Internet

Merasa Gagal dan DO dari Kampus, Pendiri Twitter Kini Berharta Rp 174 T

Jack Dorsey menekuni banyak hal sebelum ia akhirnya berhasil mendirikan Twitter.

Rezza Dwi Rachmanta

CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)
CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)

Hitekno.com - Pantang menyerah dan terus berusaha rupanya merupakan hal baik yang bisa dipetik dari kesuksesan sang pendiri Twitter, Jack Dorsey. Pernah drop out (DO) dari kampus dan menekuni banyak hal, Jack Dorsey kini masuk dalam 500 besar orang terkaya di dunia.

Melalui Bloomberg Billionaire Index, Jack Dorsey tercatat menempati urutan ke-181 dengan harta 12,4 miliar dolar AS atau Rp 176,3 triliun (daftar peringkat hingga 14 Juni 2021).

Rupanya Jack Dorsey pernah merasa sebagai sosok yang gagal sebelum dirinya berhasil mengembangkan Twitter.

Bahkan cuitan pertamanya di Twitter telah laku 2,9 juta dolar atau Rp 41,2 miliar. "Just setting up my twttr," cuit Jack Dorsey untuk mengetes platform jejaring sosial yang berhasil dibuatnya.

Kalimat tersebut diunggah pada 21 Maret 2006 dan termasuk cuitan bersejarah di Twitter. Jack Dorsey tak menyelesaikan kuliah dan tercatat drop out dari Missouri University dan New York University.

CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)
CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)

Dikutip dari CNBC, Dorsey keluar dari New York University dan dipecat dari perusahaannya sendiri (perusahaan online untuk pengiriman taksi dan jasa kurir).

Akhirnya dia pindah ke St. Louis, Missouri, Amerika Serikat, tempat di mana ia dibesarkan. "Saya merasa gagal," kata Dorsey kepada The New Yorker. Jack Dorsey rupanya menekuni banyak hal di St. Louis, termasuk ilustrasi botani dan terapi pijat.

Dorsey ”sangat senang mengunjungi Missouri Botanical Garden, tempat dia melakukan studi menggambar pohon beringin, dengan akarnya yang bercabang”, lapor The New Yorker.

Dirinya langsung membuang gagasan menjadi tukang pijat setelah kembali ke San Francisco dan menemukan bahwa “semua orang adalah terapis pijat.”

Ilustrasi Twitter. (Unsplash/ Yucel Moran)
Ilustrasi Twitter. (Unsplash/ Yucel Moran)

Dorsey juga tertarik pada dunia desain fashion. Ia mengagumi karya pembuat jeans Scott Morrison, pendiri merek jeans seperti Paper Denim & Cloth.

Ketika mengamati pesan instan, Dorsey bertanya-tanya apakah keluaran status pengguna dapat dibagikan dengan mudah di antara teman-teman.

Kemudian Dorsey bersama Biz Stone (pendiri Twitter lainnya) memutuskan bahwa teks SMS sesuai dengan ide pesan status dan membangun prototipe Twitter selama dua minggu.

Ilustrasi Twitter. (Pixabay/edar)
Ilustrasi Twitter. (Pixabay/edar)

Dalam buku berjudul "Hatching Twitter: A True Story of Money, Power, Friendship, and Betrayal" yang ditulis oleh Nick Bilton pada 2013, Dorsey masih menyukai banyak hal ketika berhasil membuat Twitter.

Selama hari-hari awalnya sebagai CEO Twitter, Dorsey mengambil kelas desain fashion di Apparel Arts, sebuah sekolah desain di San Francisco.

Dorsey meninggalkan kantor Twitter sekitar jam 6 sore untuk kelas menggambar, sesi yoga, dan kursus di sekolah mode lokal. Pada suatu waktu, pendiri lain serta sosok yang berpengaruh pada investasi Twitter, Evan Williams pernah memberikan tawaran cukup menohok kepada Dorsey.

"Anda bisa menjadi penjahit atau CEO Twitter. Tapi Anda tidak bisa menjadi keduanya," kata Evan Williams. Meski begitu, Jack Dorsey mengaku bahwa dirinya masih serius mengerjakan proyek Twitter di malam hari.

Pada suatu waktu, Dorsey pernah mengatakan bahwa dirinya bisa bekerja 10 hingga 16 jam untuk mengerjakan suatu proyek. Beberapa kali mengalami kegagalan hingga DO dari kampus, Jack Dorsey membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi CEO Twitter dan masuk dalam daftar 500 orang terkaya di dunia.

Berita Terkait