Sains

Penelitian Gabungkan Sel Manusia dengan Monyet, Apakah Etis?

Meski murni penelitian biomedis, namun timbul kekhawatiran kuno tentang "chimera".

Rezza Dwi Rachmanta

Ilustrasi monyet. (Pixabay/ Alexa Fotos)
Ilustrasi monyet. (Pixabay/ Alexa Fotos)

Hitekno.com - Tim peneliti dari AS dan China baru saja berhasil menggabungkan sel induk manusia ke dalam embrio monyet. Penelitian itu lantas memicu perdebatan dan berbagai pandangan dari ilmuwan lain.

Seperti yang telah diketahui, makhluk hibrida campuran manusia dan hewan atau dikenal sebagai chimera telah menjadi mitos serta legenda tersendiri.

Kita pasti mengenal Minotaur, makhluk mitologi Yunani berupa monster berbentuk manusia dengan kepala banteng. Makhluk lain seperti Centaur dan juga putri duyung menjadi legenda tersendiri dalam kisah turun temurun.

Dilansir dari Guardian, laporan terbaru dari ahli biologi yang mencampurkan sel manusia dengan monyet memicu sebuah "kekhawatiran kuno", terutama memancing pertanyaan mengenai makhluk apa yang nantinya akan tercipta?

Sang ilmuwan yang menggabungkan sel manusia dengan monyet sendiri mengaku bahwa mereka tak ingin menciptakan monster. Tujuan utama mereka berfokus pada kesehatan mengingat apabila penelitian berhasil maka penumbuhan organ bisa sangat membantu terkait operasi transplantasi.

Ilustrasi monyet dan babi. (Pixabay)
Ilustrasi monyet dan babi. (Pixabay)

Pada 2017, sebuah tim yang dipimpin oleh Juan Carlos Izpisua Belmonte di Salk Institute di La Jolla, California, menunjukkan bahwa sel punca manusia (stem cells) yang ditambahkan ke embrio babi dapat bertahan hingga empat minggu.

Sel-sel manusia tumbuh hanya dalam proporsi yang kecil dan menyusut, tidak cukup untuk menghasilkan jaringan dan organ manusia.

Izpisua Belmonte menduga itu karena hubungan kita terlalu jauh dengan babi. Itulah mengapa saat ini dia dan rekan-rekannya, berkolaborasi dengan grup Weizhi Ji di Kunming University of Science and Technology, Yunnan, China membuat "chimera " manusia-monyet.

Dari 132 embrio chimeric yang dibuat dan dibudidayakan para peneliti dalam sebuah cawan, sebagian besar mati sebelum hari ke-17 setelah pembuahan.

Ilustrasi tangan gorila. (Pixabay/ Alexa Photos)
Ilustrasi tangan gorila. (Pixabay/ Alexa Photos)

Hanya tiga yang masih hidup pada hari ke-19. Tetapi para peneliti mengatakan bahwa secara umum, sel-sel manusia nampak berintegrasi lebih baik dengan sel-sel monyet daripada yang mereka miliki pada embrio babi.

Beberapa embrio masih memiliki sekitar 4-7 persen sel manusia pada hari ke-15. Penelitian mengenai campuran sel manusia dan monyet ini memancing beragam pendapat dari ilmuwan lain.

"Yang penting bagi saya adalah ke mana perginya sel manusia dan berapa jumlahnya. Jika kita membatasi mereka secara eksklusif pada organ yang diinginkan, seperti pankreas, tidak apa-apa. Tikus dengan pankreas yang terbuat dari sel manusia sama sekali bukan 'manusia'. Tetapi untuk tikus dengan sel punca manusia yang tersebar di semua jaringan, jawabannya tidak begitu jelas. Dan untuk seekor monyet, segalanya menjadi lebih kabur," kata ahli biologi Marta Shahbazi dari Universitas Cambridge.

Ilustrasi sel manusia (merah) pada embrio monyet. (Kunming University of Science and Technology)
Ilustrasi sel manusia (merah) pada embrio monyet. (Kunming University of Science and Technology)

Hiromitsu Nakauchi seorang ahli biologi asal Jepang berpendapat bahwa etika eksperimen semacam itu paling rumit jika menghasilkan hewan yang ambigu, seperti "babi dengan wajah manusia atau otak manusia".

Itu mungkin mustahil mengingat jarak evolusioner antara babi dan manusia, tetapi bagi monyet ini menjadi semacam kurang jelas.

"Jadi kita harus harus menghindari membuat chimera manusia-hewan dengan komponen manusia yang besar. Mungkin menggunakan sel punca manusia yang dimodifikasi secara genetik yang tidak dapat membuat sel otak," kata Nakauchi.

Eksperimen ilmuwan mengenai sel manusia yang dikembangkan pada embrio monyet bertujuan untuk penelitian biomedis, pemahaman mengenai perkembangan penyakit hingga membuka kesempatan dalam mengatasi kekurangan pasokan organ untuk transplantasi.

Berita Terkait