Sains

Penjelasan BKMG Soal Suhu Dingin Akhir-akhir Ini, Tak Terkait Aphelion

Suhu dingin akhir-akhir ini bukan karena fenomena aphelion.

Agung Pratnyawan

Logo BMKG. (BMKG)
Logo BMKG. (BMKG)

Hitekno.com - Apakah kamu merasakan suhu dingin akhir-akhir ini? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebabya. Menurut BMKG, hal ini tidak terkait dengan fenomena aphelion.

BMKG menjelaskan kalau suhu dingin yang juga disebut sebagai bediding dalam bahasa Jawa merupakan hambusan angin dari Australia, bukan karena fenomena aphelion.

BMKG, lewat akun Instagram-nya Kamis (15/7/2021) membeberkan bahwa suhu udara dingin merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau, di periode Juli - September.

"Saat ini wilayah Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau, pada periode ini ditandai oleh pergerakan angin bertiup dominan dari arah Timur yang berasal dari Benua Australia," jelas BMKG.

Sementara aphelion adalah fenomena saat matahari berada di titik terjauhnya dari Bumi. Aphelion terjadi pada 6 Juli lalu. Ketika itu jarak matahari dari Bumi sekitar 152.100.527 km.

Menurut BMGK aphelion tidak memiliki efek signifikan terhadap suhu muka Bumi dan termasuk pada suhu di Indonesia yang berada di daerah khatulistiwa.

Suhu dingin belakangan ini dipicu oleh angin dari Australia, benua di tenggara Indonesia yang sedang mengalami musim dingin.

Penjelasan BMKG soal suhu dingin akhir-akhir ini. (BMKG)
Penjelasan BMKG soal suhu dingin akhir-akhir ini. (BMKG)

"Pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia (dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia)," beber BMKG.

Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin.

Selain itu, berkurangnya awan dan hujan juga membuat suhu semakin dingin. Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas, sehingga, rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.

"Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan," jelas BMKG.

Selain itu kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara.

Itulah penjelasan BMKG suhu dingin akhir-akhir ini bukan karena fenomena aphelion melainkan karena angin dari Australia yang sedang musim dingin. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait