Sains

Disebut Fiktif oleh Ridwan Saidi, Ini Fakta-fakta Kerajaan Sriwijaya

Berikut tim HiTekno rangkum fakta-fakta terkait Kerajaan Sriwijaya.

Agung Pratnyawan | Amelia Prisilia

Ilustrasi candi. (pixabay/enriquelopezgarre)
Ilustrasi candi. (pixabay/enriquelopezgarre)

Hitekno.com - Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, belum lama ini membuat heboh dengan pernyataannya yang menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya hanyalah fiktif. Membantah pernyataan Ridwan Saidi ini, berikut fakta-fakta Kerajaan Sriwijaya.

Mengutip Suara.com, pernyataan Ridwan Saidi ini ia sampaikan dalam sebuah video wawancara yang diunggah channel YouTube Macan Idealis.

Pernyataan Ridwan Saidi mengenai Kerajaan Sriwijaya ini jelas menimbulkan perdebatan di media sosial, terutama warga Sumatera Selatan.

Pasalnya, Kerajaan Sriwijaya sudah sejak lama dikenal sebagai kemaharajaan bahari yang berdiri di Pulau Sumatera.

Membuat kontroversi, dilansir dari berbagai sumber, berikut tim HiTekno rangkum fakta-fakta terkait Kerajaan Sriwijaya.

Awal mula Kerajaan Sriwijaya

Dilansir dari Wikipedia, Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan yang berdiri di Pulau Sumatera dan telah memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat, dan kemungkinan Jawa Tengah.

Nama Kerajaan Sriwijaya berasal dari dua suku kata yaitu Sri yang berarti gemilang dan Wijaya yang berarti kemenangan. Jika digabungkan, Sriwijaya merupakan kemenangan yang gemilang.

Kerajaan Sriwijaya. (Wikipedia/Gunawan Kartapranata)
Kerajaan Sriwijaya. (Wikipedia/Gunawan Kartapranata)

 

Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya ada pada abad 9 sampai 10 Masehi. Kerajaan Sriwijaya diketahui menguasai jalur perdagangan melalui laut di wilayah Asia Tenggara.

Bukti tertua mengenai Kerajaan Sriwijaya berasal dari Cina. Yaitu pada tahun 682 M, ada seorang pendeta asal Tiongkok bernama I-Tsingingin yang mempelajari bahasa Sansekerta di Sriwijaya.

Dalam catatannya terungkap bahwa Kerajaan Sriwijaya pada saat itu dikuasai oleh Dapunta Hyang.

Selain itu, bukti Kerajaan Sriwijaya juga tertulis dalam beberapa prasasti yang salah satunya adalah sebuah prasasti di Palembang yaitu Kedukuan Bukit.

Dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa Dapunta Hyang berhasil melakukan ekspansi hingga membuat Kerajaan Sriwijaya begitu makmur dan sejahtera.

Catatan sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya memang cenderung misterius dan minim untuk manusia modern. Hingga pada tahun 1920, seorang sarjana Prancis mempublikasi penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia.

Selain itu, paling menggemparkan, Balai Arkeologi Palembang juga menemukan sebuah perahu kuno yang diperkirakan sudah ada sejak masa awal atau proto Kerajaan Sriwijaya di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Catatan sejarah menemukan ada 17 keping perahu yang terdiri dari bagian lunas dan papan perahu yang terdiri dari bagian badan serta bagian buritan untuk menempatkan kemudi.

Para ahli memprediksi jika perahu ini dibuat dengan teknik pasak kayu dan papan ikat menggunakan tali ijuk.

Akhir masa Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya. (Wikipedia/Gunawan Kartapranata)
Kerajaan Sriwijaya. (Wikipedia/Gunawan Kartapranata)

 

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya diketahui menjadi kemunduran kerajaan ini dan disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah karena adanya serangan dari Rajendra Chola I.

Dirinya merupakan seorang dari dinasti Cholda di wilayah Koromande, India bagian Selatan pada tahun 1025 dan 1017.

Serangan ini membuat armada Kerajaan Sriwijaya luluh lantah dan membuat sistem perdagangannya jatuh ke Raja Chola I.

Walaupun tidak langsung jatuh dan hancur, Kerajaan Sriwijaya sempat bertahan walaupun dengan kekuatan militer yang lemah.

Sayangnya, berbagai serangan Pagaruyung dan Dharmasraya membuat Kerajaan Sriwijaya tidak mampu bertahan, makin melemah hingga berakhir pada abad ke-13.

Melihat fakta-fakta Kerajaan Sriwijaya ini rasanya sudah cukup mampu membantah pernyataan Ridwan Saidi yang menyebut bahwa Kerajaan Sriwijaya hanyalah fiktif. Apalagi, pernyataan ini juga sudah dibantah keras oleh para arkeolog yang menyebut bahwa pendapat ini tidak berdasar.