Ide Gila, Microsoft Tenggelamkan Data Center ke Laut

Microsoft membuat ide yang gila dengan menenggelamkan data centernya ke laut. Alasan di balik itu ternyata cukup cerdas dan menarik untuk disimak.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta

Posted: Senin, 11 Juni 2018 | 13:55 WIB
Sumber: news.microsoft.com/ photo by Scott Eklund

Sumber: news.microsoft.com/ photo by Scott Eklund

Hitekno.com - Microsoft membuat gebrakan ide yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Data center yang terdiri dari 864 server dan 27,6 petabyte penyimpanan ditenggelamkan oleh Microsoft ke dalam laut.

Data center biasanya akan menghasilkan panas yang berlebih sehingga banyak perusahaan teknologi yang mencoba memindahkannya ke negara-negara yang lebih dingin untuk menghemat tagihan energi.

Microsoft mencoba memecahkan masalah tersebut dengan membuat sebuah proyek penelitian.

Proyek tersebut dikenal sebagai Project Natick. Penelitian ini dimulai pada tahun 2015 dengan menenggelamkan data center mereka di pantai California selama lima bulan.

Data center bawah laut saat ini akan digunakan selama lima tahun, mencakup 864 server dan data penyimpanan sebesar 27,6 petabyte.

Data center tersebut setara dengan data file sekitar 5 juta film dan tenaganya setara dengan ribuan PC dekstop kelas atas.

sumber: microsoftSumber: Microsoft

Data center akan didukung oleh kabel bawal laut dan energi terbarukan dari kepulauan Orkney. Kabel juga akan menghubungkan server ke internet.

Microsoft akan memanfaatkan teknologi dari kapal selam dan bekerja dengan teknologi pengolah energi dalam laut untuk fase awal dari proyek ini.

Microsoft percaya diri dapat mengembangkan data center bawah laut secara mandiri yang dapat memberikan layanan awan secepat kilat ke kota-kota pesisir.

Baca Juga: Bixi, Kontroler Perangkat Pintar Hanya dengan Lambaian Tangan

Dilasir dari website resmi microsoft, selain untuk menghemat energi, proyek Natick juga diharapkan dapat mengirim data secara efisien ke pengguna datanya. Lebih dari setengah populasi dunia hidup di sekitar 120 mil dari pantai.

Dengan menempatkan data center di perairan dekat kota-kota pesisir, data akan memiliki jarak yang pendek dalam melakukan perjalanan untuk menjangkau masyarakat pesisir.

sumber: microsoftSumber: Microsoft

Hal tersebut berarti koneksi dapat cepat dan lancar dalam browsing web, streaming video, bermain game maupun pengalaman yang lebih baik ketika menggunakan aplikasi AI-driven.

“Itu adalah semacam tuntutan yang gila untuk dibuat,” kata Peter Lee, wakil presiden perusahaan dari Microsoft AI and Research.

Samudra di dunia secara terus menerus mempunyai suhu yang dingin, menawarkan akses yang siap dan gratis untuk pendinginan.

Biaya terbesar bagi data center yang berada di darat adalah tagihan energi untuk mendinginkan data center yang memiliki suhu panas berlebih.

sumber: microsoftSumber: Microsoft

Data center bawah laut juga bisa berfungsi sebagai pengguna terbesar energi terbarukan.

Microsoft bisa menjadi penyewa terbesar energi terbarukan dengan memakai tenaga kincir yang memanfaatkan angin di lepas pantai.

Tim Project Natick akan menghabiskan 12 bulan berikutnya untuk memantau dan merekam kinerja data center, mengawasi segala sesuatu mulai dari konsumsi daya dan tingkat kelembapan internal hingga tingkat suara dan suhu.

Berikut terdapat video proyek Natick dari Microsoft:


(Sumber: Youtube.com/Microsoft Research

  

Hitekno.com/ Rezza Dwi Rachmanta 

Berita Terkait Berita Terkini

WhatsApp menghadirkan fitur bantuan penulisan AI....

internet | 17:37 WIB

Cara mudah untuk mengatasi aplikasi yang tidak kompatibel di HP Android....

internet | 16:29 WIB

Nama Gedung DPR di Google Maps berubah menjadi Gedung Beban Negara....

internet | 16:07 WIB

Cara mudah untuk menggunakan VPN dengan aman....

internet | 15:27 WIB

Publik kritik sikap Deddy Corbuzier soal kondisi Indonesia saat ini....

internet | 14:48 WIB