Internet

Cegah Hoaks Selama Pandemi, WhatsApp Akui Hapus 2 Juta Akun Tiap Bulan

Hal ini dilakukan demi mencegah penyebaran hoaks terkait pandemi Covid-19.

Dinar Surya Oktarini

Ilustrasi WhatsApp. (unsplash/Jamie Street)
Ilustrasi WhatsApp. (unsplash/Jamie Street)

Hitekno.com - Aplikasi pesan instan WhatsApp mengungkapkan telah menghapus 2 juta akun tiap bulan untuk mencegah penyebaran hoaks terkait pandemi Covid-19 yang beredar di aplikasinya. 

WhatsApp mengungkap telah menghapus 2 juta akun pengguna setiap bulan. Hal ini dilakukan demi mencegah penyebaran hoaks terkait pandemi Covid-19 yang muncul di aplikasinya.

"Whatsapp sudah menonaktifkan rata-rata 2 juta akun setiap bulan. Sebanyak 75 persen di antaranya tidak ada komplain dari pengguna," ungkap Esther Samboh selaku Manajer Kebijakan Publik WhatsApp Indonesia dalam konferensi pers virtual, Rabu (17/3/2021).

Menurut Esther, dari total 2 juta akun yang diblokir, hanya 25 persen pengguna yang komplain ke WhatsApp dan meminta pemulihan akun.

Artinya, 75 persen akun tersebut memang sengaja dibuat untuk menyebarkan hoaks dan berita bohong.

Tak hanya disinformasi, WhatsApp juga sering menemukan bentuk penipuan yang tersebar di aplikasi.

Esther mengatakan, kejahatan digital yang saat ini terpantau adalah pemalsuan identitas dengan menggunakan foto profil orang lain demi menipu korban.

Esther Samboh selaku Manajer Kebijakan Publik WhatsApp Indonesia dalam konferensi pers virtual, Rabu (17/3/2021). [Screenshot/Dicky Prastya]
Esther Samboh selaku Manajer Kebijakan Publik WhatsApp Indonesia dalam konferensi pers virtual, Rabu (17/3/2021). [Screenshot/Dicky Prastya]

Untuk mencegahnya, WhatsApp kini memiliki beberapa fitur yang bisa melindungi privasi pengguna.

Dia mencontohkan, pengguna bisa mengubah opsi pengaturan yang sudah disediakan WhatsApp.

"Misalnya, di pengaturan WhatsApp kalian bisa klik kolom Akun dan pilih Privasi. Di sana pengguna bisa mengutak-atik beberapa pilihan seperti opsi last seen, laporan dibaca atau centang biru, hingga invite grup," katanya.

Kemudian, Esther juga menyarankan agar pengguna lebih jeli dalam melihat informasi yang disebarkan di grup atau chat pribadi.

Jika mereka menemukan tanda panah 'Diteruskan' atau "Diteruskan hingga berkali-kali", maka pengguna mesti kembali mengecek kebenaran informasi tersebut.

"Artinya, pesan dengan logo ini berarti disebarkan bukan dari orang terdekat pengguna. Nyatanya, upaya ini terbukti cukup efektif karena bisa menekan penyebaran pesan hingga 75 persen," pungkasnya.

Selain itu, WhatsApp juga telah memberikan fitur blokir akun atau laporkan.

Ilustrasi WhatsApp. [Tumisu/Pixabay]
Ilustrasi WhatsApp. [Tumisu/Pixabay]

Menurut Esther, jika pengguna memang mendapatkan pesan dari seseorang tak dikenal dan kemungkinan menyebar berita hoaks, mereka bisa memanfaatkan fitur tersebut.

"Dengan fitur ini, diharapkan pengguna WhatsApp tetap nyaman saat menggunakan aplikasi pesan instan ini menghindari penyebaran berita hoaks," katanya. (Suara.com/Dicky Prastya)

Berita Terkait