Gadget

Eksperimen Ilmiah, 15 Orang Ini Dikurung di Dalam Gua Tanpa HP

15 orang secara sukarela dikurung di dalam gua di Prancis selama 40 hari.

Dinar Surya Oktarini

Ilustrasi smartphone. (Pixabay/relexahotels)
Ilustrasi smartphone. (Pixabay/relexahotels)

Hitekno.com - Sebuah eksperimen ilmiah, tim yang terdiri dari 15 orang secara sukarela dikurung di dalam gua di Prancis selama 40 hari tanpa ponsel dan jam tangan. 

Eksperimen ekstrem ini untuk memahami ''waktu yang dalam''.

Kelompok tersebut terdiri dari delapan lelaki dan tujuh perempuan yang memiliki berbagai latar belakang, mendaftarkan diri dalam proyek yang disebut Deep Time, untuk menyelidiki efek kehilangan jejak waktu pada tubuh manusia.

Para peserta dikurung di dalam Gua Lombrives di Ariège yang tidak memiliki cahaya sama sekali. Semua orang tidak memiliki akses untuk menggunakan smartphone, jam tangan, atau cara apa pun untuk mengetahui waktu dari dunia luar.

Kelompok tersebut mengklaim berusaha untuk mempelajari hubungan antara otak dan waktu serta dengan kapasitas sinkronisasi fungsional dalam suatu kelompok.

"Kehilangan waktu adalah disorientasi terbesar yang pernah ada. Aspek inilah yang ingin dipahami oleh misi Deep Time dengan lebih baik. Karena sampai hari ini, kita tidak tahu bagaimana sistem kognitif kita memahami dan mengelola kontinuitas tak terbatas ini," tulis situs web eksperimen tersebut.

Dilansir dari Metro, Senin (22/3/2021), kelompok tersebut memasuki gua pada 15 Maret akan tetap berada di dalamnya selama 40 hari hingga keluar pada 22 April mendatang.

Ilustrasi gua. [Shutterstock]
Ilustrasi gua. [Shutterstock]

Meskipun eksperimen dilakukan dalam kegelapan total, kelompok tersebut tetap memiliki dinamo yang digerakkan dengan pedal untuk memberikan penerangan dalam keadaan darurat serta empat ton persediaan makanan dan perlengkapan lainnya.

Selain itu, setiap orang telah dilengkapi dengan sensor sehingga para ahli di luar gua dapat memantau bagaimana para peserta beradaptasi dengan kehidupan di dalam gua.

Pengukuran juga akan dicatat dari para peserta selama dua tahun setelah mereka keluar dari gua.

Misi tersebut tampaknya terinspirasi dari pengalaman pemimpin kelompok Christian Clot yang terisolasi selama pandemi Covid-19, serta oleh sesama orang Prancis bernama Michel Siffre, yang menghabiskan waktu lama di bawah tanah dalam serangkaian eksperimen terkenal pada tahun 1970-an.

"Eksperimen ini adalah yang pertama di dunia. Sampai sekarang, semua misi jenis ini berfokus pada studi tentang ritme fisiologis tubuh, tetapi tidak pernah pada fungsi kognitif dan emosional manusia," kata Profesor Etienne Koechlin, ahli saraf.

Temuan dari eksperiman tersebut diharapkan dapat membuat penemuan ilmiah yang bisa membantu misi luar angkasa di masa depan, awak kapal selam dan kru pertambangan, atau lingkungan apa pun di mana manusia harus menghabiskan waktu lama di ruang tertutup. (Suara.com/Lintang SIltya Utami)

Berita Terkait