Gadget

Susul LG, Samsung Mobile Bersiap Cabut dari China

Sebelumnya LG sudah lebih dulu cabut dari China, apakah Samsung akan menyusulnya?

Agung Pratnyawan

DJ Koh, memperkenalkan Samsung Galaxy Fold pada Februari 2019. [Samsung Newsroom]
DJ Koh, memperkenalkan Samsung Galaxy Fold pada Februari 2019. [Samsung Newsroom]

Hitekno.com - Pasar smartphone di China memang sangat ketat. Bahkan pabrikan smartphone raksasa seperti Samsung susah untuk bersaing di China.

Saking susahnya, Samsung Mobile menunjukkan tanda-tanda untuk cabut dari China. Hal ini dimulai dari pengurangan tenaga kerja mereka di China.

Mengutip dari Gizchina, menyebutkan kalau fasilitas produksi Samsung Mobile Huizhou menutup penerimaan karyawan baru sejak awal Maret 2019.

Mengejutkannya, menurut laporan terbaru menyebutkan kalau fasilitas produksi Samsung di Huizhou ini bakal ditutup pada September 2019.

Kabar ini muncul dari seorang karyawan Samsung Mobile yang diduga dari fasilitas produksi di Huizhou. Ia mengucapkan terima kasih kepada perusahaan tempatnya bekerja.

"Terima kasih kepada perusahaan telah melakukan segalanya demi kami, saya berharap semuanya dapat menemukan pekerjaan pengganti, ayo! ayo!" komentar karyawan yang tak disebutkan namanya.

Samsung Mobile sendiri mendirikan fasilitas produksi Huizhou ini sejak 1992 yang lalu di kota Chenjiang, distrik Huicheng, China.

Gedung Samsung Campus. (Samsung)
Gedung Samsung Campus. (Samsung)

 

Fasilitas ini menjadi tempat produksi utama smartphone Samsung di China setelah mereka menutup fasilitas di Tianjin pada 2018 kemarin.

Dan Huizhou menjadi fasilitas produksi smartphone Samsung terakhir di China. Jika fasilitas ini ditutup, makan dengan resmi Samsung mobile cabut dari China.

Sebelum Samsung, sudah ada LG dan Sony yang lebih dulu mengundurkan diri dari pasar smartphone China. Keduanya memilih pasar lain yang lebih sesuai.

Selain di China, Samsung Mobile sendiri memiliki fasilitas produksi di India dan Vietnam yang cukup besar. Dan dua pasar ini menjadi target baru Samsung setelah gagal di China.

Berita Terkait