Sains

Ilmuwan Tak Sengaja Lakukan Rekayasa Genetika Pada Tikus, Ini Hasilnya

Ilmuwan dapat merekayasa seperti apa bentuk tikus nantinya.

Agung Pratnyawan | Amelia Prisilia

Ilustrasi tikus. (Pixabay)
Ilustrasi tikus. (Pixabay)

Hitekno.com - Jutaan tikus belum lama ini digunakan dalam sebuah penelitian ilmiah yang melibatkan rekayasa genetika. Hasil dari penelitian ini sukses menciptakan sebuah tikus dengan bentuk yang dapat mereka rekayasa.

Menurut salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Development Cell, gen yang dikenal dengan kode nama LIN28B ini mempengaruhi karakteristik metabolisme dan ukuran tubuh sehingga menghasilkan bentuk yang mereka inginkan.

"Jaringan pengatur yang sama, mengendalikan mekanisme yang mengatur bagaimana pola tubuh terbentuk, yang sering dikooptasi untuk berkembangan lainnya," ujar Moises Mallo, peneliti di Instituto Gulbenkian de Ciencia di Lisbon, Portugal.

Mallo menambahkan, mempelajari jaringan ini dapat memberi informasi yang relevan untuk memahami proses perkembangan lainnya.

Salah satu timnya sedang mencoba memodelkan tumor ginjal dengan mengendalikan ekspresi gen, yakni proses di mana kode genetik digunakan untuk mengarahkan produksi protein atau molekul lain dari LIN28B.

Manipulasi genetik tikus. (AIRES ET AL/DEVELOPMENTAL CELL)
Rekayasa genetika tikus. (AIRES ET AL/DEVELOPMENTAL CELL)

 

"Apa yang kami temukan adalah bahawa hewan-hewan dengan gen yang diekspresikan berlebihan ini memiliki ekor yang sangat panjang," kata Daisy Robinton, penulis dari Harvard, kepada Newsweek.

Menurut Robinton, tak perlu membuat genotipe untuk mengetahui bahwa tikus-tikus telah mengaktifkan gen ini. Sementara hasil ini merupakan penemuan rekayasa genetika yang tak disengaja.

"Penemuan ini merupakan hasil yang tak terduga dan tak disengaja, tetapi menyenangkan. Kami menyadari betapa pentingnya pekerjaan ini, karena penemuan seperti ini tak pernah dijelaskan di dunia hewan mana," jelas Daisy Robinton.

Manipulasi genetik tikus. (AIRES ET AL/DEVELOPMENTAL CELL)
Rekayasa genetika tikus. (AIRES ET AL/DEVELOPMENTAL CELL)

 

Tim lain arahan Mallo, yang sedang menyelidiki gen GDF11, diketahui memicu perkembangan ekor embrio sebuah tikus.

Mereka memperhatikan bahwa tikus dengan mutasi gen ini, memiliki ekor yang lebih pendek dan lebih tebal daripada tikus normal. Begitu pula LIN28B memiliki pengaruh penting pada proses ini.

Pada dasarnya, LIN28B mengatur waktu bagaimana blok sel tertentu yang mengatur kulit, otot, tulang rawan, tendon dan tulang belakang, berkembang di embrio sehingga memengaruhi bentuk ekor.

"Ada juga implikasi penting dalam penelitian ini untuk memahami evolusi. Seleksi alam telah menciptakan berbagai panjang ekor yang sesuai dengan tekanan evolusi yang berbeda," kata Robinson.

Sampai sekarang pun, hanya sedikit diketahui bagaimana panjang ekor tikus dapat dikontrol dan rekayasa genetika yang dapat berpengaruh pada morfogenesis.

Berita Terkait