Driver Ojek online (Ojol), Affan Kurniawan Tewas Dilindas Barracuda Brimob (Instagram.com)
Hitekno.com - Tunjukkan empati terhadap kematian driver ojek online (ojol), Affan Kurniawan malah berujung doxing, apakah ini termasuk bentuk pengancaman?
Beberapa pihak yang menunjukkan kepedulian dan empati atas meninggalnya Affan Kurniawan, ternyata justru menjadi sasaran doxing.
Tindakan ini menimbulkan pertanyaan serius, apakah penyebaran informasi pribadi mereka, tanpa izin, termasuk bentuk pengancaman atau intimidasi?
Kasus ini membuka diskusi tentang batasan ekspresi empati di media sosial dan pentingnya perlindungan data pribadi di era digital.
Sebuah postingan di X (sebelumnya Twitter) memicu kejadian yang kurang menyenangkan, di mana pemilik akun @cendoliciouz menjadi korban doxing oleh akun Instagram @lavenderx.s tanpa alasan yang jelas.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah tindakan tersebut merupakan upaya pengalihan isu, mengingat memanasnya kasus kematian Affan Kurniawan yang membuat posisi penegak hukum menjadi tertekan dan situasi publik semakin tegang?
Ketika akun Instagram @cendoliciouz memposting sebuah Story dengan keterangan: "AFAN KURNIAWAN DIBUNUH POLISI", pemilik akun @lavenderx.s membalas secara langsung dengan pesan doxing.
Pesan tersebut berisi berbagai data pribadi milik @cendoliciouz, termasuk nama asli, alamat domisili, alamat email, nomor NIK, nomor telepon, hingga tanggal lahir, yang dikirimkan langsung dari akun @lavenderx.s.
Tindakan ini menunjukkan pelanggaran privasi yang serius dan menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan data pribadi di media sosial.
Kejadian ini kemudian di-screenshot dan diunggah ke X dengan keterangan:
"Hi, ada yang pernah didoxxing di IG nggak? Kiranya what's the next move I should do? Because getting doxxed is not on my 2025 bingo list,"
Unggahan ini membuat netizen geram dan menuai banyak komentar. Beberapa warganet menulis di kolom komentar:
"Ngestalk akunnya, curiga itu akun dibeli sama Isilop karena isinya K-pop K-popan. Anyway, stay safe, kak!"
ungkap @spicyfire***.
Kejadian ini menyoroti bagaimana doxing di media sosial bisa memicu kemarahan publik, sekaligus menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan akun dan data pribadi pengguna.
Komentar lain juga muncul dari warganet yang berbagi pengalaman serupa. Salah satunya, @nasnau*** menulis:
"Kak, percayalah, mereka pakai jasa orang. Aku juga pernah didoxxing beberapa kali sampai pacarku di-chat orang yang nanya-nanya tentang aku. Aku iseng DM orang yang doxxing aku pakai akun lain, taunya dia cuma pakai jasa orang doang wkwkwkwkw."
Bahkan, beberapa warganet membagikan tips agar akun instagram atau X lebih sulit didoxing. Salah satunya, @NasiPecel_E***** menulis:
"– Tenang
– Kamu dilindungi secara hukum
– Keluar dari semua Wi-Fi publik yang kamu pakai, ganti password akun, dll
Ini hanya gertakan saja. Serius. Mereka nggak punya power apa-apa."
Tips ini menekankan pentingnya tetap tenang dan menjaga keamanan akun, serta menyadarkan pengguna bahwa banyak ancaman doxing sebenarnya tidak memiliki kekuatan nyata jika langkah-langkah pencegahan diterapkan dengan benar.
Komentar ini menunjukkan bahwa praktik doxing sering melibatkan pihak ketiga, sehingga membuat korban semakin waspada dan menekankan pentingnya keamanan data pribadi di media sosial.
Banyak pihak yang menilai bahwa aksi doxing ini kemungkinan hanyalah upaya pengalihan isu, agar perhatian publik dari kasus demo di Gedung DPR dapat teralihkan.
Beberapa orang menduga bahwa hal ini merupakan strategi oknum tertentu, yang menggunakan pihak ketiga dan akun palsu (fake account) untuk menciptakan ancaman atau intimidasi terhadap korban.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terkait manipulasi informasi di media sosial dan bagaimana oknum tertentu bisa memanfaatkan platform digital untuk tujuan tersembunyi.