yang lebih besar sambil juga saling menangkap potongan-potongan yang lain.

Keduanya bermain sampai tidak ada lagi tempat untuk meletakkan batu atau berhenti.

Sebelum mengalahkan juara Eropa dan Lee Sedol pada 2016, para ahli mengharapkan setidaknya kejuaraan ini bertahan hingga satu dekade lagi, sebelum komputer dapat mengalahkan manusia terbaik karena kompleksitas Go, dan ketergantungan pada intuisi.

Itulah kehebatan keerdasan buatan yang bisa memaksa juara dunia catur China untuk pensiun. (Suara.com/ Dythia Novianty).

Berita Terkait