Internet

China Kuak Serangan Siber oleh Amerika, Instansi Pendidikan Jadi Incaran

Senjata siber Amerika ini sangat tersembunyi karena dapat dengan mudah berbaur dengan 'lingkungan' baru.

Cesar Uji Tawakal

Ilustrasi hacker. (Pexels/Sora Shimazaki)
Ilustrasi hacker. (Pexels/Sora Shimazaki)

Hitekno.com - Dinas intelijen Amerika Serikat menggunakan senjata siber yang tersembunyi dan mudah beradaptasi untuk meretas salah satu universitas top China, media lokal melaporkan pada hari Selasa (13/9/2022).

Dilansir dari Russia Today, para ahli China telah ngungkap senjata siber yang diduga digunakan oleh Office of Tailored Access Operation (TAO), unit rahasia Badan Keamanan Nasional AS, dalam serangan di Northwestern Polytechnical University.

Pada 5 September, Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional China mengungkapkan hasil penyelidikan terhadap serangkaian serangan siber terhadap universitas yang didanai negara, yang berspesialisasi dalam penelitian aeronautika dan ruang angkasa.

Pada saat itu, pihak berwenang mengatakan bahwa TAO menggunakan lebih dari 40 senjata serangan siber khusus NSA yang berbeda untuk mencuri data universitas.

Menurut para ahli yang diwawancarai oleh Global Times, unit cyberwarfare NSA terutama mengandalkan apa yang disebut alat "minum teh" yang ditanamkan ke dalam jaringan internal universitas.

Ini diduga memungkinkan pelakunya untuk mencuri kata sandi manajemen jarak jauh dan layanan transfer file jarak jauh, dan mendapatkan akses Intranet. Akibatnya, segudang besar data sensitif dicuri.

Ilustrasi hacker. (Listverse)
Ilustrasi hacker. (Listverse)

Salah satu sumber outlet menjelaskan bahwa "minum teh" adalah alat yang sangat tersembunyi karena dapat dengan mudah berbaur dengan lingkungan baru.

Setelah ditanamkan, spyware ini menyamar sebagai proses layanan latar belakang biasa, yang membuatnya sangat sulit untuk dideteksi, kata pakar dunia maya itu.

Program ini disebut dapat memantau data yang dimasukkan oleh pengguna melalui panel kontrol, memungkinkan dia untuk melihat semua nama akun dan kata sandi.

“Begitu TAO memperoleh nama pengguna dan kata sandi ini, mereka dapat digunakan untuk melakukan serangan tahap berikutnya untuk membantu kantor mencuri file dari server atau menyediakan senjata siber lainnya,” kata para ahli kepada surat kabar tersebut.

Lebih dari 140 GB data bernilai tinggi telah dicuri oleh Amerika Serikat, menurut Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional China. NSA dan Departemen Luar Negeri enggan berkomentar terkait tuduhan tersebut.

Berita Terkait