Jerome Poline mengungkap ada upaya penyebaran narasi damai kasus Affan Kurniawan. (Instagram/@jeromepolin)
Hitekno.com - Jagat media sosial Indonesia digemparkan oleh langkah berani content creator Jerome Polin yang secara terbuka menolak tawaran uang senilai Rp150 juta dari seorang oknum pejabat.
Tawaran tersebut diduga kuat merupakan upaya untuk 'membeli' suara Jerome Polin guna menciptakan narasi damai di tengah sorotan publik terhadap kasus tewasnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), yang terlindas mobil Brimob.
Keputusan Jerome Polin ini tidak hanya menunjukkan integritasnya, tetapi juga membongkar dugaan adanya operasi buzzer terkoordinasi yang menargetkan para influencer.
Langkah penolakan ini dibagikan sendiri oleh Jerome melalui sebuah unggahan tangkapan layar di akun Instagramnya, yang kemudian dengan cepat disebarkan kembali oleh rekan sesama content creator seperti Furky dan Leonardo Edwin.
Dalam bukti tersebut, terlihat jelas tawaran fantastis Rp150 juta untuk satu unggahan yang bertujuan meredam opini publik.
Jerome, sebagai lulusan Waseda University, merespons tawaran tersebut dengan keprihatinan mendalam terhadap kondisi bangsa dan menyerukan agar keadilan ditegakkan.
ikap kritis Jerome terpancar jelas dalam keterangan yang ia tulis pada unggahan tersebut. "Uang rakyat digunakan untuk membuat narasi seolah semuanya baik-baik saja.
Jangan sampai kita lengah atau terpecah belah. Terus kawal proses ini." Pernyataan ini menjadi tamparan keras, menyoroti dugaan penyalahgunaan dana publik untuk membentuk persepsi, sekaligus menjadi seruan agar masyarakat tetap fokus mengawal proses hukum kasus Affan Kurniawan.
Dugaan Operasi Terkoordinasi pada 1 September
Lebih jauh, pengungkapan Jerome juga menyingkap sebuah detail yang mengkhawatirkan: adanya dugaan operasi pembentukan opini yang terencana secara sistematis.
Baca Juga: 25 Kode Redeem FF 30 Agustus 2025, Shotgun M1014 Crimson Scorpio Jadi Incaran Utama
Oknum pejabat tersebut tidak hanya menawarinya uang, tetapi juga memberikan instruksi waktu yang spesifik.
"jika Jerome Polin bersedia memberikan suaranya, oknum pemerintah tersebut meminta agar ia memposting ajakan damai itu pada tanggal 1 September 2025 pukul 15.00, secara serentak bersama influencer lainnya."
Instruksi ini mengindikasikan adanya upaya untuk menciptakan gelombang "perdamaian" buatan secara masif dan serentak, melibatkan banyak influencer sekaligus untuk memaksimalkan dampaknya.
Hal ini memicu reaksi keras dari netizen, yang langsung bersiap untuk mengidentifikasi siapa saja yang akan mengikuti skenario tersebut.
Sebagai bentuk kritik sosial yang tajam, Jerome membandingkan nilai uang yang ditawarkan kepadanya dengan kebutuhan yang lebih mendesak.
Ia menekankan bahwa uang Rp150 juta tersebut "sebenarnya bisa digunakan untuk kesejahteraan 15 guru selama satu bulan," sebuah pernyataan yang menyoroti prioritas pengeluaran anggaran dan pentingnya transparansi.
Tidak berhenti di situ, Jerome bahkan mengajak para pengikutnya untuk menjadi bagian dari perlawanan narasi ini dengan menyediakan template Instagram Story khusus, memudahkan pesannya untuk disebarkan secara viral.
Aksi ini disambut dengan berbagai reaksi tegas dari netizen di kolom komentar, yang menunjukkan dukungan penuh terhadap sikap Jerome.
"Berarti yang tanggal 1 nanti tiba" gajak damai, kita tandain rame rame ya. Artinya apa? KOL/artis yang gak ada HARGA DIRI" tulis ghita*******a mengomentari unggahan tersebut.
"ga ikhlas dunia dan akhirat uang pajakku dipake untuk hal yang gak berguna gini. SAKIT (emoji menangis 3x)," tulis ferdi*****b menimpali.
"Lawan jer, orang exact itu lurus gk bisa 2x2 = 6 tetap 4 jer" ungkap suduts****.