Internet

Aplikasi eHAC Dibobol Peretas, Jutaan Data Pengguna Tersebar

Aplikasi eHAC milik Kementerian Kesehatan ini penyimpan jutaan data pengguna.

Agung Pratnyawan

Aplikasi eHAC. (Google Play Store)
Aplikasi eHAC. (Google Play Store)

Hitekno.com - Para peneliti keamanan siber menemukan kalau  aplikasi eHac milik Kementerian Kesehatan telah dibobol para peretas. Parahnya, data pengguna telah tersebar di internet.

Hasil laporan peneliti perusahaan keamanan siber vpnMentor mengungkap kalau peretas dengan mudah membobol aplikasi eHac tersebut.

Disebutkan kalau para peretas bisa mengakses data-data pribadi jutaan pengguna aplikasi pelacakan Covid-19 di Tanah Air tersebut.

Noam Roten dan Ran Locar, dua peneliti dari vpnMentor, mengatakan aplikasi itu tidak memiliki protokol perlindungan privasi yang layak, sehingga data lebih dari sejuta pengguna terekspos di sebuah open server.

"Tim kami membobol data eHAC tanpa rintangan sama sekali karena tidak adanya protokol yang digunakan oleh pengembang aplikasi. Ketika database diteliti dan dipastikan keasliannya, kami langsung menghubungi Kementerian Kesehatan Indonesia dan menyerahkan hasil temuan kami," kata tim peneliti vpnMentor.

Sayangnya jelas, vpnMentor, Kementerian Kesehatan tak merespon laporan tersebut. Para peneliti juga menghubungi Computer Emergency Response Team Indonesia dan Google, sebagai penyedia hosting eHAC.

"Sampai Agustus, kami tidak menerima jawaban dari semua pihak terkait. Kami mencoba menghubungi lembaga pemerintah lainnya, salah satu di antaranya adalah BSSN. Kami menghubungi mereka pada 22 Agustus dan mereka membalas di hari yang sama. Dua hari kemudia, pada 24 Agustus, server tersebut dimatikan," jelas vpnMentor.

Para peneliti vpnMentor mengungkapkan bahwa aplikasi e-HAC sama sekali tidak aman. Data jutaan penggunanya terekspos tanpa perlindungan di internet. (Google Play)
Para peneliti vpnMentor mengungkapkan bahwa aplikasi e-HAC sama sekali tidak aman. Data jutaan penggunanya terekspos tanpa perlindungan di internet. (Google Play)

Dalam laporannya vpnMentor mengatakan bahwa orang yang membuat eHAC telah menggunakan "database Elastisearch yang tidak aman untuk menyimpan lebih dari 1,4 juta data dari sekitar 1,3 juta pengguna eHAC."

Selain data-data pribadi pengguna, yang juga tak terlindungi dari aplikasi eHAC adalah informasi tentang rumah-rumah sakit dan para pejabat Indonesia yang menggunakan aplikasi tersebut.

Adapun data-data yang terekspos adalah: nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, foto pribadi, nomor induk kependudukan, nomor pasport, hasil tes Covid-19, identitas rumah sakit, alamat, nomor telepon dan beberapa data lainnya.

"Tim kami berhasil mengakses database ini karena sama sekali tidak dilindungi dan tidak terenkripsi. eHAc menggunakan database Elasticsearch yang sejatinya tidak dirancang untuk penggunaan URL," imbuh para peneliti.

Peneliti dari vpnMentor mengatakan dengan data-data dari eHAC, peretas bisa dengan mudah melakukan penipuan dan bahkan bisa mengganggu penanganan wabah Covid-19 di Indonesia.

Peretas, misalnya, bisa berpura-pura menjadi dokter dan memilih korbannya dari 1,3 juta pengguna yang data pribadinya terekspos di server eHAC.

Selain itu pertas juga bisa mengubah data di platform eHAC, semisal hasil tes Covid-19 pengguna, sehingga membuat penanganan Covid-19 di Indonesia menjadi terganggu.

Hingga berita ini ditayangkan, Suara.com masih berusaha untuk meminta konfirmasi dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta BSSN.

Itulah laporan pembobolan Aplikasi eHAC milik Kementerian Kesehatan yang telah dibobol peretas. (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait