Sains

Terlalu Lama Sendirian, Paus Pembunuh Ini Alami Stres karena Kesepian

Paus pembunuh inisampai membenturkan kepala ke akuarium setelah hidup lebih lama dari lima bayinya.

Agung Pratnyawan

Paus pembunuh punya ukuran sirip punggung yang besar. (Pixabay/ Eveline de Bruin)
Paus pembunuh punya ukuran sirip punggung yang besar. (Pixabay/ Eveline de Bruin)

Hitekno.com - Seekor paus pembunuh ini disebut-sebut sebagai paus paling kesepian di dunia. Bukan tanpa alasan, menurut Whale Sanctuary, paus ini mengalami kesepian ketika menjalani hidup sendirian.

Nampak dalam sebuah rekaman video, paus pembunuh paling kesepian ini membenturkan kepalanya ke sisi tank akuarium setelah hidup lebih lama dari lima bayinya.

Paus pembunuh bernama Kiska itu berada di penangkaran di MarineLand, Kanada dan terlihat stress dengan berenang tanpa kendali dalam sebuah rekaman berdurasi 30 detik.

Video tersebut diambil oleh aktivis anti-penawanan Phil Demers yang membagikannya di media sosial. Juru kampanye berusia 43 tahun itu sebelumnya bekerja di penangkaran tersebut.

"Video ini diambil pada 4 September 2021. Aktivis anti-penahanan memasuki MarineLand dan mengamati Kiska, orca terakhir mereka yang masih hidup membenturkan kepalanya ke dinding. Silakan tonton dan bagikan. Kekejaman ini harus diakhiri. #FreeKiska," tulis Demers, seperti dikutip dari Mirror, Senin (13/9/2021).

Demers juga membagikan video lainnya dengan jarak lebih dekat ketika paus pembunuh berusia 44 tahun itu menabrak dinding akuarium.

"Ini adalah perilaku berbahaya dan merugikan diri sendiri. Kiska dalam kesulitan," tambah Demers.

Paus pembunuh kesepian alami stres. [Twitter]
Paus pembunuh kesepian alami stres. [Twitter]

Phil Demers mengklaim Kiska lahir di lepas pantai Islandia sebelum ditangkap pada 1979.

Hewan itu bertahan hidup lebih lama dari paus pembunuh lainnya di akuarium tersebut, termasuk keturunannya, dan telah hidup sendirian selama satu dekade.

"Selama lebih dari 40 tahun, dia telah kehilangan kebebasannya, bayinya, dan semua teman di tangkinya. Selama 10 tahun terakhir, dia benar-benar terisolasi secara sosial," ucap Orca Rescues Foundation.

Menurut Rob Lott, juru kampanye di Whale and Dolphin Conservation, mengatakan bahwa perilaku paus itu adalah akibat langsung dari orca Islandia yang ditangkap secara liar.

Kiska dibesarkan di lingkungan buatan selama empat dekade terakhir.

Lott menambahkan bahwa perilaku Kiska juga terlihat pada paus pembunuh lainnya yang merasa bosan karena bertahun-tahun hidup di dalam tangki.

Ia menjelaskan bahwa stres kronis dapat berdampak pada sistem kekebalan dan fisiologi paus pembunuh. Hingga saat ini pihak MarineLand belum memberikan komentar.

Itulah kisah Kiska, paus pembunuh yang mengalami stres karena kesepian terlalu lama menjalani hidup sendirian. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).

Berita Terkait