Internet

Heboh Kilatan Cahaya di Langit Jogja, Ini Penjelasan LAPAN

Peneliti LAPAN ini menjelaskan kalaukilatan cahaya yang tampak di langit Jogja.

Agung Pratnyawan

Kilatan cahaya terang di langit malam Jogja - (Twitter/@merapi_uncover)
Kilatan cahaya terang di langit malam Jogja - (Twitter/@merapi_uncover)

Hitekno.com - Sempat ramai kilatan cahaya mincul di langit Jogja, hingga ada yang menybut sebagai pijaran api. Menanggapi fenomena ini, Peneliti di Pusat Sains dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Andi Pangerang buka suara.

Peneliti LAPAN ini menjelaskan kalau kilatan cahaya yang tampak di langit Jogja adalah pijaran meteor, yang merupakan meteor sporadis.

"Ketika meteor terlihat, tidak terdengar suara dentuman apapun. Meteor ini juga tampak oleh beberapa saksi di Yogyakarta maupun daerah sekitarnya seperti Sukoharjo, Klaten dan Sragen yang tampak berwarna kemerahan," kata Andi dalam keterangannya, di Jakarta, Kamis.

Pada Senin malam (12/7/2021), sekitar pukul 22.00 WIB, kembali pijaran meteor atau fireball diabadikan di Yogyakarta oleh Aryo Kamandanu dari Bantul.

Peneliti LAPAN ini menuturkan fenomena meteor jatuh tidak selalu berasal dari hujan meteor baik mayor (> 10 meteor per jam) maupun minor (< 10 meteor per jam). Meteor yang tidak berasal dari hujan meteor disebut juga sebagai meteor sporadis (sporadic meteor).

Kilatan cahaya terang di langit malam Jogja - (Twitter/@merapi_uncover)
Kilatan cahaya terang di langit malam Jogja - (Twitter/@merapi_uncover)

Menurut Andi, warna merah yang tampak pada meteor kemungkinan besar berasal dari oksigen dan nitrogen yang berada di atmosfer Bumi.

"Fireball ini umumnya berukuran 20-60 sentimeter atau 1-3 kepalan tangan dan karena ukurannya yang kecil, fireball akan habis terbakar oleh atmosfer Bumi, sehingga tidak memungkinkan untuk jatuh ke permukaan Bumi sebagai batu meteor atau meteorit," ujarnya.

Pada foto yang diabadikan oleh Aryo Kamandanu yang dapat dilihat di akun Instagramnya di http://instagram.com/aryo.akise, meteor tampak berada di sebelah barat rasi Crux (Salib Selatan/Layang-layang/Gubug Penceng) yang saat itu berada di ketinggian 10,9°-14,9° di atas ufuk dan sudah berada di arah 207,9°-213,9° atau arah Selatan-Barat Daya hingga Barat Daya.

Selain itu, meteor tersebut tampak melintasi kedua bintang di konstelasi Centarus yakni Gamma Centauri dan Delta Centauri yang berada di arah 219,6°-221,1° atau arah Barat Daya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meteor tampak dari arah Barat Daya.

Andi menuturkan dengan kondisi langit yang cerah, masyarakat dapat menyaksikan meteor jatuh dengan intensitas maupun ukuran lebih besar, terlebih lagi ketika puncak hujan meteor sedang berlangsung.

Itulah penjelasan LAPAN soal kilatan cahaya di langit Jogja yang sempat menjadi sorotan. Ternyata adalah meteor sporadis. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait