Sains

Hadapi Gempa Besar, Indonesia Perlu Belajar ke Jepang

Canggihnya teknologi Jepang, bikin geleng-geleng kepala!

Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta

Gempa di Jepang. (PBS)
Gempa di Jepang. (PBS)

Hitekno.com - Gempa besar baru saja terjadi di Palu dan Donggala yang disebabkan pergerakan sesar Palu Koro. Dalam hadapi gempa besar, Indonesia perlu belajar ke Jepang karena mereka lebih berpengalaman terkait teknologi dan rehabilitasinya.

Gempa 7,7 SR yang terjadi pada Jumat, 28 September 2018, jam 17.02 WIB di lokasi 0.18 LS dan 119.85 BT (26 kilometer dari Utara Donggala Sulawesi Tengah) merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 10 kilometer.

Dikutip dari Suara.com, jumlah korban meninggal akibat gempa bumi dan tsunami yang tersebar di Kota Palu dan Kabupaten Donggala mencapai 1.234 orang.

Data tersebut diperoleh dari BNPB pada hari Selasa (2/10/2018) pukul 10.00 WIB.

Terkait gempa besar dan tsunami, Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Gempa dan tsunami yang melanda Jepang pada tahun 2011 mampu menghancurkan daerah pantai Tohoku.

Peringatan dini tsunami dari BMKG. (Twitter/ @InfoBMKG)
Peringatan dini tsunami dari BMKG. (Twitter/ @InfoBMKG)

Gempa sebesar 9.0 SR diikuti dengan tsunami besar membuat lebih dari 15 ribu orang tewas.

Meski belasan ribu tewas, Jepang mendapatkan apresiasi positif dari para ahli dan ilmuwan yang meneliti tentang gempa.

Pasalnya, Jepang dinilai telah berhasil menekan korban jiwa yang bisa saja menelan puluhan ribu nyawa.

Sekedar diketahui, gempa sebesar 9,1 SR yang memicu tsunami di Aceh tahun 2004 menelan korban jiwa hingga lebih dari 230 ribu orang.

Terkait dengan gempa besar, Jepang tercatat memiliki kesiapan lebih baik daripada Amerika sekalipun.

Dikutip dari Gizmodo, gempa bumi tertanam kuat dalam sejarah Jepang. Tercatat, terdapat lebih dari 2.000 gempa yang terjadi setiap tahun di Jepang.

Gempa dan tsunami Palu dan Donggala. (Suara.com/Muhammad Yasir)
Gempa dan tsunami Palu dan Donggala. (Suara.com/Muhammad Yasir)

Ini membuat masyarakat dan pemerintah Jepang mempunyai pengalaman lebih dalam menghadapi gempa.

Jepang merupakan pemimpin dunia dalam jumlah struktur bangunan tahan gempa. Di Tokyo saja, 87 persen bangunan didesain dengan struktur tahan gempa.

Gedung pencakar langit dan gedung tinggi harus mengikuti aturan ketat mengenai kondisi struktur ideal tahan gempa.

Bahkan beberapa bangunan penting dibangun dengan menggunakan bahan karet atau bahan setingkat di atasnya sehingga dapat meredam seismik.

Soal investasi, perusahaan swasta dan pemerintah Jepang sangat royal dalam menghabiskan uang untuk membangun struktur bangunan tahan gempa.

Struktur bangunan tahan gempa Jepang. (Tokyo Home)
Struktur bangunan tahan gempa Jepang. (Tokyo Home)

Bahkan salah satu perusahaan real estate Tokyo mengembangkan sebuah pendulum peredam getaran seberat 300 ton yang memungkinkan gedung tinggi tahan menghadapi guncangan gempa.

Investasi tak main-main, untuk eksperimen satu gedung saja dilaporkan menelan biaya sebesar 51 juta dolar AS atau Rp 767 miliar.

Terkait dengan kesiapan menghadapi tsunami, Jepang juga sangat royal.

Di Tokyo, terdapat terowongan penyedot air yang sangat luas. Kompleks bawah tanah sepanjang 4 mil atau 6,4 kilometer dan setinggi gedung 5 lantai ditanam di bawah tanah.

Bangunan besar itu berfungsi untuk menangkap banjir dan tsunami serta mendistribusikan (membuang) sedikit demi sedikit ke dalam sungai Edo terdekat.

Untuk membangunnya, pemerintah Jepang diperkirakan menelan biaya 3 miliar dolar AS atau Rp 45,1 triliun.

Water Discharge Tunnel di bawah kota Tokyo. (NTD)
Water Discharge Tunnel di bawah kota Tokyo. (NTD)

Sektor transportasi juga tak luput dengan struktur anti gempa. Kereta api super cepat, Shinkansen, dilengkapi dengan sensor pendeteksi gempa.

Saat gempa 9,0 SR terjadi di Jepang, terdapat 27 kereta Shinkansen yang melaju. Ajaibnya, terdapat nol tewas atau bahkan terluka di kereta api tersebut.

Itu berkat jaringan besar sensor gempa yang tersebar di seluruh Jepang. Semua kereta cepat akan mengaktifkan rem darurat beberapa detik sebelum gempa besar terjadi.

Indonesia perlu belajar ke Jepang terkait dengan bangunan, sistem, dan pola antisipasi dalam hadapi gempa besar. Meski penanganan gempa besar membutuhkan biaya besar, jika ini terkait dengan nyawa, mengapa tidak?

Berita Terkait