Internet

Work From Home Rawan Serangan Hacker, Ini Peringatan Ahli Keamanan

"Hackermemiliki peluang menerobos ke sistem perusahaan ketika proses perpindahan data dari sistem kantor ke rumah," kata ahli keamanan.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi Work From Home. (Pixabay)
Ilustrasi Work From Home. (Pixabay)

Hitekno.com - Dalam rangka menekan penularan virus corona COVID-19, diimbau untuk di rumah saja. Termasuk beberapa perusahaan memberlakukan Work From Home alias kerja dari rumah.

Hal penting yang patut diwaspadai ketika kerja dari rumah adalah keamanan siber kita. Hacker atau peretas bisa saja memanfaatkan situasi ketika kita bekera di rumah.

Menyadur dari Channel News Asia, ahli keamanan siber mengingatkan bahwa para hacker akan mencari keuntungan dengan meretas data dan informasi perusahaan ketika para karyawan bekerja dan mengaksesnya dari rumah.

Di Amerika Serikat dan Inggris, pejabat pemerintah telah mengeluarkan peringatan tentang bahaya yang mungkin terjadi kepada para pekerja yang baru menerapkan bekerja dari rumah.

Pada Jumat (12/3/2020), pejabat keamanan siber Amerika mengingatkan para karyawan untuk memperbarui Virtual Private Network (VPN) untuk berjaga-jaga terhadap kejahatan siber terutama yang menyerang email perusahaan.

Sementara itu, beberapa perusahaan teknologi mengaku mengalami lonjakan permintaan layanan keamanan siber untuk para karyawan yang bekerja di luar kantor.

Cisco Systems.Inc misalnya, mereka mengaku mendapat lonjakan permintaan keamanan siber di perusahaannya. Tak tanggung-tanggun, permintaan meningkat hingga 10 kali lipat dalam beberapa minggu terakhir.

Ilustrasi hacker. (Shutterstock)
Ilustrasi hacker. (Shutterstock)

 

"Orang-orang yang belum pernah melakukan work from home mencoba untuk melakukannya dalam skala tertentu," kata Wendy Nather, penasihat senior untuk Cisco's Duo Security.

Ia menjelaskan, hacker memiliki peluang untuk menerobos ke sistem perusahaan ketika proses perpindahan data dari sistem kantor ke sistem komputer atau laptop rumah.

Proses ini terjadi dengan memanfaatkan para staf teknologi informasi perusahaan yang akan sibuk mengurusi para karyawan yang bekerja dari rumah.

Lebih banyak tekanan yang didapat para staf teknologi informasi, semakin besar pula peluang para hacker untuk menipu karyawan agar mengungkap kata sandi mereka.

Para hacker akan berpura-pura untuk mengirim pesan pencurian kata sandi dan mengirim malicious software yang berkaitan dengan peringatan waspada virus corona.

Istilah kebijakan pemerintah, lockdown, karantina, work from home, status klb, isolasi. (Suara.com)
Istilah kebijakan pemerintah, lockdown, karantina, work from home, status klb, isolasi. (Suara.com)

 

Para pakar menemukan bahwa hacker bisa menyamar sebagai pihak dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) untuk membobol email dan mengakses data perusahaan.

Tak hanya itu, hacker juga mungkin bisa menipu para pengguna bitcoin sambil melakukan peretasan menggunakan aplikasi berkedok pembasmi virus di ponsel-ponsel Android.

Pekan lalu, peneliti di perusahaan Check Point Israel menemukan tersangka hacker yang didukung negara untuk membobol jaringan pemerintah Mongolia.

Selain itu, ketika menerapkan Work From Home karyawan juga mudah terserang ancaman teknologi, termasuk pencurian atau kehilangan peralatan elektronik.

Itulah resiko serangan hacker ketika banyak karyawan melakukan Work From Home. (Suara.com/ Farah Nabilla).

Berita Terkait