Sains

Menurut Ilmuwan, Golongan Darah O Berumur Lebih Pendek

Para peneliti di Tokyo Medical and Dental University Hospital menemukan bahwa pasien trauma berat dengan golongan darah O memiliki tingkat kematian sebesar 28 %.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta

Sumber: Wikipedia
Sumber: Wikipedia

Hitekno.com - Baru-baru ini, Golongan darah O dikaitkan dengan risiko kematian yang tinggi dibanding golongan darah lain. Terutama pada pasien dengan kondisi trauma berat.

Hal itu berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Critical Care yang melibatkan 901 pasien gawat darurat di Jepang.

Para peneliti di Tokyo Medical and Dental University Hospital menemukan bahwa pasien trauma berat (dengan cedera yang berpotensi menyebabkan kecacatan atau kematian jangka panjang) dengan golongan darah O memiliki tingkat kematian sebesar 28 persen.

Angka tersebut lebih besar dari tingkat kematian pasien golongan darah lain dengan angka 11 persen.

Peneliti yang memimpin penelitian ini, Dr Wataru Takayama mengatakan, "Studi terbaru menunjukkan bahwa golongan darah O bisa menjadi faktor risiko potensial untuk pendarahan."

Sumber: Telegraph (credit: Peter Dazeley)
Sumber: Telegraph (credit: Peter Dazeley)

 

Dilansir dari Eurokalert, pasien dengan golongan darah O telah terbukti memiliki faktor Von Willebrand yang lebih rendah. Faktor Von Willebrand merupakan faktor penentu agar agen pembekuan darah dapat membantu mencegah pendarahan.

Tingkat yang lebih rendah dari faktor von Willebrand terkait dengan tingkat perdarahan yang lebih tinggi.

Dr Wataru Takayama mengatakan bahwa hasil penelitian juga menimbulkan pertanyaan lain mengenai bagaimana transfusi darurat dari tipe golongan darah O ke pasien yang mengalami trauma berat.

Sumber: Rady Childrens Hospital-San Diego
Sumber: Rady Childrens Hospital-San Diego

 

Proses tranfusi itu juga mempengaruhi homeostasis, proses yang menyebabkan pendarahan berhenti, dan hal itu berbeda dari jenis darah lainnya.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki hasil penelitiannya dan mengembangkan strategi pengobatan terbaik untuk pasien trauma berat.

Penelitian tersebut menggunakan data rekam medis dari 901 pasien dengan trauma berat. Pasien-pasien tersebut yang telah diangkut ke salah satu dari dua pusat perawatan darurat medis di Jepang selama 2013 hingga 2016.

Berita Terkait