Internet

Foto Satelit Kota Wuhan Merah Menyala Bukan karena Kremasi Massal

Gambar yang tersebut menampilkan warna merah menyala adalah perkiraan cuaca dan prediksi tingkat polutan.

Dinar Surya Oktarini

Gambar prediksi pola cuaca dan tingkat polutan Wuhan. (Windy.com)
Gambar prediksi pola cuaca dan tingkat polutan Wuhan. (Windy.com)

Hitekno.com - Sempat beredar gambar yang mengklaim foto satelit penampakan tak biasa yang menunjukkan tingkat SO2 yang mengkhawatirkan di sekitar kota Wuhan, China. Yang ternyata tidak benar.

Dalam klaim peta satelit disebutkan menangkap penampakan tak biasa yang menunjukkan tingkat SO2 yang mengkhawatirkan di sekitar Wuhan, China yang tengah dilanda virus corona. Yang ternyata tidak benar.

Diklaim tingkat sulfur dioksida yang tinggi di pusat wabah virus corona bukan menjadi tanda kremasi massal. Selain Wuham kota Chongqing yang juga berada di bawah karantina juga menunjukkan adanya tingkat sulfur dioksida.

Kabar ini diwartakan Daily Mail, seorang ilmuwan mengatakan bahwa sulfur dioksida diproduksi ketika tubuh dikremasi dan juga saat limbah medis dibakar.

Gambar tersebut diklaim menangkap sulfur dioksida seperti layaknya peta yang terbakar berwarna merah menyala. Yang ternyata prakiraan pola cuaca.

Warna merah menyala yang ada di kota Wuhan tersebut bukan dari mayat yang dibakar di pinggiran kota.

Peta Satelit Wuhan. (Windy.com)
Gambar prediksi pola cuaca dan tingkat polutan Wuhan. (Windy.com)

 

Pemerintah China sendiri memutuskan bahwa tubuh korban yang terkena virus corona harus dikremasi dalam pemakaman sederhana untuk mencegah penyebaran publik yang lebih besar.

Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan bahwa tubuh harus dikremasi segera. Meski belum terferivikasi bahwa adanya pejabat yang menyembunyikan jumlah kematian lebih tinggi dari yang dilaporkan dengan kremasi massal.

Penampakan merah menyala di gambar kota Wuhan ini yang tidak memperlihatkan tingkat sulfur dioksida yang tinggi menunjukkan jumlah besar mayat yang telah dikremasi di kota tersebut. Melainkan prakiraan pola cuaca.

Peta Satelit Wuhan. (Windy.com)
Gambar prediksi pola cuaca dan tingkat polutan Wuhan. (Windy.com)

 

Peta satelit yang berbasis dari Ceko bernama Windy.com yang menunjukkan prakiraan pola cuaca dan perkiraan tingkat sulfur dioksida di Wuhan berdasarkan data histori.

Sebagai perbandingan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa dosis 500 mikrogram tidak boleh dikampaui lebih dari 10 menit.

Menurut peta, level S02 lebih rendah hari ini tetapi Wuhan dan Chongqing mash menonjol di sebagian besar China.

Para Ilmuwan mengatakan bahwa tubuh yanng dikremasi melepaskan SO2 bersama dengan polutan lain termasuk nitrogen oksida.

WHO mengatakan adanya paparan sulfur dioksida yang tinggi atau berkepanjangan dapat menyebabkan risiko serius bagi kesehatan.

Gas tersebut dapat menyebabkan risiko asma, radang paru-paru dan penurunan fungsi paru-paru.

Hingga kini virus corona berasal dari Wuhan telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal dunia dan 4.500 an terjangkit.

Pembaruan Artikel (Update):

Faktanya, gambar warna merah ini bukan dari sulfur dioksida, melainkan perkiraan cuaca dan prediksi berbagai tingkat polutan yang berasal dari partikel, nitrogen dioksida hingga sulfur dioksida.

Seperti diwartakan euronews.com, pihak Windy.com menjelaskan banyak perkiraan kenaikan emisi sulfur dioksida ini berdasarkan data sistem pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA.

Pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA ini biasanya menghitung probabilitas tingkat polusi berdasarkan sumber emisi yang diketahui berasal dari pabrik dan pembangkit listri dan referensi silang dengan variabel meteorologi.

Sebagai tambahan, menurut artikel ini, seorang profesor kimia dari Italia membuat perhitungan mengenai jumlah mayat yang cukup untuk dibakar hingga mencapai tingkat sulfur dioksida besar yang sama dengan di peta satelit tersebut.

Menurut penjelasannya, setidaknya, perlu ada pembakaran 30 juta mayat untuk bisa menghasilkan kadar sulfur dioksida sebesar itu.

Dari sini diketahui kalau gambar kota wuhan merah menyala tersebut bukan foto satelit, dan bukan dari kremasi massal. Melainkan pemodelan atmosfer GEOS-5 NASA yang memprediksi pola cuaca dan polutan.

Koreksi (Pembaruan per 2 April 2020):

Artikel ini telah dikoreksi dan diperbarui, terutama demi meluruskan fakta-faktanya. Termasuk dengan mengubah/memperbaiki judul & sebagian gambarnya, juga tambahan/penjelesan di bagian isi. Mohon maaf atas kekeliruan sebelumnya dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan.

Berita Terkait