Internet

Robot Curiosity Temukan Oasis Kuno di Planet Mars, Tanda-Tanda Kehidupan?

Pada oasis itu, ditemukan beberapa celah pada bebatuan yang mengelilinginya sehingga menciptakan sebuah danau.

Agung Pratnyawan

Curiosity, robot NASA di Mars. (NASA)
Curiosity, robot NASA di Mars. (NASA)

Hitekno.com - Planet Mars masih menyimpan banyak misteri untuk diteliti apakah bisa menjadi tempat hidup manusia kelak. Karena itu, dikirimkanlah robot Curiosity oleh NASA.

Selama ini, penelitian di Mars selalu didasari rasa ingin tahu, apakah planet tersebut memiliki kehidupan, sehingga bisa ditinggali manusia di masa depan?

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, peneliti dari NASA mengirimkan robot Curiosity untuk mengeksplorasi dan mengumpulkan tanda-tanda kehidupan di Mars.

Dari sekian banyak penelitian yang dilakukan di Planet Merah tersebut, NASA akhirnya menemukan titik terang tentang jejak kehidupan Mars di masa lalu, yakni berupa oasis kuno.

Berbentuk cekungan, oasis kuno ini dinamakan Gale Crater. Oasis kuno ini memiliki luas sekitar 154 kilometer dan cekungan dengan tingkat kedalaman hingga 5 kilometer.

Mengenai asal usulnya, Gale Crater telah terbentuk dari hantaman dahsyat yang terjadi pada miliaran tahun yang lalu. Lokasinya pun dikelilingi pegunungan tinggi yang diberi nama Pegunungan Sharp.

Selain itu, peneliti (melalui Curiosity) menemukan adanya kumpulan batu sedimen yang memiliki tinggi sekitar 150 meter yang NASA namakan Pulau Sutton.

Ilustrasi permukaan planet Mars (Shutterstock).
Ilustrasi permukaan planet Mars (Shutterstock).

 

Pada oasis itu sendiri, ditemukan beberapa celah pada bebatuan yang mengelilinginya sehingga menciptakan sebuah danau yang peneliti namakan sebagai "Old Soaker".

Sedangkan di bagian ada danau itulah mereka menemukan kandungan mineral garam yang membuat para peneliti berasumsi bahwa di sekitar Gale Crater, sempat terdapat air asin.

Sementara itu, sebagaimana dilansir laman Metro.co.uk bahwa temuan ini sudah dimuat dalam jurnal Nature Goescience.

Dalam jurnal tersebut, peneliti menemukan air yang ada di Pulau Sutton telah mengering dan meninggalkan garam asli. Namun, garam tersebut bukanlah garam meja, melainkan garam mineral.

Garam tersebut tercampur dengan sedimen yang diperkirakan terjadi melalui proses kristalisasi di lingkungan yang basah, sehingga memungkinkan air asin yang berada di kolam-kolam kecil di zaman dahulu menguap ke permukaan, membentuk garam mineral. (Suara.com/ Tivan Rahmat).

Berita Terkait