Sains

Waduh, PBB Ungkap Drone Militer Serang Manusia Tanpa Instruksi

Pesawat tak berawak militer mungkin menyerang manusia untuk pertama kalinya.

Dinar Surya Oktarini

Ilustrasi Drone pengiriman barang. (Pixabay/pieonane)
Ilustrasi Drone pengiriman barang. (Pixabay/pieonane)

Hitekno.com - Belum lama ini Dewan Keamanan PBB mengungkap sebuah drone milter menyerang manusia untuk pertama kalinya tanpa adanya instruksi. 

Laporan yang diterbitkan pada Maret itu mengklaim bahwa drone AI bernama Kargu-2 quadcopter yang diproduksi oleh perusahaan teknologi militer Turki STM, menyerang tentara Libya.

Laporan setebal 548 halaman oleh Panel Pakar Dewan Keamanan PBB di Libya, belum menyelidiki secara rinci apakah ada korban akibat insiden tersebut.

Tapi hal ini menimbulkan pertanyaan tentang upaya global atas pelarangan robot otonom.

Sepanjang 2021, Pemerintah Kesepakatan Nasional yang diakui PBB mendorong Pasukan Afiliasi Haftar (HAF), kembali dari ibu kota Libya, Tripoli, dan pesawat tak berawak itu mungkin telah beroperasi sejak Januari 2020.

"Konvoi logistik dan HAF yang mundur kemudian diburu dari jarak jauh oleh kendaraan udara tempur tak berawak atau sistem senjata otonom yang mematikan seperti STM Kargu-2," tulis PBB.

Drone STM Kargu. [STM]
Drone STM Kargu. [STM]

Menurut STM, Kargu adalah drone yang menggunakan klasifikasi objek berbasis pembelajaran mesin untuk memilih dan melibatkan target.

Drone itu juga memiliki kemampuan berkerumun dan memungkinkan 20 drone bekerja bersama.

"Sistem senjata otonom yang mematikan diprogram untuk menyerang target tanpa memerlukan konektivitas data antara operator dan amunisi," tambah PBB, dikutip Independent, Selasa (1/6/2021).

Banyak peneliti robotika dan AI di masa lalu, termasuk Elon Musk, dan beberapa tokoh terkemuka lainnya seperti Stephen Hawking, telah menyerukan larangan senjata otonom ofensif, seperti senjata yang berpotensi mencari dan membunuh orang tertentu berdasarkan pemrograman.

Ahli memperingatkan bahwa kumpulan data yang digunakan untuk melatih robot pembunuh otonom ini, tidak cukup kuat dan sistem kecerdasan buatan (AI) dapat mempelajari pelajaran yang salah. (Suara.com/Lintang Siltya Utami)

Berita Terkait