Jika Lempeng Tektonik Raksasa di Bawah Samudra Hindia Pecah, Apa Efeknya?

Walaupun lambat, ilmuwan memprediksi bahwa lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia ini penyebab terjadinya gempa yang aneh di wilayah tersebut.

Dinar Surya Oktarini | Amelia Prisilia
Jum'at, 22 Mei 2020 | 16:00 WIB
Ilustrasi laut. (pexels/Kellie Churchman)

Ilustrasi laut. (pexels/Kellie Churchman)

Hitekno.com - Laporan terbaru menyebutkan bahwa lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia pecah menjadi dua bagian. Berkaitan dengan gempa, apa efek fenomena ini?

Lempeng tektonik yang terletak di India-Australia-Capricorn ini terbelah dengan kecepatan 0,06 inci atau 1,7 milimeter dalam satu tahun. Artinya, dalam satu juta tahun, lempeng ini memiliki jarak mencapai 1 mil atau 1,7 kilometer.

Mengenai lempeng tektonik raksasa yang pecah ini menurut para ilmuwan memang bukan hal yang bergerak cepat dan menakutkan. Namun, hal ini perlu diwaspadai ke depannya.

Baca Juga: Dua Astronot NASA ke Luar Angkasa dengan Pesawat SpaceX, Crew Dragon

Sebaliknya, pecahnya lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia ini berlangsung cukup lambat. Walaupun lambat, ilmuwan memprediksi bahwa hal ini penyebab terjadinya gempa yang aneh di wilayah tersebut.

Mengutip Live Science, berdasarkan catatan, pada April 2012, gempa berkekuatan 8,6 dan 8,2 melanda Samudra Hindia dan berada dalam jarak yang dekat dengan Indonesia.

Lempeng India-Australia-Capricorn. (Geophysical Research Letters (2020))
Lempeng India-Australia-Capricorn. (Geophysical Research Letters (2020))

Jika gempa Bumi di zona subduksi terjadi karena satu lempeng tektonik masuk ke bawah lempeng lainnya, gempa Bumi ini justru berasal dari tempat yang aneh yaitu dari tengah lempeng.

Baca Juga: Namanya Digunakan untuk Teleskop NASA, Siapa Sosok itu?

Untuk hal ini, para ilmuwan memprediksi bahwa ada deformasi yang terjadi jauh di dalam tanah yaitu di daerah Cekungan Wharton. Sangat tidak dapat diduga, lempeng India-Australia-Capricorn lalu tidak lagi menjadi kesatuan yang kohesif.

Diduga kuat, lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia yang disebut pecah ini karena terjadi kesalahan strike-slip yang sama seperti San Andreas Fault. Kesalahan semacam ini membuat dua blok Bumi saling bergeser secara horizontal.

Topografi patahan yang mirip San Andreas Fault. (Geophysical Research Letters (2020))
Topografi patahan yang mirip San Andreas Fault. (Geophysical Research Letters (2020))

Karena lempeng India-Australia-Capricorn di Samudra Hindia mengalami perpecahan dengan kecepatan yang berbeda. Dari celah pasif bisa saja kemudian menjadi pecah dan terbelah dua dalam waktu singkat.

Baca Juga: NASA: Matahari Lockdown Fenomena Alam Biasa, Tak Bikin Bumi Beku

Lebih lanjut, penelitian mengenai lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia yang pecah ini terus dilakukan untuk menemukan efek dan bahaya apa yang sekiranya mungkin akan segera terjadi.

Berita Terkait
TERKINI
Apa saja fitur canggih yang ada di CBR 150? Simak rinciannya di bawah ini....
sains | 12:12 WIB
Pertamina Foundation bersama Fakultas Kehutanan UGM telah melakukan kerja sama rehabilitasi hutan "Hutan Pertamina UGM"...
sains | 14:04 WIB
Dengan memanfaatkan algoritma AI, perusahaan ini berhasil membuka jalan bagi pengembangan obat terobosan potensial....
sains | 16:10 WIB
Objek ini punya suhu jauh lebih tinggi daripada matahari walaupun tak begitu terang. Objek apa gerangan?...
sains | 16:22 WIB
Pusat Studi Objek Dekat Bumi NASA (CNEOS) telah mencatat lebih dari 32.000 asteroid yang berada dekat dengan Bumi....
sains | 15:44 WIB
Kontribusi Goodenough merevolusi bidang teknologi membuat namanya layak dikenang sebagai sosok penting....
sains | 13:54 WIB
Jika tidak ada yang dilakukan, tingkat diabetes akan terus meningkat di setiap negara selama 30 tahun ke depan....
sains | 18:50 WIB
Vladimir Putin, pertama kali mengumumkan pengembangan drone Poseidon dalam pidato kepada parlemen Rusia 2018 lalu....
sains | 18:26 WIB
Berikut adalah sederet mitos tentang daging kambing yang banyak dipercaya masyarakat. Benarkah?...
sains | 10:19 WIB
Apakah kalian tahu apa perbedaan antara pandemi dan endemi? Simak penjelasannya di sini....
sains | 20:20 WIB
Prosedur bariatrik ramai disorot setelah beberapa seleb Indonesia diketahui menjalani tindakan medis ini....
sains | 17:01 WIB
Begini akal-akalan Toyota untuk memikat orang agar tertarik dengan mobil listrik. Seperti apa?...
sains | 10:25 WIB
SATRIA adalah satelit yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan digital di Indonesia....
sains | 15:42 WIB
Satelit Satria-1 milik Indonesia akhirnya berhasil diluncurkan, diklaim sebagai terbesar di Asia....
sains | 15:59 WIB
Simak penjelasan apa itu El Nino lengkap dan dampak hingga potensi bahayanya bagi Indonesia....
sains | 15:48 WIB
Sering berlama-lama di depan monitor atau ponsel? Leher terasa kaku bahkan cenderung nyeri?...
sains | 16:38 WIB
Apa saja tanda-tanda rabies pada anjing? Awas jangan sampai terkena gigitanya, ya! Bisa fatal!...
sains | 13:09 WIB
Pernah melihat kucing yang bermain atau sekadar rehat secara syahdu di dalam kardus? Ternyata inilah sebabnya....
sains | 19:41 WIB
Tampilkan lebih banyak