Internet

Tak Sesuai Kebijakan, TikTok Akui Hapus 49 Juta Video Penggunanya

Video dihapus karena tidak sesuai dengan kebijakan dan privasi yang ditetapkan perusahaan.

Dinar Surya Oktarini

Ilustrasi TikTok. (Pixabay/konkarampelas)
Ilustrasi TikTok. (Pixabay/konkarampelas)

Hitekno.com - Belum lama ini, TikTok baru saja merilis laporan aktivitas selama paruh kedua 2019 lalu. Laporan periode Juli hingga Desember tanhun lalu tersebut TikTok mengonfirmasi telah menghapus sekitar 49 juta video. pengguna.

TikTok mengatakan menghapus video tersebut atas permintaan pemerintah setempat karena melanggar peraturan, seperti yang dikutip dari Gizchina. 

Selain itu, ada pula video dihapus karena tidak sesuai dengan kebijakan dan privasi yang ditetapkan perusahaan.

Secara global, TikTok harus menghilangkan lebih dari 49 juta video karena melanggar kebijakan dan pedoman komunitasnya. Menurut perusahaan asal China itu, lebih dari 33 persen video yang dihapus berasal dari India.

Rincinya, TikTok telah menghapus lebih dari 16 juta video dari India, 4,5 juta video dari pengguna asal Amerika Serikat, 3,7 juta video pengguna Pakistan, 2 juta video di Inggris, dan 1,2 juta video berasal dari Rusia.

‌Meski angka 49 juta bukanlah jumlah yang sedikit, namun itu seakan tidak berarti ketika mengetahui bahwa selama semester kedua 2019, total video TikTok yang diunggah nyaris mencapai 500 juta video. Artinya, video yang dihapus dari platform tersebut hanya 1 persen saja.

Ilustrasi aplikasi TikTok. [Shutterstock]
Ilustrasi aplikasi TikTok. [Shutterstock]

Perusahaan mengklaim, kecilnya persentase penghapusan video tersebut tidak terlepas dari algoritma AI milik TikTok yang otomatis menghapus 98,2 persen dari video sebelum pengguna melaporkan video.

Sementara itu, India juga menempati urutan pertama dalam hal permintaan pemerintah untuk informasi pengguna dan penghapusan konten. Pemerintah India meminta TikTok untuk menyediakan 302 data pengguna dan 30 penghapusan konten pada paruh kedua 2019.

TikTok saat ini tak bisa diakses di India, tetapi sebelum ada larangan tersebut aplikasi ini memiliki lebih dari 200 juta pengguna. (Suara.com/Tivan Rahmat)

Berita Terkait