Sains

Meski Orang Tua Lebih Berisiko, Tak Berarti Anak Muda Kebal Virus Corona

"Walaupun data menunjukkan bahwa mereka yang berusia di atas 60 berada pada risiko tertinggi, orang muda termasuk anak-anak juga banyak yang telah meninggal," ujar WHO.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi virus Corona (Coronavirus) Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi virus Corona (Coronavirus) Covid-19. (Shutterstock)

Hitekno.com - Sebelumnya diberitakan kalau orang tua lebih berisiko terdampak virus corona COVID-19. Bahkan semakin tua risikonya semakin tinggi.

Namun belum lama ini dilaporkan adanya kasus kematian remaja lelaki Inggris berusia 13 tahun yang dites positif virus corona COVID-19. Kasus ini menimbulkan antitesis pada penelitian-penelitian sebelumnya.

Sejauh ini, berbagai organisasi kesehatan sudah jelas menyatakan, bahwa semakin semakin tua semakin berisiko terkena virus corona. Meskipun begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan kaum muda untuk tidak memandang diri mereka imun terhadap Covid-19.

Melansir dari BBC, secara keseluruhan orang tua memang berisiko lebih tinggi daripada anak muda.

Tetapi data kematian dan penyakit memberikan rata-rata, sehingga di dalamnya akan ada orang-orang yang lebih muda yang sayangnya menderita serangan penyakit yang lebih parah. Beberapa kasus menunjukkan orang-orang berusia muda juga mengalami dampak Covid-19 yang fatal.

Para peneliti di Imperial College London menemukan hubungan yang jelas antara usia dan kemungkinan dirawat di rumah sakit dengan virus corona.

Penelitian itu menyatakan, bahwa kurang dari 5% orang di bawah 50 tahun perlu dirawat di rumah sakit karena gejala yang parah. Sementara 24% untuk orang usia 70-79 tahun.

Ilustrasi anak muda di tengah Covid-19 (Maker's Habitat)
Ilustrasi anak muda di tengah Covid-19 (Maker's Habitat)

 

Demikian pula, hanya 5% dari orang di bawah 40-an yang berakhir di rumah sakit dan membutuhkan perawatan kritis, dibandingkan dengan 27% orang di usia 60-an dan 43% orang di usia 70-an.

Usia rata-rata orang yang dirawat di unit perawatan kritis di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara adalah 63 tahun.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan data awal menunjukkan 53% dari orang-orang yang dirawat di rumah sakit berumur lebih dari 55 tahun. Data ini menunjukkan, bahwa setengahnya adalah orang-orang dengan usia muda.

Tetapi ketika datang ke unit perawatan intensif dan kematian, proporsi yang jauh lebih tinggi berada dalam kategori usia tertua (sekitar 80% dari kematian adalah di antara lebih dari 65-an).

Anthony Fauci, direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS, mengatakan jumlah kematian berisiko tertinggi pada orangtua. "Sangat berat terhadap orang tua dan orang-orang dengan kondisi yang mendasarinya" kata Fauci.

Namun ia menambahkan, "akan ada orang-orang muda yang akan jatuh sakit parah."

Dr Rosena Allin-Khan, seorang anggota parlemen dari Partai Buruh dan dokter A&E, mengatakan kepada BBC bahwa ia sebelumnya telah merawat pasien berumur 30-an dan 40-an.  "Keduanya sehat dan bugar, namun sekarang dalam perawatan intensif untuk bertahan hidup," ujar Allin-Khan.

"Walaupun bukti yang kami miliki menunjukkan bahwa mereka yang berusia di atas 60 berada pada risiko tertinggi, orang muda termasuk anak-anak juga banyak yang telah meninggal," kata pihak WHO menambahkan.

Itulah penjelasan WHO yang mengatakan orang tua memang memiliki risiko lebih tinggi terdampak virus corona COVID-19, namun tidak berarti anak muda aman-aman saja. (Suara.com/ Fita Nofiana).

Berita Terkait