Sains

Sejarah Nuklir Indonesia, Lengkap Beserta Lokasi Reaktor

Ternyata ada tida reaktor nuklir di Indonesia.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi nuklir. (pixabay)
Ilustrasi nuklir. (pixabay)

Hitekno.com - Nuklir tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Namun tahukah kamu ada reaktor nuklir di Indonesia? Ketahui sejarah nuklir Indonesia yang telah dirangkum tim HiTekno.com berikut ini.

Nuklir sendiri sudah banyak dimanfaatkan dalam berbagai hal. Salah satu yang banyak dimanfaatkan adalah tenaga nuklir itu sendiri. Tenaga nuklir adalah tenaga dalam bentuk apapun yang dibebaskan dalam proses transformasi inti, termasuk tenaga yang berasal dari sumber radiasi pengion.

Dapat dikatakan, tenaga nuklir adalah tenaga yang berasal dari inti atom yang dapat menghasilkan tenaga yang sangat besar. Awal perkembangan ketenaganukliran nasional sudah ada semenjak era presiden Soekarno di tahun 1954. Presiden Soekarno membentuk Panitia Negara yang bertugas melakukan penyelidikan adanya kemungkinan sisa zat radioaktif di wilayah NKRI akibat uji coba persenjataan.

Panitia Negara inilah yang kemudian menjadi awal cikal bakal BATAN. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di Indonesia sendiri diawali dengan pembangunan beberapa pusat penelitian, serta pembangunan reaktor nuklir. Hal ini bertujuan untuk riset penelitian yang akan digunakan sebagai upaya untuk penguasaan di bidang iptek nuklir.

Pada tahun 1965 reaktor nuklir pertama diresmikan pengoperasian (Triga Mark II) di Bandung. Indonesia hingga saat ini telah mengoperasikan tiga unit reaktor nuklir untuk keperluan penelitian serta beberapa fasilitas nuklir yang meliputi fabrikasi elemen bakar.

Berikut 3 lokasi reaktor nuklir di Indonesia.

  1. Bandung, Jawa Barat. Pusat Penelitian Tenaga Nuklir (PPTN) Bandung. (reaktor Triga Mark II. Diarsipkan 2007-12-31 di Wayback Machine.
  2. Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (Reaktor penelitian nuklir Kartini operasi sejak 1979).
  3. Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. (reaktor penelitian nuklir MPR RSG-GA Siwabessy - diresmikan tahun 1987).
Reaktor serba guna GA Siwabessy di Serpong. (BATAN)
Reaktor serba guna GA Siwabessy di Serpong. (BATAN)

Meski demikian rencana nuklir Indonesia sempat dikritik oleh Greenpeace dan sejumlah individu lainnya, seperti Gus Dur. Pada Juni 2007, hampir 4.000 demonstran meminta pemerintah membatalkan rencana pembangunan reaktor nuklir di Muria, Jawa Tengah. Mereka menolaknya karena bahaya limbah nuklir, dan lokasi Indonesia di Cincin Api Pasifik, dengan banyak aktivitas geologi, seperti gempa bumi dan letusan gunung.

Pada tahun 2006, Indonesia menandatangani perjanjian dengan negara lain dalam hal nuklir, termasuk Korea Selatan, Rusia, Australia dan Amerika Serikat. Australia tidak keberatan untuk mengirim uranium ke Indonesia, dan terdapat kesepahaman dengan pihak Rusia yang menawarkan untuk membangun reaktor nuklir di Gorontalo sebagai lokasi baru.

Indonesia memiliki dua lokasi eksplorasi uranium, yaitu tambang Remaja-Hitam dan tambang Rirang-Tanah Merah. Kedua uranium tersebut terletak di Kalimantan Barat. Jika tidak cukup, Indonesia memiliki pilihan mengimpor uranium yang tersedia di pasaran internasional. Indonesia adalah anggota aktif IAEA (International Atomic Energy Agency) yang berkedudukan di Vienna, Austria.

Kerjasama multilateral via IAEA berlangsung baik dan telah menghasilkan ratusan pakar dan ahli di Indonesia melalui pelatihan di luar negeri maupun via kunjungan ekspert ke Indonesia. Selain itu ada pula kerjasama regional di Asia dan Asean. Pemanfaatan tenaga nuklir ini bukan serta merta tanpa tujuan. Indonesia sendiri memiliki tujuan yang cukup jelas dari pembangunan reaktor nuklir.

Berikut alasan Indonesia membangun reaktor nuklir yang HiTekno.com rangkum untuk kamu.

  1. Nuklir akan mengurangi ketergantungan petroleum.
  2. Indonesia dapat memproduksi lebih banyak minyak bumi dengan energi dari nuklir.
  3. Memproduksi energi yang dapat diperbaharui, seperti angin dan tenaga matahari lebih mahal.
  4. Emisi gas dapat dikurangi.

Saat ini Pusdiklat BATAN menyelenggarakan rata-rata 50 pelatihan setiap tahunnya, termasuk di dalamnya pelatihan-pelatihan yang dipersyaratkan untuk memperoleh dan memperpanjang lisensi (surat izin bekerja), bagi para operator dan supervisor reaktor, petugas proteksi radiasi, pencatat dan pengawas bahan nuklir, dan sebagainya.

Hal ini juga sebagai wujud kesiapan Indonesia untuk mengoperasikan PLTN pada saat fasilitas PLTN pertama nanti beroperasi. Itulah sejarah nuklir Indonesia secara singkat. Semoga informasi diatas bermanfaat.

Kontributor: Pasha Aiga Wilkins

Berita Terkait