Studi Kaspersky Ungkap Banyak Eksekutif Perusahaan Tak Paham Keamanan Siber, Ini Penyebabnya

Lebih dari separuh eksekutif kurang yakin bahwa anggaran siber mereka dialokasikan untuk risiko paling signifikan.

Rezza Dwi Rachmanta
Selasa, 28 Februari 2023 | 19:58 WIB
Logo Kaspersky. (Kaspersky.com)

Logo Kaspersky. (Kaspersky.com)

Hitekno.com - Penelitian Kaspersky terbaru mengungkap bahwa banyak eksekutif perusahaan yang tak paham mengenai istilah keamanan siber. Studi ini melibatkan ratusan eksekutif perusahaan di wilayah Asia Tenggara.

Penelitian menyebutkan bahwa satu dari 10 manajer C-level belum pernah mendengar tentang ancaman keamanan siber seperti eksploitasi Botnet, APT, dan Zero-Day.

Mereka juga tak terbiasa dengan konsep keamanan siber seperti DecSecOps, ZeroTrust, SOC, dan Pentesting.

Baca Juga: 10 Fitur WhatsApp Web yang Harus Kamu Ketahui, Memudahkan!

Menurut studi PwC, lebih dari separuh eksekutif kurang yakin bahwa anggaran siber mereka dialokasikan untuk risiko paling signifikan terhadap organisasi mereka.

Kaspersky melakukan penelitian mereka sendiri untuk membantu TI dan C-level menemukan titik temu dan menggali akar kesalahpahaman mereka, di mana total 300 eksekutif dari wilayah Asia Tenggara disurvei.

Ilustrasi keamanan siber. (Dell ologies)
Ilustrasi keamanan siber. (Dell ologies)

Jajak pendapat Kaspersky menunjukkan bahwa C-level terkadang kesulitan untuk memahami rekan keamanan TI mereka dan tidak selalu siap untuk menunjukkan kebingungan mereka.

Baca Juga: Deretan Situs untuk Cari Chord Gitar yang Populer di Indonesia

Oleh karena itu, 26 persen eksekutif non-TI di sini mengatakan bahwa mereka merasa tidak nyaman menunjukkan bahwa mereka tidak memahami sesuatu selama berdiskusi dengan TI dan keamanan TI.

Sebagian besar menyembunyikan kebingungan karena mereka lebih suka mengklarifikasi semuanya setelah rapat atau memilih untuk mencari tahu semuanya sendiri.

Lebih dari setengah (55 persen) tidak mengajukan pertanyaan tambahan karena mereka tidak yakin rekan TI dapat menjelaskannya dengan cara yang jelas.

Baca Juga: Ini 6 Tips untuk Mencegah Ponsel Androidmu Kena Virus

Hampir dua dari lima juga merasa malu mengungkapkan bahwa mereka tidak memahami topik dan 42 persen enggan ingin terlihat tidak peduli di depan rekan TI mereka.

Ilustrasi keamanan siber. (Pixabay/geralt)
Ilustrasi keamanan siber. (Pixabay/geralt)

Selain itu, meskipun semua manajer puncak yang disurvei dari Asia Tenggara secara rutin mendiskusikan masalah terkait keamanan dengan manajer keamanan TI, lebih dari satu dari 10 responden belum pernah mendengar tentang ancaman seperti eksploitasi Zero-Day (11 persen), Botnet (9 persen), dan APT (9 persen).

Pada saat yang sama, Spyware, Malware, Trojan, dan Phishing tampaknya lebih familiar bagi manajer puncak.

Baca Juga: Ilmuwan Temukan Dua Virus yang Bergabung Jadi Jenis Hybrid, Bisa dengan Mudah Lolos dari Sistem Kekebalan

Lebih dari satu dari sepuluh manajer puncak di sini mengakui bahwa mereka belum pernah mendengar istilah keamanan siber seperti DecSecOps (10 persen), SOC (10 persen), Pentesting (10 persen), dan ZeroTrust (6 persen).

Manajemen puncak non-TI tidak harus ahli dalam terminologi dan konsep keamanan siber yang kompleks, dan eksekutif keamanan TI harus mengingat hal ini saat berkomunikasi dengan dewan direksi,” komentar Sergey Zhuykov, Arsitek Solusi di Kaspersky.

Menurutnya, hanya 6 persen profesional keamanan TI di Asia Tenggara yang mengaku menghadapi kesulitan dalam mendiskusikan aspek pekerjaan mereka kepada C-level.

"Untuk menjembatani kesenjangan yang berbahaya ini, tim keamanan juga harus menggabungkan alat yang efektif – contoh kehidupan nyata dan penggunaan laporan dan angka – untuk memastikan bahwa diskusi dilakukan secara efektif,” tambah Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky. (Suara.com/ Dythia Novianty)

Berita Terkait
TERKINI

Apa saja yang baru dalam update WhatsApp ini?...

internet | 10:10 WIB

Rencana Transaksi ini masih dalam tahap evaluasi awal, di mana Axiata dan Sinar Mas memiliki tujuan untuk tetap menjadi ...

internet | 10:12 WIB

Selain di Jakarta, Nobar Warga Grab tahun ini juga diadakan di Malang, Samarinda, Kediri, Gorontalo, Mataram, Pontianak,...

internet | 10:36 WIB

Dell APEX Cloud Platform for Red Hat OpenShift ini merupakan hasil kerja sama Dell dan Red Hat....

internet | 10:34 WIB

Garmin Run ini akan berlangsung pada 29 September 2024 mendatang di ICE BSD, Tangerang....

internet | 10:25 WIB

Jaringan internet yang ditawarkan HSPnet berkapasitas tinggi hingga 6 Tb/s....

internet | 10:48 WIB

Intel juga mengumumkan jajaran sistem-sistem AI baru yang skalabel dan terbuka, produk-produk generasi berikutnya dan ko...

internet | 18:50 WIB

Seluruh transaksi di acara JakCloth Ramadan 2024 akan menggunakan QRIS dan transfer bank melalui BI FAST....

internet | 14:12 WIB

PointStar menyatakan dukungannya terhadap misi pemerintah dengan memungkinkan integrasi seluruh proses bisnis organisasi...

internet | 17:09 WIB

Grab menjadi perusahaan teknologi pertama yang menerima Sertifikat Penetapan Program Kepatuhan Persaingan Usaha dari KPP...

internet | 17:15 WIB

Seminar di UI memfokuskan pada perkembangan terkini dalam ilmu data, komputasi super, AI generatif, dan etika AI....

internet | 21:26 WIB

Dalam acara ini, peserta bertukar pendapat mengenai tren saat ini dan prospek masa depan AI dalam pendidikan....

internet | 16:31 WIB

Aplikasi Merchant BCA ini didesain sebagai solusi untuk memberdayakan bisnis dari berbagai skala....

internet | 09:36 WIB

Keberadaan CCTV selama ini nyatanya tak cukup mencegah aksi kejahatan....

internet | 12:24 WIB

Berdasarkan feedback pengguna, Samsung akan menyediakan opsi dan pengalaman yang semakin ditingkatkan melalui SamsungGal...

internet | 20:46 WIB

Nuon Digital Indonesia menjajakibisnis baru dan melakukan inovasi pada produk-produk andalannya....

internet | 17:48 WIB

Perubahan nama ini merupakan langkah strategis Google untuk menggabungkan chatbot Bard dan layanan AI lainnya di bawah s...

internet | 18:15 WIB
Tampilkan lebih banyak