Sains

Mutasi Genetik, Satu Keluarga Tak Punya Sidik Jari

Tidak adanya sidik jari tersebut membuat banyak kendala bagi keluarga di Bangladesh ini.

Dinar Surya Oktarini

Ilustrasi sensor sidik jari. (Pixabay/ ar130405)
Ilustrasi sensor sidik jari. (Pixabay/ ar130405)

Hitekno.com - Peristiwa langka yang terjadi karena mutasi genetik membuat keluarga di Bangladesh tak memiliki sidik jari.

Mutasi genetik ini diperkirakan hanya mempengaruhi sejumlah kecil orang di dunia. 

Apu Sarker (22) dan para lelaki di keluarganya, memiliki kondisi yang membuat bantalan jari mereka halus serta tidak memiliki tonjolan unik yang membentuk sidik jari.

Tidak adanya sidik jari tersebut membuat banyak kendala bagi keluarganya, mengingat saat ini sidik jari digunakan untuk segala hal, mulai dari melewati bandara hingga membuka smartphone.

Bahkan di Bangladesh, sidik jari juga diperlukan untuk membuat KTP, paspor, dan SIM.

Ayah Sarker, Amal, juga mengalami kendala untuk mendapatkan setiap dokumen penting tersebut. Amal akhirnya diberi kartu identitas yang diperlukannya untuk memberikan suara dalam pemilihan, dengan keterangan cap "Tanpa sidik jadi" di atasnya dan menerima paspor setelah menunjukkan sertifikat medis.

Meskipun Amal telah membayar biaya dan lulus ujian untuk mendapatkan SIM, pihak berwenang menolak untuk mengeluarkan izin karena tidak adanya sidik jari.

Kendala seperti itu juga dialami Sarker saat ia membeli ponsel. Sejak 2016, Bangladesh membutuhkan sidik jari warganya agar sesuai dengan database nasional saat membeli kartu Sim.

"Mereka tampak bingung ketika saya pergi membeli Sim, perangkat lunak mereka tidak berfungsi setiap kali saya meletakkan jari saya di sensor," kata Sarker, seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (31/12/2020).

Hingga akhirnya, permintaannya ditolak dan sekarang semua lelaki di keluarganya menggunakan Sim yang terdaftar pada ibu Sarker.

Tidak adanya sidik jari juga menyebabkan masalah bagi paman Sarker, Gopesh, yang harus menunggu dua tahun untuk mendapatkan paspor resmi.

Selain itu, ia juga harus meyakinkan atasannya untuk mengizinkannya menandatangani lembar absensi, alih-alih menggunakan sistem absensi sidik jari di kantornya.

Keluarga tersebut, yang tinggal di sebuah desa di distrik Rajshahi utara, diduga menderita kondisi langka yang dikenal dengan Adermatoglyphia.

Kondisi tersebut menyebabkan kurangnya tonjolan pada jari tangan dan kaki, dengan gejala termasuk berkurangnya kelenjar keringat di tangan dan kaki, benjolan putih kecil di wajah, dan kulit yang melepuh.

Hal ini disebabkan oleh mutasi pada gen SMARCAD1 dan merupakan kondisi yang diturunkan, yang pertama kali menjadi perhatian luas pada 2007.

Ilustrasi sidik jari. (Shutterstock)
Ilustrasi sidik jari. (Shutterstock)

Di Bangladesh, seorang dokter kulit telah mendiagnosis keluarga Sarker dengan keratoderma palmoplantar bawaan. Namun Profesor Peter Itin, seorang dokter kulit Swiss, percaya ini mungkin telah berkembang menjadi Adermatoglyphia sekunder.

Amal dan putranya baru-baru ini menerima jenis KTP baru yang menggunakan pemindaian retina dan pengenalan wajah bersama dengan sidik jarinya, meskipun dokumen resmi lainnya tetap sulit didapat.(Suara.com/Lintang Siltya Utami)

Berita Terkait