Sains

Cara China Manipulasi Cuaca Bikin Negara Tetangga Resah, Kenapa?

Apa yang dilakukan China hingga negara lain khawatir?

Agung Pratnyawan

Ilustrasi cuaca. (Unsplash/david clarke)
Ilustrasi cuaca. (Unsplash/david clarke)

Hitekno.com - Manipulasi cuaca banyak dilakukan dengan berbagai cara, termasuk pemanfaatan teknologi. Namun apa yang dilakukan pemerintah China dianggap salah satu yang sukses dan dapan diandalkan.

Bagaimana China bisa melakukannya? Bukan menggunakan dukun pawang hujan, melainkan metode penyemaian awan atau cloud seeding yang sudah dikenal dalam teknologi manipulasi cuaca.

Namun negara ini menggunakan cara yang dianggap cukup ekstrem, yakni dengan mengerahkan alat-alat seperti roket dan meriam.

Melansir dari bbc.com -- jaringan suara.com Kamis, (18/2/2021), roket dan meriam merupakan alat-alat yang digunakan dalam menjalankan program manipulasi cuaca China.

Dengan bantuan manipulasi cuaca, Beijing yang merupakan salah satu kota dengan polusi terparah di dunia, langitnya bisa tiba-tiba cerah ketika ada acara kenegaraan penting.

China juga merencanakan perluasan wilayah manipulasi cuaca. Hal itu disampaikan pada 2 Desember 2020 melalu pernyataan dari Dewan Negara. 

Program tersebut, dalam pernyataan itu, disebutkan akan bermanfaat untuk penanganan bencana, mendukung sektor pertanian,  membantu penanganan kebakaran hutan atau padang rumput, serta saat kekeringan, meskipun pihak berwenang tidak memberikan banyak rincian.

Ilustrasi langit biru dengan awan putih. (Pixabay)
Ilustrasi langit biru dengan awan putih. (Pixabay)

 

Program manipulasi cuaca yang diterapkan oleh China ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi negara tetangga. Salah satunya iaalah India.

Manipulasi cuaca tersebut dikhawatirkan memberi dampak pada perubahan musim panas di negara yang berbatasan langsung dengan China tersebut.

"Salah satu kekhawatirannya adalah apakah teknologi ini akan berdampak pada perubahan musim panas di India, yang juga merupakan kunci bagi seluruh wilayah. Namun tidak banyak penelitian terkait hal ini," kata Dhanasree Jayaram, pakar iklim dari Manipal Academy of Higher Education di Karnataka, India, kepada BBC.

"(Metode ini juga digunakan) Di sub-Sahara Afrika dan timur laut benua, di mana terjadi kekeringan yang sangat bermasalah, atau juga Australia, misalnya." lanjutnya.

Bukan hanya itu, kurangnya koordinasi kegiatan manipulasi cuaca dapat menyebabkan tuduhan 'pencurian hujan' antar negara tetangga. Hal itu disampaikan oleh Peneliti dari National Taiwan University dalam laporan yang diterbitkan pada 2017 lalu.

Itulah laporan terbarud dari metode manipulasi cuaca China yang membuat negara lain khawatir karena berdampak pada perubahan musim di wilayah lain. (Suara.com/ Aprilo Ade Wismoyo).

Berita Terkait