Sains

Ilmuwan Temukan Lubang Ozon Baru, Menganga di atas Kutub Utara

Tidak ada hubungan antara lubang ozon di Kutub Utara itu dengan wabah Covid-19 yang telah secara drastis menguragi polusi udara dan emisi rumah kaca di Bumi.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi atmosfer Bumi. (pexels/Jaymantri)
Ilustrasi atmosfer Bumi. (pexels/Jaymantri)

Hitekno.com - Ilmuwan menemukan lubang ozon baru yang terbuka di atas Arktika atau kutub utara Bumi. Bahkan lubang baru ini disebutkan cukup langka terjadi.

Para ilmuwan menduga fenomena lubang ozon baru itu terjadi akibat suhu dingin yang tidak biasa pada atmosfer di atas Kutub Utama.

Lubang ozon itu, yang diamati dari luar angkasa dan dari darat dalam beberapa hari terakhir, memiliki ukuran tak biasa. Meski demikian ia diyakini tak akan membahayakan manusia, kecuali jika berpindah lebih ke selatan.

Para ilmuwan yakin lubang ozon itu akan hilang dalam beberapa pekan ke depan, demikian diwartakan The Guardian, Rabu (8/4/2020).

"Lubang itu adalah sebuah teka-teki geofisika," kata Vincent-Henri Peuch, direktur Copernicus Atmosphere Monitoring Service, sebuah lembaga pengamat cuaca di Eropa.

Lubang ozon tersebut disebabkan oleh pusaran kutub atau polar vortex tak lazim akibat suhu dingin dan dikombinasikan dengan zat-zat kimia perusak ozon di atmosfer seperti klorin serta bromin.

Tidak ada hubungan antara lubang ozon baru itu dengan wabah Covid-19 yang telah secara drastis menguragi polusi udara dan emisi rumah kaca, karena mayoritas manusia di Bumi kini mengurung diri di dalam rumah dan pabrik-pabrik berhenti beroperasi.

Ada lubang ozon baru di atas Kutub Utara. Foto: lapisan es Arktika di Kutub Utara. (NASA)
Ada lubang ozon baru di atas Kutub Utara. Foto: lapisan es Arktika di Kutub Utara. (NASA)

 

Juga terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa polar vortex di Arktika yang tidak lazim berhubungan dengan krisis iklim atau bagian dari variasi cuaca stratosfer.

Vincent-Henri Peuch mengatakan bahwa suhu di kawasan itu sudah mulai lebih hangat dan karenanya mengurangi penipisan ozon.

Lubang ozon itu sendiri diperkirakan akan hilang ketika udara di kutub utara bercampur dengan udara kaya ozon dari daerah yang lebih hangat di selatan.

Lubang ozon di Arktika sangat jarang terjadi, tetapi lubang ozon yang lebih besar di Antartika di Selatan sudah menyebabkan dunia resah selama 40 tahun terakhir.

Pengurangan produksi zat kimia perusah ozon berkat disepakatinya Protokol Montreal 1987 oleh mayoritas negara di dunia. Tetapi berdasarkan laporan pada 2018, masih ada beberapa sumber zat kimia perusak ozon di China bagian timur.

Itulah temuan adanya lubang ozon baru yang terbuka di kutub utara. Sampai saat ini para ilmuwan masih meneliti keberadaanya. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait