Internet

Bos Twitter Ejek Ide Metaverse Mark Zukerberg

Seperti apa tanggapan bos Twitter soal ide metaverse tersebut?

Agung Pratnyawan

CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)
CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)

Hitekno.com - Bos TwitterJack Dorsey, menyindir dan mengejek konsep metaverse yang digaungkan kembali oleh CEO Facebook, Mark Zuckerberg.

Menurut Dorsey, konsep tersebut adalah sebuah distopia. Distopia sendiri merupakan kebalikan dari utopia.

Jika utopia digambarkan sebagai adalah kondisi masa depan yang sempurna, sejahtera dan diimpikan, maka distopia adalah kondisi yang sangat buruk, serba kekurangan, tertekan dan penuh teror.

Dilansir dari BBC, sindiran tersebut dilontarkan Jack Dorsey dengan mengomentari unggahan akun bernama udiverse21. 

Unggahan @udiverse21 tersebut menyebut terminologi yang pertama kali diciptakan penulis Neal Stephenson dalam novelnya yang berjudul Snow Crash pada 1992.

Layaknya, Stephenson, ia juga percaya bahwa metaverse hanya akan memperlakukan warga negara dengan buruk. Pelakunya tak lain adalah perusahaan diktator.

"Metaverse menggambarkan dunia virtual yang dimiliki sebuah perusahaan, di mana penggunanya diperlakukan secara buruk sebagai warga negara oleh perusahaan diktator (dystopian corporate dictatorship). Bagaimana jika Neal benar," tulis akun itu.

CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)
CEO Twitter, Jack Dorsey. (YouTube)

Dengan tegas, Jack Dorsey mengomentari cuitan tersebut dengan kalimat pendek "NARRATOR: He Was." 

Artinya, Jack yakin jika terminologi Neal Stephenson tentang distopia metaverse itu benar.

Metaverse sendiri memiliki tujuan untuk memadukan dunia nyata dan virtual atau disebut "internet yang dibuat nyata".

Konsep ide ini pertama kali diajukan pada 1992 oleh novelis Amerika Neal Stephenson dalam karya fiksi ilmiah klasiknya, Snow Crash.

Film tersebut meramalkan internet sebagai ruang hidup virtual 3D, tempat individu masuk dan keluar, berinteraksi satu sama lain dalam waktu sebenarnya (real time).

Secara garis besar, metaverse sendiri memiliki tujuan untuk memadukan dunia nyata dan virtual atau disebut "internet yang dibuat nyata".

Kontributor: Damai Lestari

Berita Terkait