Sains

Jepang Menyetujui Eksperimen Hibrida Manusia-Hewan, Ini Syarat Khususnya

Eksperimen hibrida manusia-hewan diharapkan dapat berguna untuk transplantasi di masa depan.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta

Ilustrasi embrio hibrida manusia dan tikus. (Kolase Jurnal Cell dan Pixabay)
Ilustrasi embrio hibrida manusia dan tikus. (Kolase Jurnal Cell dan Pixabay)

Hitekno.com - Selama bertahun-tahun, ilmuwan dibuat kesulitan dan menghadapi pertentangan ketika melakukan eksperimen pengembangan embrio hibrida manusia-hewan. Meski sebelumnya memancing kontroversi, kini eksperimen hibrida manusia-hewan telah diizinkan di Jepang dengan syarat cukup ketat.

Banyak negara di dunia yang membatasi dan melarang praktik eksperimen hibrida manusia-hewan karena dianggap tidak etis.

Namun, Jepang berani membuka tutup kotak Pandora dan mengizinkan eksperimen tersebut kepada ilmuwan tertentu.

Seorang ilmuwan sekaligus ahli biologi sel induk, Hiromitsu Nakauchi, sangat senang karena ia termasuk peneliti pertama yang mendapatkan izin dari pemerintah Jepang.

Sejak larangan pada tahun 2014, tidak ada satu peneliti pun yang berani mengembangkan sel embrio manusia-hewan karena sangat terlarang.

Embrio hibrida babi dan manusia. (YouTube/ Tech Insider)
Embrio hibrida babi dan manusia. (YouTube/ Tech Insider)

 

Nakauchi telah berpindah dari satu negara ke negara lain dalam mengejar mimpinya.

Salah satu mimpinya adalah pada suatu hari nanti, ilmuwan dapat menumbuhkan organ manusia yang disesuaikan pada hewan seperti domba dan babi.

Hanya melalui eksperimen hibrida manusia-hewan maka hal tersebut bisa terjadi.

Lebih dari 116 ribu pasien berada dalam daftar tunggu transplantasi di Amerika Serikat.

Nakauchi berharap bahwa suatu saat nanti, ia dan ilmuwan lainnya dapat memecahkan masalah tersebut sehingga dapat mengembangkan organ manusia di dalam tubuh hewan.

Tujuan utama itu masih jauh, namun setidaknya pemberian izin eksperimen ini bisa menjadi lampu hijau dan langkah pertama untuk melakukannya.

Ilmuwan pernah mengembangkan embrio hibrida babi-manusia dalam periode yang sementara. (YouTube/ Tech Insider)
Ilmuwan pernah mengembangkan embrio hibrida babi-manusia dalam periode yang sementara. (YouTube/ Tech Insider)

 

"Kami tidak berharap untuk membuat organ manusia dalam waktu dekat. Tetapi ini memungkinkan kami untuk membuat penelitian kami lebih maju berdasarkan pengetahuan yang kami peroleh saat ini," kata Nakauchi dikutip dari Science Alert.

Percobaan akan dimulai dengan menyuntikkan sel induk berpotensi majemuk yang diinduksi sel manusia ke dalam embrio tikus dan hewan pengerat lainnya.

Tujuannya agar embrio hewan pengerat menggunakan sel manusia untuk membangun pankreasnya sendiri.

Selama dua tahun, peneliti akan memonitor organ dan otak mereka dalam proses tersebut.

Sebelum ini, ilmuwan sebenarnya telah mengembangkan embrio hibrida seperti embrio babi-manusia dan domba-manusia.

Namun para ilmuwan tersebut belum pernah diizinkan untuk berkembang lebih jauh lagi.

Syarat yang harus dipenuhi dari pemerintah Jepang sangat ketat.

Ilmuwan hanya boleh mengembangkan embrio hanya untuk perawatan pankreas saja.

Jika tim pengawas mendeteksi lebih dari 30 persen otak tikus mengandung sel manusia, maka eksperimen langsung ditutup oleh pemerintah Jepang saat itu juga.

Hal tersebut merupakan syarat agar mencegah hewan yang "dimanusiakan" tidak berkembang lebih lanjut.

Makhluk yang berkembang dari hewan dan penuh dengan sel manusia ditakutkan menjadi mutan yang mungkin berbahaya dan tidak etis untuk dikembangkan.

Pemberian izin eksperimen hibrida manusia-hewan hanya ditujukan untuk kepentingan medis dan diharapkan akan berguna di masa depan.

Berita Terkait