Sains

Selain Big Bang, Ledakan Terbesar di Antariksa Akhirnya Ditemukan

Lubang hitam yang mendadak meledak ini membentuk jet atau balok material yang kemudian memecahkan rekor sebelumnya yang pernah terjadi.

Dinar Surya Oktarini | Amelia Prisilia

Ilustrasi Black Hole. (Pixabay)
Ilustrasi Black Hole. (Pixabay)

Hitekno.com - Pusat Internasional Penelitian Astronomi Radio belum lama ini menemukan sebuah ledakan terbesar di antariksa setelah Big Bang yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Usai ditemukan, ledakan terbesar di antariksa ini akhirnya memecahkan rekor terciptanya lubang hitam berusia 390 juta tahun cahaya dari Bumi.

Mengenai kapasitas ledakannya, jika dapat dibandingkan, ledakan ini hampir mirip dengan letusan Gunung St. Helens yang terjadi pada tahun 1980 lalu.

Melansir dari Science Alert, ledakan terbesar di antariksa ini berasal dari pusat kluster Galaksi Ophiuchus. Tidak bisa dianggap remeh, ledakan kluster galaksi pada umumnya memiliki kekuatan yang sangat besar.

Ledakan terbesar ini membentuk lubang hitam yang dahsyat dan mengakibatkan gravitasi yang terjadi menyatukan kelompok-kelompok dengan ribuan galaksi.

Ilustrasi galaksi di alam semesta. (Pixabay)
Ilustrasi galaksi di alam semesta. (Pixabay)

 

Lubang hitam yang mendadak meledak ini membentuk jet atau balok material yang kemudian memecahkan rekor sebelumnya yang pernah terjadi.

Berdasarkan penelitian mendalam, menurut para ilmuwan, energi yang menciptakan ledakan dahsyat ini memiliki kekuatan lima kali lebih besar dari MS 0735 + 74 yang pernah jadi sebelumnya.

Penelitian untuk hal ini ditemukan dengan menggunakan empat teleskop berbasis darat dan luar angkasa. Teleskop yang digunakan adalah Chandra X-ray Observatory NASA, observatorium ruang sinar X-Newton Badan Antariksa Eropa XMM, Murchison Widefield Array (MWA) Australia, dan Teleskop Radio Raksasa Metrewave (GMRT) di India.

Ilustrasi galaksi. (pixabay/theartofsounds2001)
Ilustrasi galaksi. (pixabay/theartofsounds2001)

 

Kemunculan ledakan dahsyat setelah Big Bang ini pernah ditemukan sebelumnya pada tahun 2016 lalu. Saat itu penemuan ini ditemukan dengan menggunakan teleskop Chandra X-ray Observatory NASA.

Penemuan ini jelas saja menjadi acuan dan informasi terbaru untuk ilmu pengetahuan terutama mengenai dunia astronomi. Penelitian lebih lanjut mengenai penemuan ledakan terbesar di antariksa ini terus dilakukan ke depannya.

Berita Terkait