Sains

Jika Perang Nuklir Meletus, Ini Wilayah AS Pertama yang Diserang Rusia

Perang nuklir bisa membahayakan semua negara.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta

Ilustrasi bencana nuklir. (Pixabay/ Hucky)
Ilustrasi bencana nuklir. (Pixabay/ Hucky)

Hitekno.com - Para ilmuwan dan pengamat militer semuanya setuju apabila perang nuklir meletus, kepunahan massal tak akan bisa dihindari. Kini perang dingin antara Rusia dan Amerika Serikat semakin memuncak ketika kedua negara saling memperkuat senjata pemusnah massal.

Minggu malam (24/02/2019), seorang jurnalis senior asal Rusia, Dmitry Kiselyov, mempresentasikan peta AS (Amerika Serikat) yang akan diserang Rusia pertama kali di saluran berita milik pemerintah, Rusia 24.

Kiselyof merupakan jurnalis senior yang disegani dan pernah ditunjuk oleh Putin memimpin Rossiya Segodnya, kantor berita internasional milik Rusia mulai tahun 2013.

Dalam siarannya, ia menampilkan peta yang menyoroti beberapa tempat yang ia klaim akan ditargetkan Rusia dengan rudal nuklir jika mereka diserang lebih dahulu oleh AS atau sekutunya.

Ketegangan Rusia dan Amerika Serikat meningkat akhir-akhir ini ketika AS akan menempatkan rudal nuklir jarak menengah di Eropa.

Jumlah Bom Nuklir/ploughshares.org
Jumlah Bom Nuklir yang dimiliki negara-negara di dunia sampai tahun 2018.  (Ploughshares.org)

 

Menurut peta Kiselyov, target nuklir Moskow adalah pusat militer, termasuk Pentagon, Camp David, pangkalan komunikasi angkatan laut Jim Creek yang terletak di Washington.

Dalam siarannya, ia mengklaim bahwa rudal hipersonik ''Tsirkon'' yang sedang dikembangkan Rusia dapat mencapai target ini dalam waktu lima menit.

Rudal tersebut akan dliuncurkan dari kapal selam Rusia yang diposisikan di lepas pantai AS.

''Untuk saat ini kami tidak mengancam siapa pun. Namun apabila penyebaran seperti itu terjadi (penempatan rudal dan serangan AS), respon kami akan instan,'' kata Kiselyov dikutip dari Futurism.

Ilustrasi ledakan nuklir. (inhabitat.com).
Ilustrasi ledakan nuklir. (Inhabitat).

 

Ketika dikonfirmasi di Kremlin, mereka menyatakan tidak bisa mengonfirmasi maupun membantah siaran tersebut.

Pihak Kremlin menegaskan bahwa mereka tidak bisa mengintervensi kebijakan editorial TV pemerintah.

Siaran milik Kiselyov ini bukanlah yang pertama dan menghasilkan kabar yang mengejutkan.

Pada tahun 2014, ia berpendapat bahwa Rusia bisa ''mengubah AS menjadi debu radioaktif''.

Pernyataan Kiselyof mungkin ada benarnya apabila kita menengok persenjataan nuklir milik Rusia.

Akhir tahun 2017 lalu, Rusia sukses memperkenalkan bom nuklir yang dinamai Satan II.

Bom ini diklaim memiliki efek 2000 kali lipat daripada Bom Hiroshima dan Nagasaki.

Poseidon milik Rusia. (YouTube.com/ Russian Ministry of Defense)
Poseidon milik Rusia. (YouTube.com/ Russian Ministry of Defense)

 

Kekuatan bom Satan II atau dikenal sebagai RS-28 Sarmat mampu menyapu negara seluas Perancis dalam sekejap saja.

Sementara ''mesin kiamat Rusia'' yang dikenal dengan nama Poseidon, mampu meluncurkan torpedo yang membawa bom nuklir sebesar 50 megaton.

Jika itu diluncurkan di bawah laut, ilmuwan memperkirakan bahwa tsunami dengan ketinggian 100 meter dapat langsung tercipta di pesisir laut.

Semoga saja ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat tidak berlangsung lama, apabila perang nuklir meletus, tak hanya dua negara yang hancur, sebagian dunia bisa merasakan kepunahan massal.

Berita Terkait