Cinta Segitiga Manusia Purba, Diprediksi Hasilkan Manusia Modern

Wah hubungan manusia purba ternyata sangat ''complicated''!

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta
Rabu, 03 Oktober 2018 | 15:00 WIB
Ilustrasi manusia purba. (Event Chronicle)

Ilustrasi manusia purba. (Event Chronicle)

Hitekno.com - Tahun 2008, penemuan tulang ''pinky'' menambahkan karakter baru dan misterius ke dalam sejarah manusia. Puluhan ribu tahun lalu, kemungkinan terdapat cinta segitiga manusia purba yang membuat manusia modern memiliki DNA milik mereka.

Satu dekade kemudian tepatnya pada tahun 2018, ilmuwan menemukan temuan lain yang revolusioner. Temuan itu adalah mengenai makhluk hibrida antara nenek moyang terdekat manusia modern.

Itu berarti bahwa manusia, Neanderthal, dan Denisovans yang baru-baru ini ditemukan, ''saling bergaul'' satu sama lain dalam pesta 10 ribu tahun.

Baca Juga: Arktik Tambah Subur, Kabar Buruk Bagi Bumi

Ilustrasi Denisovan. (Pinimg)
Ilustrasi Denisovan. (Pinimg)

Dikutip dari Forbes Science, ilmuwan mengklaim bahwa hubungan ketiganya menghasilkan manusia modern zaman sekarang.

Gua Denisova di Pegunungan Altai Siberia melintasi perbatasan antara Rusia dan Kazakhtan.

Sepuluh tahun yang lalu, seorang ilmuwan Rusia menemukan sebuah tulang ''pinky'' atau berwarna pink kemerahan.

Baca Juga: Lumut Berubah Warna di Antartika, Pertanda Buruk Bagi Manusia

Setelah ilmuwan melakukan analisis genetik ekstensif, ternyata tulang itu milik spesies yang belum pernah kita temukan sebelumnya.

Mereka menamakannya dengan ''Denisovan''.

''Kepala Datar'' Eropa

Baca Juga: Perut Ikan Purba Belum Merdeka dari Sampah Plastik

Rekonstruksi wajah Neanderthal. (Neanderthal Museum via Forbes Science)
Rekonstruksi wajah manusia purba Neanderthal. (Neanderthal Museum via Forbes Science)

Sejak tahun 1800-an, orang-orang Eropa telah menemukan serpihan-serpihan seperti tengkorak manusia kuno yang cacat.

Pada tahun 1856, tengkorak lengkap ditemukan oleh para penambang di Lembah Neander.

Temuan itu diteliti oleh profesor Hermann Schaffhausen dan sebelumnya mereka yakin bahwa itu merupakan manusia ''kepala datar''.

Baca Juga: Kawasan Pantai Gili Trawangan Ternyata Simpan Warisan Purbakala

Namun setelah diteliti lebih lanjut, ilmuwan menemukan bahwa itu adalah spesies baru dan bukan manusia ''kepala datar''. Mereka menamakannya dengan sebutan ''Neanderthal''.

Sebelumnya Neaderthal diremehkan dan dicap sebagai binatang buas mirip kera dengan sedikit hubungan dengan manusia.

Namun ilmuwan Eropa menyisihkan kemungkinan jelek (menyebut manusia mirip dengan kera) dan menemukan bahwa manusia memiliki warisan DNA dari Neanderthal.

Mereka berhasil mengungkap penemuan yang mengejutkan bahwa orang Eropa, Asia, dan penduduk asli Amerika semuanya membawa 1-3 persen DNA Neanderthal.

Gen terlalu jauh

Ilustrasi peta Melanesia. (Ancient Map)
Ilustrasi peta Melanesia. (Ancient Map)

Namun ketika para ilmuwan mengurutkan genome dari orang-orang yang berbeda dari seluruh dunia, mereka menemukan fakta lain.

Ilmuwan menemukan bahwa gen di Melanesia dan Tibet tidak mewarisi gen Neanderthal maupun manusia. Misteri itu perlahan terbuka ketika tulang ''pinky'' berusia 41 ribu tahun dari gua Denisova menghasilkan potongan DNA mikroskopis.

Faktanya, sebanyak 5 persen DNA Melanesia berasal dari Denisovan. Pertanyaan terbesar kemudian muncul: Bagaimana gen bisa sejauh ini?

Sebuah penelitian terbaru di jurnal Nature Communication, sebuah fragmen tulang kaki ditemukan dan mengungkap makhluk baru.

Ilmuwan menemukan bahwa tulang itu adalah milik makhluk hibrida dengan ayah Denisovan dan ibu Neanderthal .

Sejak penelitian DNA purba yang dilakukan ilmuwan, manusia kemungkinan membawa gen itu akibat dari ''penaklukkan'' Neandertal saat menguasai Eropa.

Kemungkinan lain bahwa mungkin manusia diperkosa saat terjadi peperangan.

Hubungan misterius mengenai Denisovan, Neanderthal, Melanesia, dan manusia itu sendiri sampai kini masih diteliti oleh ilmuwan.

Mereka menemukan telah terjadi cinta segitiga manusia purba atau bahkan cinta segiempat bahkan segilima sehingga gen-gen mereka terwarisi.

Berita Terkait

TERKINI

Ada 12 astronot NASA yang sudah menginjakkan kaki di Bulan sampai sejauh ini, siapa saja mereka?
sains | 12:15 WIB
Dalam menjalankan ambisinya Amerika Serikat gaet banyak kawan untuk bantu menghalangi berkembangnya industri teknologi China.
sains | 14:00 WIB
Walau tak mengeluarkan polusi udara, namun baterai kendaraan listrik ataupun elektronik bisa jadi ancaman.
sains | 16:47 WIB
Simak, kapan saja komet langka ini bisa disaksikan menghiasi langit Indonesia besok.
sains | 15:05 WIB
Jarang diketahui, apa saja fakta menarik lato-lato. Dari mana asalnya hingga sejak kapan ada.
sains | 15:37 WIB
Tak banyak yang tahu, berikut ada banyak fakta menarik peta dunia sampai sejauh ini.
sains | 11:20 WIB
Pasti ada perbedaan antara di game dan serial HBO, ketahui fakta menarik The Last Of Us ini.
sains | 09:53 WIB
Apa itu ERP Jalan berbayar, untuk apa diterapkan di Jakarta dan bagaimana cara kerjanya?
sains | 09:37 WIB
Ketahui fakta menarik soal makanan buaya, hewan purba yang ternyata banyak melahap makanan.
sains | 14:40 WIB
Kenali apa saja fakta menarik buaya yang belum diketahui banyak orang. Seperti apa hewan purba ini?
sains | 18:12 WIB
Molly telah menemukan lebih dari 400 gigi selama ekspedisinya ke pantai.
sains | 20:45 WIB
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
sains | 15:58 WIB
Kota kuno ini memiliki 1.000 pemukiman yang terhubung dengan jalan dan ada sisa lapangan sepak bola.
sains | 13:50 WIB
NASA mengatakan kalau komet hijau itu pertama kali terlihat pada Maret 2022 saat berada di dalam orbit Jupiter.
sains | 13:59 WIB
TOI 700, planet mirip Bumi kedua yang ditemukan sejauh ini. Memungkinkan bisa ditinggali manusia?
sains | 10:16 WIB
Tim Pusat Hidro OseanografiTNI AL akan melakukan penelitian pada pulau baru yang muncul usai gempa Maluku tersebut.
sains | 10:23 WIB
Bagaimana bisa mengubah salju menjadi sumer tenaga listrik? Ini yang dilakukan ilmuwan Jepang.
sains | 15:31 WIB
Menurut BRIN, komet langka tersebut akan melintas di langit Indonesia pada 2 Februari 2023.
sains | 13:28 WIB
Tampilkan lebih banyak