Sains

Perbedaan Metode Hilal Arab Saudi dengan Indonesia

Arab Saudi memanfaatkan teknologi yang dinilai lebih akurat, bagaimana dengan Indonesia?

Agung Pratnyawan

Pemantauan Hilal. (Suara.com/Arief Hermawan P)
Pemantauan Hilal. (Suara.com/Arief Hermawan P)

Hitekno.com - Penentuan hilal atau penanggalan dalam tahun Hijriyah menjadi penting dalam mengetahui kapan hari raya berlangsung. Seperti pada penentuan kapan tibanya Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah tahun ini.

Di wartakan Suara.com (2/5/2022), ada perebedaan metode penentuan hilal yang dilakukan Arap Saudi dengan Indonesia.

Arab Saudi sebagai negara Islam yang menjadi pusat teknologi beserta ilmu pengetahuan Keislaman, memiliki cara khusus dalam penentuan hilal. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan di Indonesia.

Metode yang digunakan Arab Saudi dalam penentuan penanggalan Hijriyah disebut sebagai rukyatul hilal. Dalam metode ini, ada 3 cara yang sering dilakukan, yaitu pengamatan menggunakan teleskop, pengamatan astronomi, serta pengamatan dengan mata telanjang.

Para pengamat diperbolehkan menggunakan semua metode, yang dibagi menjadi beberapa titik pengamatan di daerah Arab Saudi. Informasi yang dihimpun dari tiap tiap daerah bisa menjadi acuan bagi penentuan penanggalan, termasuk penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Pada tahun ini, Arab Saudi kembali mengumumkan bulan Ramadhan yang jatuh pada tanggal 2 April 2022 lalu, lebih awal dibanding penanggalan Hijriyah di Indonesia. Hal ini diperkirakan karena adanya perbedaan standar derajat dalam astronomi.

Perbedaan lain adalah peralatan yang digunakan oleh Arab Saudi merupakan teknologi terbaru dan memiliki nilai toleransi yang tinggi dalam pengukuran, sehingga dinilai lebih akurat.

Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]
Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]

Penentuan penanggalan ini juga menggunakan metode astronomi, di mana letak bulan yang sejajar dengan Bumi dan Matahari akan menghasilkan bentuk bulan sabit yang menandakan berawalnya bulan selanjutnya.

Metode yang digunakan di Indonesia tentu berbeda dengan Arab Saudi. Indonesia sendiri masih menganut pengamatan independen dengan standar 3 derajat yang jadi penentu penanggalan awal bulan.

Sehingga, secara garis besar bisa dikatakan bahwa perbedaan metode penentuan hilal di Indonesia dan Arab masih menjadi pertanyaan besar, mengingat secara geografis Indonesia dan Arab masih berada di benua yang sama. 

Menyandur dari Aljazeera, metode Arab Saudi ini juga diikuti oleh negara Timur Tengah lainnya seperti Kuwait,Omar, dan Qatar. Sedangkan beberapa negara lain di Asia Tenggara termasuk Brunei dan Indonesia masih menganut metode independen.

Perbedaan penanggalan 1 Ramadhan 1443 H kemarin dengan penganggalan di Arab Saudi masih menjadi evaluasi pemerintah dalam penggunaan teknologi, demi penanggalan yang lebih akurat.
 
Itulah perbedaan metode penentuan hilal antara Arab Saudi dengan Indonesia. (Suara.com/ Dea Nabila).

Berita Terkait