Sains

Berburu Planet Baru, NASA Kembangkan Teknologi AI Ini

Bagaimana teknologi AI akan membantu NASA mencari planet baru?

Agung Pratnyawan

Logo NASA. (Shutterstock)
Logo NASA. (Shutterstock)

Hitekno.com - Badan antariksa Amerika Serikat, NASA melakukan banyak cara dalam mempelajari luar angkasa. Termasuk dalam pencarian planet baru dengan mengerahkan teknologi AI atau kecerdasan buatan.

Dengan menggandeng David Armstrong bersama tim ilmuwan lainnya di Univeristy of Warwick, Inggris, dikembangkan teknologi AI untuk membantu para astronom berburu planet baru.

Teknologi AI akan dikolaborasikan oleh teleskop NASA seperti Transiting Exoplanet Survey Satelite (TESS), untuk mencari tanda penurunan kecerahan yang menunjukkan sesuatu melewati bintang. 

Terkadang tanda itu bisa menjadi planet, asteroid, debu, atau bahkan hanya kesalahan mendeteksi. Di sinilah peran teknologi AI untuk mempelajari dan membantu para astronom.

Tim ilmuwan membuat algoritme pembelajaran mesin dan melatihnya menggunakan data di planet yang dikonfirmasi dan positif palsu dari misi kepler NASA.

Kemudian tim ahli melepaskannya untuk menganalisis sekelompok kandidat planet yang belum dikonfirmasi, juga data dari kepler. Hasil pertama, sistem AI berhasil mengonfirmasi 50 planet dari kumpulan tersebut.

"Algoritma yang kami kembangkan memungkinkan kami membawa 50 kandidat melintasi ambang untuk validasi planet," kata Armstrong, seperti dikutip Cnet.

Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA. [Shutterstock]
Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA. [Shutterstock]

Memvalidasi planet dapat membantu ilmuwan mengarahkan sumber dayanya ke tempat-tempat menarik di luar angkasa tanpa membuang-buang waktu mengamati planet "palsu".

Kemampuan untuk mengonfirmasi planet menggunakan metode ini adalah satu langkah maju. Ilmuwan telah menggunakan pembelajaran mesin untuk menentukan peringkat kandidat.

"Daripada mengatakan kandidat mana yang lebih mungkin menjadi planet, kami sekarang dapat mengatakan kemungkinan statistik yang tepat. Di mana terdapat kurang dari 1 persen kemungkinan kandidat menjadi positif palsu, itu dianggap sebagai planet yang divalidasi," tambah Armstrong.

Teknik ini menjanjikan untuk memilah-milah sejumlah besar data yang dihasilkan oleh proyek-proyek, seperti misi PLATO yang direncanakan TESS dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Misi utama TESS sendiri menemukan 66 eksoplanet baru dan 2.100 kandidat.

Meski begitu, menurut Armstrong, para ahli masih harus melaih algoritme. Namun setelah itu akan jauh lebih mudah untuk menerapkan ke kandidat planet mendatang.

Dalam perkembangannya, diharapkan teknologi AI akan memudahkan para astronom dalam menganalisa objek-objek di luar angasa yang didapatkan dari teleskop NASA. (Suara.com/Lintang Siltya Utami)

Berita Terkait