Sains

Apa Itu Lenticularis, Awan Bentuk UFO yang Sempat Menghebohkan

Apakah awan lenticularis ini berbahaya?

Agung Pratnyawan

Ilustrasi awan Lenticularis. (Pixabay)
Ilustrasi awan Lenticularis. (Pixabay)

Hitekno.com - Warga Banda Aceh sempat dihebohkan dengan penampakan awan berbentuk mirip piring terbang atau UFO yang terlihat pada Selasa (7/7/2021). BMKG menjelaskan kalau yang dilihat tersebut adalah awan lenticularis.

Diwartakan Suara.com, kemunculan awan berebentuk mirip piring terbang ini terlihat di langit Desa Punge, Kecamatan Jaya Baru pada hari itu.

Dijelaskan BMKG, ternyata awan lenticularis yang berbentuk unik seperti UFO ini berbahaya untuk penerbangan.

"Ini disebut awan Lenticularis atau biasa disebut awan topi atau awan tudung. Bagi penerbangan dampaknya sangat berbahaya,” kata Prakirawan Stasiun BMKG Meulaboh-Nagan Raya Rezky P Hartiwi di Meulaboh, seperti dimuat Suara.com, Rabu (7/7/2021).

Fenomena awan lenticularis sudah sering terjadi di Indonesia. Misalnya pada Februari lalu, awan mirip UFO ini muncul di atas langit Pasuruan, Jawa Timur.

Lenticular Clouds di Gunung Lawu (Instagram @lukman.hakiem_ via @gunungindonesia)
Lenticular Clouds di Gunung Lawu (Instagram @lukman.hakiem_ via @gunungindonesia)

Warga Banda Aceh pada Selasa (7/7/2021) dihebohkan oleh munculnya awan mirip UFO atau piring terbang di langit Desa Punge, Kecamatan Jaya Baru. BMKG mengatakan itu adalah awan lenticularis yang berbahaya untuk penerbangan.

"Ini disebut awan Lenticularis atau biasa disebut awan topi atau awan tudung. Bagi penerbangan dampaknya sangat berbahaya," kata Prakirawan Stasiun BMKG Meulaboh-Nagan Raya Rezky P Hartiwi.

Fenomena awan lenticularis sudah sering terjadi di Indonesia. Misalnya pada Februari lalu, awan mirip UFO ini muncul di atas langit Pasuruan, Jawa Timur.

Sementara pada 5 November 2020 lalu, awan lenticular muncul berbarengan di atas beberapa gunung raksasa di Jawa seperti di Gunung Sumbing, Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Sindoro, Gunung Lawu, Gunung Merbabu, Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

Pakar iklim Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Emilya Nurjani, awan lenticularis merupakan fenomena biasa. Awan ini sering muncul atau terbentuk di daerah pegunungan maupun perbukitan.

Lenticular Clouds di Gunung Merapi dan Gunung Merbabu (Instagram @dyahkurnia_dk via @gunungindonesia)
Lenticular Clouds di Gunung Merapi dan Gunung Merbabu (Instagram @dyahkurnia_dk via @gunungindonesia)

Pembentukan awan lenticularis, kata Emilya, dipengaruhi oleh faktor orografis/elevasi mirip dengan awan biasa. Tetapi jika awan biasa terbentuk di sisi pegunungan yang berangin atau sisi hadap lereng (windward), maka awan lenticularis terbentuk di sisi bawah angin atau sisi belakang lereng (leeward).

Udara lembab naik ke sisi atas gunung/bukit akan mengalami pendinginan dan pemadatan sehingga menghasilkan awan. Namun, di sisi yang berlawanan dengan angin, udara menurun dan menghangat sehingga terjadi penguapan.

"Dilihat dari permukaan, awan tidak bergerak saat udara mengalir dan lapisan pembentuk awan terlalu kering sehingga lenticular akan terbentuk satu di atas yang lain. Bahkan, terkadang hal ini meluas ke lapisan stratosfer dan terlihat seperti UFO," papar Emilya.

Kemunculan awan lenticularis ini biasanya akan menimbulkan hujan dengan intensitas sedang, imbuh Emilya seperti dikutip dari laman resmi UGM.

Sementara menurut BMKG mengatakan awan lenticuralis berbahaya, khususnya bagi pesawat terbang, karena dapat menyebabkan adanya turbulensi atau putaran angin secara vertikal yang kuat.

Itulah penjelasan mengenai awan lenticuralis yang sempat membuat heboh warg Banda Aceh karena memiliki bentuk menyerupai UFO atau piring terbang. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait