Sains

Matahari Terbit 16 Kali Sehari, Ini Cara Astronot Puasa dan Salat

Seorang astronot muslim memiliki cara untuk berpuasa dan menunaikan salat ketika berada di luar angkasa.

Rendy Adrikni Sadikin

Astronot salat di luar angkasa (Youtube)
Astronot salat di luar angkasa (Youtube)

Hitekno.com - Puasa merupakan ibadah yang wajib ditunaikan umat muslim seluruh dunia selama bulan suci Ramadan.

Nah, pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana sih para astronot menunaikan ibadah tersebut di luar angkasa?

Pada 2007 silam, hal tersebut pernah didiskusikan ketika Malaysia mengirimkan astronot pertamanya bernama Sheikh Muszaphar Shukor.

Ketika itu, Shukor dikirim dengan kapal ulang alik milik Rusia ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama 10 hari.

Pemerintah Malaysia saat itu mengatakan bahwa Shukor tidak akan menunaikan ibadah puasa Ramadan selama di luar angkasa, meski dia seorang muslim.

"Ketika kamu dalam perjalanan, tidak ada keharusan untuk menunaikan ibadah puasa," ujar Menteri Sains Malaysia saat itu, Jamaluddin Jarjis, seperti Space.com pada 2007 silam.

Namun, Shukor mengatakan dirinya berharap bisa berpuasa di luar angkasa, meski prioritas utamanya untuk mengadakan eksperimen ilmiah,

Masalahnya, ISS mengelilingi bumi 16 kali dalam sehari, artinya matahari terbit dan terbenam setiap 90 menit.

Tapi, Jamaluddin mengatakan Shukor, yang sudah berpuasa ketika pelatihan, bisa menunda puasanya hingga dirinya kembali.

Ketika itu periode puasa Ramadan di 2007, pada 13 September hingga 12 Oktober, sehingga artinya Shukor berpuasa hanya 2 atau 3 hari jika dia memaksa untuk tidak makan dan minum dari imsak hingga buka puasa.

Jamaluddin juga mengatakan Shukor bisa menunaikan ibadah salat sebanyak 3 kali sehari, bukan lima waktu seperti kewajibannya.

Tujuannya untuk mengurangi ketidaknyamanan ketika menunaikan ritual salat di dalam ruangan bebas gravitasi.

Selain itu, astronot bakal susat berlutut akibat dari kondisi mikrogravitasi ketika ISS mengelilingi bumi selama 16 kali sehari.

Dewan Fatwa Nasional Malaysia mengatakan, ketika salat, durasi 24 jamnya mesti disesuasikan dengan zona waktu lokasi peluncuran.

Sedianya, seorang muslim ketika salat, diminta untuk menghadap ke Kabah di Tanah Suci Mekkah sebagai kiblatnya,

Namun, ketika di luar angkasa, astronot bisa menggunakan gambar Kabah atau bumi sebagai kiblat jika arah Kabah di Mekkah sulit untuk ditemukan.

Untuk berwudu, astronot bisa menggunakan tisu atau handuk basah.

Dewan Fatwa Nasional Malaysia juga memutuskan astronot tidak perlu berlutut untuk berdoa jika bermasalah dengan gravitasi nol.

Shukor juga sempat membuat rekaman video tata cara salat ketika di luar angkasa.

Video tersebut diunggah ke Youtube oleh pemilik channel Islam Great Religion.

Berikut videonya:

Berita Terkait