Sains

Bisakah Hiu Tersenyum? Ini Jawaban Ilmiahnya

Mereka percaya bahwa binatang tersenyum berkaitan dengan korteks serebral, bagian otak yang juga berkembang pada manusia.

Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta

Sumber: Business Insider
Sumber: Business Insider

Hitekno.com - Beberapa binatang mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan kebahagiaan dengan tersenyum. Meskipun tidak benar-benar tersenyum, binatang tersenyum dengan mengembangkan mulut seolah-olah mengekspresikan kebahagian mereka.

Anjing, monyet, lumba-lumba sering tertangkap kamera sedang menunjukkan ekspresi senyum yang mirip dengan manusia. Namun kita sering berpikir apakah dan bagaimana hiu tersenyum.

Pertanyaan yang disampaikan oleh orang awam mengenai hiu tersenyum akhirnya sampai ke telinga para ilmuwan. Penelitian dilakukan dengan menyelidiki kecerdasan pada mamalia ke bagian-bagian tertentu dari otak.

Sumber: Dog Nation
Sumber: Dog Nation


Mereka percaya bahwa binatang tersenyum berkaitan dengan korteks serebral, bagian otak yang juga berkembang pada manusia. Dilansir dari earthsky, ikan hiu dan umumnya ikan lainnya, bagian otak yang berhubungan dengan perasaan kurang berkembang dibandingkan pada beberapa mamalia.

Mereka berperilaku berbeda setiap hari tergantung pada seberapa banyak makanan yang mereka makan dan seberapa dinginnya air. Tetapi itu adalah perilaku bukan emosi.

Meskipun hiu terbuat dari tulang rawan yang fleksibel, rahangnya terbuat dari tulang yang sangat kaku.

Sumber: Sharkpix
Sumber: Sharkpix

Rahang yang kuat memungkinkan hiu menghancurkan mangsanya, tetapi rahang yang kuat juga membuatnya sulit untuk tersenyum.

Seorang ahli biologi kelautan yang bernama Steven Webster mengatakan bahwa mereka tidak pernah tahu apakah ikan atau kura-kura memiliki emosi.

Sumber: Twitter.com/ @Caters_news
Sumber: Twitter.com/ @Caters_news

"Bisa jadi hiu di luar sana terkekeh dan menulis puisi setiap hari, namun mereka tidak membagikannya dengan kita," kata Webster menjelaskan.

Namun para ilmuwan lain memperingatkan agar tidak membaca terlalu banyak tentang wajah dan perilaku hewan. Itu bisa mengakibatkan antropomorphisasi (menghubungkan bentuk manusia atau perilaku dengan hewan). Hal itu berbahaya karena dapat menghalangi objektivitas ilmiah.