Games

Sutasoma The Temple of Yogyakarta, Padukan AR dengan Board Game Edukasi

Sutasoma The Temple of Yogyakarta, board game karya Sebangku Games yang mengajarkan sejarah dengan cara lebih menarik.

Agung Pratnyawan

Kaksam Rizky menunjukkan board game Sutasoma The Temple of Yogyakarta kepada awak media, Rabu (26/5/2021). [SuaraJogja.id/ Hiskia Andika Weadcaksana]
Kaksam Rizky menunjukkan board game Sutasoma The Temple of Yogyakarta kepada awak media, Rabu (26/5/2021). [SuaraJogja.id/ Hiskia Andika Weadcaksana]

Hitekno.com - Setelah sempat tertunda, akhirnya Sebangku Games meluncurkan Sutasoma The Temple of Yogyakarta. Yakni Board game edukasi yang mengajarkan sejarah dan pariwisata dengan cara lebih menyenangkan.

Indonesia terkhusus Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki potensi besar di sektor pariwisata. Namun pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh negeri membuat industri pariwisata cukup lesu.

Beradaptasi dengan di tengah pagebluk menjadi sesuatu yang harus dilakukan semua sektor agar bisa tetap bertahan dan kembali bangkit. Dengan tidak melupakan protokol kesehatan sebagai kunci pengendalian Covid-19, digitalisiasi dan promosi pariwisata menjadi hal penting.

Hal tersebut yang sedang coba dilakukan Kaksam Rizky yang tergabung dalam Sebangku Games bersama super timnya dalam satu tahun belakangan.

Adalah game bertajuk Sutasoma The Temple of Yogyakarta yang menjadi upaya Rizky dan tim untuk lebih mengenalkan sejumlah destinasi pariwisata Indonesia diberbagai dearah kepada khayalak ramai.

"Game Sutasoma ini arahnya lebih ke pembelajaran pariwisata sebenarnya. Ada tentang Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Serta ada juga kisah tentang Roro Jonggrang dan Ramayana," kata Rizky saat ditemui awak media, Rabu (26/5/2021).

Rizky mengungkapkan game Sutasoma ini adalah produk ketiga dari Sebangku Games. Sebelumnya, ia dan tim juga sudah mengeluarkan games lain yang juga masih berkutat dengan wilayah game edukasi.

Tepatnya pada 2016 lalu, Sebangku Games membuat game berjudul Jamrana yang merupakan game pertama mereka. Game tersebut bertujuan untuk membantu anak-anak dalam proses pencapaian SKU (Syarat Kecapakan Umum) di dalam kegiatan pramuka.

Board game Sutasoma The Temple of Yogyakarta. [SuaraJogja.id/ Hiskia Andika Weadcaksana]
Board game Sutasoma The Temple of Yogyakarta. [SuaraJogja.id/ Hiskia Andika Weadcaksana]

 

Lalu games kedua yang juga merupakan board game itu diberi nama Zamzamy.  Game yang diciptakan pada tahun 2018 itu sudah berisi lengkap dengan buku untuk membantu anak-anak belajar ngaji dengan cara yang lebih menarik.

"Kalau game Sutasoma ini kita mulai tahun 2019 develop-nya, kemudian baru dicetak itu 2020 tapi karena pandemi kami baru soft launching 2021 ini," ujar pria berusia 32 tahun tersebut.

Diakui Rizky memang pihaknya belum memproduksi secara massal untuk game Sutasoma ini. Kendati begitu, sejumlah perlombaan sudah sempat diikuti oleh game Sutasoma tersebut.

Terbaru game Sutasoma masuk ke dalam Top 3 saat mengikuti ajang perlombaan IDENTIK yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Hingga dipilh untuk mewakili Indonesia ke tingkat ASEAN pada bulan November tahun ini.

"Kemudian kami sudah menang di Hannover, di event German-Indonesia yang dilakukan beberapa bulan yang lalu. Itu acaranya dari Kementrian Perindustrian," ucapnya.

Lebih lanjut, dijelaskan Rizky, game Sutasoma sendiri termasuk ke dalam jenis board game atau permainan yang dilakukan di atas papan. Atau yang sudah biasa dikenal semacam monopoli hingga ular tangga.

Namun yang membedakan game Sutasoma ini dengan board game lainnya adalah ketersediaan fitur di dalamnya. Pasalnya di dalam game Sutasoma ini juga dilengkapi oleh fitur Augmented reality (AR) atau realitas berimbuh.

Board game Sutasoma The Temple of Yogyakarta. [SuaraJogja.id/ Hiskia Andika Weadcaksana]
Board game Sutasoma The Temple of Yogyakarta. [SuaraJogja.id/ Hiskia Andika Weadcaksana]

 

Diketahui bahwa teknologi AR tersebut adalah semacam realitas yang diciptakan dengan menggunakan teknologi untuk menambahkan elemen digital pada citra yang dilihat melalui sebuah peranti misalnya saja seperti kamera ponsel.

"Di game Sotasoma ini ada fitur AR, kalau kartunya di scan pakai hp nanti akan muncul. Misalnya Rama itu siapa, juga ada Virtual Reality-nya. Jadi kalau orang belum pernah ke Prambanan atau Borobudur itu nanti bisa langsung tahu," terangnya.

Pria yang berdomisili di Sleman tersebut mengatakan bahwa game Sutasoma dapat dimainkan mulai dari 2-6 orang. Selain itu aplikasi game ini juga sudah dilengkapi dengan dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris.

"Jadi memang ditujukan untuk wisatawan yang datang ke Jogja," imbuhnya.

Saat ini yang baru dibuat adalah versi satu atau versi Jogja. Dengan pengenalan candi yang ada di wilayah sekitar DIY juga.

Disampaikan Rizky, memang pengenalan candi yang dimasukkan ke dalam game Sutasoma ini masih terbatas tiga candi saja. Namun tidak menutup kemungkinan rencananya masih akan dikembangkan dengan lebih banyak lagi tempat wisata dan budaya yang ada di Jogja dan Indonesia.

Buat Game Agar Pelajaran Sejarah Menarik

Rizky menuturkan latar belakang pihaknya memunculkan game ini adalah tidak jauh dari kegemarannya dengan sejarah. Namun tidak sedikit teman-teman saatnya bersekolah dulu yang bilang bahwa saat pelajaran sejarah itu membosankan.

Dari situ, ia menilai ada sesuatu yang salah kaitannya dengan pelajaran sejarah tersebut. Salah satu yang menjadi sorotan adalah media penyampaian yang dirasa kurang sesuai.

"Selama ini medianya pasti buku apalagi guru sejarah pasti bosenin banget kan. Kalau ini kami pakai dunia anak. Jadi mereka main game di situ mereka sambil belajar. Karena mereka sudah pakai hp terus, kita juga harus adaptasi dengan teknologi sehingga muncul tadi AR dan VR," tuturnya.

Rizky menjelaskan sedikit mengenai teknis permainan dalam game Sutasoma ini.

Nantinya Sutasoma akan dimainkan oleh dua tim berisi maksimal tiga orang pemain. Permainan akan terus berlangsung hingga kartu di deck yang tersedia itu habis.

Di dalam setiap ronde akan ada pemain yang mendapat token “Sutasoma” sebagai penanda bahwa yang bersangkutan memiliki tugas untuk membuka kartu harta. Kartu harta inilah yang bakal diperebutkan oleh setiap tim yang bermain.

Kartu harta tersebut yang juga menjadi poin di akhir permainan Sutasoma ini. Jika memang salah satu tim bisa meletakkan kartu harta itu di kartu misi yang sesuai maka tim yang memiliki lebih tinggi dinyatakan sebagai pemenang.

"Nanti ada semacam simbol-simbol, kemudian nanti akan memegang masing-masing warna yang ada, merah, kuning, hijau dan biru. Itu nanti mereka akan terpisah nih. Nah nanti dalam hitungan ke tiga itu harus ngurutin biru dulu, hijau, kuning merah, beda kartu beda. Lebih ke cepet-cepetan menata itu. Nanti kalau sudah tertata yang paling cepet bilang Sutasoma dan kartu ini akan menjadi punya dia. Siapa yang paling banyak punya kartu dia menang," terangnya.

Game Sutasoma sendiri dapat dimainkan oleh rentan usia minimal anak 7 tahun ke atas. Dengan melibatkan dua sampai enam pemain.

Durasi permainan pun juga akan tergolong singkat yakni estimasi hanya 15 menit saja dalam sekali main.

"Sebab memang ini basicnya kami desain untuk dimainkan misal di bandara atau stasiun yang basically main cepat udah gitu lalu angkut, semacam jumanji itu. Kalau di playstore sudah bisa bisa di download gratis, yang berbayar cuma ini [board-nya]," sebutnya.

Menurut Rizky, selain digunakan sebagai edukasi game Sutasoma juga memang bertujuan sebagai hiburan anak-anak.

"Seru-seruan aja sih mas. Soalnya kalau game based learning ini arahnya lebih ke memotivasi anak untuk belajar sesuatu. Jadi kalau dia ingin belajar yang lebih dalam kan dia sebenarnya bisa belajar lewat buku sendiri atau kami juga sudah menyediakan materi-materi pembelajaran itu," ungkapnya.

Setiap materi yang disediakan itu meliputi lima hal telah disebutkan di awal tadi yakni terkait Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Serta kisah tentang Roro Jonggrang dan Ramayana.

Di dalam materi itu akan terdapat sejumlah penjelasan mengenai hal-hal dari tempat dan kisah sejarah tadi. Semisal dengan kisah Rama atau Sinta di dalam Ramayana, hingga sejarah pembuatan candi hingga tata letaknya.

"Kami arahnya pengenalannya lewat hal-hal paling dasar dulu sih. Biar anak-anak itu suka sejarah," ucapnya.

Sedangkan untuk promosi pariwisata, kata Rizky, game Sutasoma juga dapat menambah wawasan bagi wisatawan untuk mengenal lebih banyak sejumlah destinasi wisata yang ada.

"Jadi harapan kami kalau ini baru lima [materi yang ada di dalam game] nanti ke depan bisa lebih banyak. Sudah ngobrol juga dengan Kemenparekraf, jadikan Indonesia punya sekitar 50-100 destinasi wisata utama nih. Jadi kalau kita ada 40 kartu berarti 40 wisata itu bisa berbentuk kartu ini," harapnya.

Nantinya secara lebih sederhana, jika memang ada turis yang datang akan mendapatkan kartu tersebut. Kemudiam yang bersangkutan tinggal scan saja melalui ponsel masing-masing.

"Dan di situ langsung nyambung ke google mapsnya, jaraknya, dan segala macam. Arahnya ke sana sebenarnya. Tapi ini baru prototype awal, kita bikin yang Jogja dulu," ungkapnya.

Saat ini, disampaikan Rizky bahwa game Sutasoma sendiri belum melakukan launching. Pihaknya masih mencari investor untuk melakukan duplikasi game tersebut secara lebih masif.

"Karena kalau kami basicnya game based learning ya kami bukan hanya game ini saja. Tapi emang yang untuk budaya, jadi ini nanti ada Sutasoma 1 dan 2 hingga selanjutnya. Ada game tentang Matematika untuk siswa kelas satu dan kelas dua serta beda-beda lagi," ujarnya.

Sutasoma dan Bhinneka Tunggal Ika

Ditanya mengenai pemilihan nama Sutasoma sendiri, Rizky menjelaskan bahwa sebenarnya nama awal game itu bukan Sutasoma melainkan Arkeologi. Namun dengan pertimbangan dari sisi pengucapan dan penulisan yang terbilang susah.

Maka penamaan game pun pada akhirnya diganti menjadi Sutasoma. Tujuannya untuk memudahkan penulisan dan pengucapan game itu sendiri.

"Jadi awalnya dulu arkeologi, cuma ngomongnya susah. Cuma kalau Sotasoma ini akhirnya mudah diucapkan dan gampang ditulis," kata pria yang juga merupakan salah satu dosen di Universitas Amikom Yogyakarta itu.

Selain itu, pemilihan nama Sutasoma juga telah melewati proses development yang panjang dan tidak sembarangan.

"Terus akhirnya kami tahu loh ternyata ada dua yang kita angkat dalam game ini, agama Hindu dan Buddha. Kebetulan saat saya baca Kitab Sutasoma dua-duanya masuk. Jadi ya udah Sutasoma saja. Ini juga bentuknya kayak buku jadi ya pas dengan Kitab Sutasoma," katanya.

Ditambagkan Rizky, Sutasoma juga mencakup konsep Bhinneka Tunggal Ika yang memang menjadi pegangan bagi bangsa Indonesia. Hal itu yang semakin meyakinkan pihaknya untuk menggunakan nama Sutasoma.

"Kita angkat kebudayaan lokal tapi dikemas dengan model yang internasional," tegasnya.

Rizky tidak memungkiri bahwa proses development game Sutasoma sendiri termasuk panjang dan susah. Setidaknya ada tiga fase yang harus dilewati ia dan tim untuk akhirnya bisa menghasilkan game edukasi tersebut.

Pertama mulai dari membuat game utama itu sendiri yang sudah diakui sudah cukup menguras tenaga. Lalu dilanjutkan dengan fase kedua yakni validasi konten.

"Untuk konten bahkan kami sampai ke Balai Arkeologi, ke TWC juga. Kemudian yang ketiga itu baru ilustrasinya. Ini kan ilustrasinya versi kayak manga gitu ya bentuknya kayak jejepangan gitu ya. Biar anak-anak itu tertarik dulu, kalau gambar jadul nanti anak-anak tidak seneng," jelasnya.

Rizky menyatakan game ini tidak akan bisa dihasilkan tanpa kerja sama tim yang luar biasa. Mulai dari ilustrator, penelitian hingga publikasi.

"Kita bener-bener ngga bisa kerja sendiri, ini super tim.Total hampir setahun dari proses game mekanik sampai jadi sekarang," ungkapnya.

Mengenai sasaran game Sutasoma sendiri secara luas, kata Rizky, tidak menutup kemungkinan untuk melibatkan juga sekolah-sekolah yang ada. Namun menurutnya basic game ini akan lebih condong dibuat menjadi merchandise yang ditujukan untuk wisatawan.

Disinggung terkait target launching sendiri, Rizky berharap dapat segera dilakukan pada tahun ini atau setidaknya pada akhir tahun mendatang.

"Akhir tahun mudah-mudahan sudah bisa launching gitu, launching yang besar. Karena basically itu sekalian pertama untuk produksi massal dan yang kedua kita sudah mulai siap untuk Sutasoma kedua. Range harga nanti sekitar Rp. 100-300 ribu," pungkasnya.

Sebelumnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno memastikan bakal terus mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif serta UMKM agar dapat beradaptasi dengan kondisi yang ada saat ini. Mulai dari membantu dari sisi produksi hingga ke bagian promosi.

Termasuk yang saat ini tengah digaungkan adalah mengenai ekonomi kreatif dengan digitalisiasi. Wisata edukasi dengan mengedepankan produk-produk ekonomi digital, kata Sandi yang saat ini sedang terus dikembangkan.

"Wisata edukasi dan juga produk ekonomi digital yang sedang diperjuangkan oleh kami. Dalam salah satu subsektor kita yang disebut aplikasi dan game. Jadi itu ada dua sub sektor yang saling berkaitan. Kita kebetulan juga punya program judulnya Baparekraf Developer Day (BDD)," ujar Sandi saat berkunjung ke Sleman beberapa waktu lalu.

Diketahui bahwa BDD sendiri merupakan ajang yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf atau Baparekraf untuk mengasah kemampuan teknis developer di Indonesia. Dalam ajang itu praktisi yang ada di industri digital kreatif akan dipertemukan dengan para developer.  

Dari pertemuan itu nantinya diharapkan bisa saling bertukar informasi baik dari sesi kelas-kelas pembelajaran hingga pelatihan.

Sejumlah program itu, disebutkan Sandi, memang sudah terdapat atau diatur oleh deputi-deputi yang ada di Kemenparekraf. Tujuannya tidak lain untuk terus meningkatkan ketrampilan dari setiap pelaku ekonomi kreatif khususnya dari sisi aplikasi dan digitalisasi.

"Kita akan terus meningkatkan ketrampilan dari temen-temen di sisi aplikasi dan digitalisasi. Sehingga proses ini bisa dilakukan secara kekinian, menarik dan tidak hanya bisa masuk ke dalam online tapi juga jadi konten-konten," tuturnya.

Sandi menilai konten-konten yang dihasilkan di sektor aplikasi dan digitalisasi tadi menjadi penting untuk terus dikembangkan. Bahkan tidak menutup kemungkinan banyak kalangan yang akan menikmati konten-konten tersebut.

"Contohnya di E-sport itu selain dari sisi game. Ada juga yang menarik, misal komentatornya, lalu dari segi cara bermain dan triknya. Itu [konten] dimasukin ke youtube dan laku ternyata," ungkapnya.

Dengan terus mengasah ketrampilan di bidang digitalisasi, Sandi yakin bahwa masyarakat dapat membangun ekonomi dengan lebih kuat dan modern. Serta tidak meninggalkan keadilan dan tetap kekinian.

"Kita juga bisa punya ide baru serta berinovasi dan bergandengan tangan mengembangkan itu," imbuhnya.

Sandi menyatakan saat ini diperlukan figur pemimpin yang dapat melakukan pendekatan kolaborasi. Bukan hanya keahlian ekonomi tapi juga mendekatkan diri dengan masyarakat serta menjalankan program dengan sesuai.

Ditambahkan Sandi, beberapa hal yang penting dilakukan saat ini adalah untuk terus meningkatkan ketrampilan khususnya di bidang online dan menciptakan konten-konten yang baik. Lalu ekonomi berkeadilan dengan kehadiran pemerintah, serta program pemerintah harus tepat sasaran dan harus tegas.

Sandi menyatakan terdapat resep 3G yang digadang-gadang sebagai cara ampuh selanjutnya untuk bertahan di era pandemi Covid-19. Resep 3G itu adalah gerak cepat (gercep), gerak bersama (geber), dan gaspol atau menggarap semua potensi yang ada.

"Gercep karena kita ini tidak punya banyak waktu. Lalu ada geber atau gerak bersama, tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Dan yang terakhir adalah gaspol atau menggarap semua potensi agar bisa bertahan dan membangkitkan ekonomi," pungkasnya. [SuaraJogja.id/ Hiskia Andika Weadcaksana].

Berita Terkait