Internet

CEK FAKTA: Benarkah COVID-19 Sengaja Ditularkan Lewat Rapid Test?

Benarkah virus COVID-19 sengaja dimasukkan ke tubuh lewat Rapid Test?

Agung Pratnyawan

Ilustrasi virus corona. (Pixabay)
Ilustrasi virus corona. (Pixabay)

Hitekno.com - Beredar kabar yang mengklaim kalau virus corona atau COVID-19 sengaja dimasukkan ke dalam tubuh manusia lewat upaya rapid test.

Kabar tersebut mulai tersebar melalui pesan berantai aplikasi Whatsapp hingga membuat sebagian orang merasa resah. 

Informasi tersebut berawal dari sebuah berita yang berjudul "Kacau, Alat Rapid Test China Bikin Orang Negatif Jadi Positif Corona" yang terbit di media online.

Namun, bersamaan dengan berita tersebut, terdapat narasi yang menyebut jika virus corona selama ini sengaja dimasukkan ke tubuh manusia lewat rapid test. Berikut adalah penggalan narasinya:

"KACAU KACAU KACAU KACAU APAKAH REZIM INI SENGAJA. Ini berita A1 karena ada link media yang mempertanggungjawabkan informasi yaitu www.viva.co.id.

Rezim dengan sengaja tiap daerah diciptakan zona merah agar masyarakat tidak bisa berfarak dan tidak ada gerakan.

Setiap ada yang positif pasti dinyatakan zona merah, sehingga yang masyarakat yang tadinya negatif diupayakan untuk menjadi positif dengan cara memasukkan COVID-19 ke tubuh masyarakat melalui Rapid Test dengan dalih tes kesehatan.

Ketika masyarakat tidak bisa bergerak dan tidak ada gerakan maka rezim akan semena-mena bertindak untuk kepentingan kelompoknya."

Namun, apakah benar demikian? Benarkah pemerintah sengaja memasukkan COVID-19 ke dalam tubuh lewat rapid test?

Hoaks corona dimasukkan ke tubuh lewat rapid test (Turnbackhoax.id).
Hoaks corona dimasukkan ke tubuh lewat rapid test (Turnbackhoax.id).

PENJELASAN

Berdasarkan cek fakta dan penelusuran Turnbackhoax.id -- jaringan Suara.com, dapat dipastikan bahwa kabar tersebut memuat informasi yang menyesatkan. Pasalnya, dalam berita tersebut sama sekali tak disebutkan bahwa pemerintah sengaja memasukkan COVID-19 ke dalam tubuh manusia.

Berita itu terbit pada tanggal 7 Mei 2020 dan menjelaskan soal perbedaan hasil rapid test COVID-19 dengan hasil tes swab PCR yang dilakukan oleh warga di Desa Abuan, Bangli, Bali.

Terkait hal ini, Juru Bicara Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto telah menyatakan bahwa informasi tersebut adalah hoaks. Ia bahkan mempertanyakan apakah oknum yang menulis narasi itu via pesan berantai Whatsapp berani mempertanggungjawabkan ucapannya.

"Apakah yang menulis berani mempertanggungjawabkan tulisannya?” katanya seperti dikutip dari Turnbackhoax.id.

KESIMPULAN

Dari penjelasan cek fakta di atas maka bisa dipastikan bahwa tidak benar jika pemerintah sengaja memasukkan COVID-19 ke dalam tubuh manusia lewat rapid test. Narasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan dan merupakan informasi yang menyesatkan. (Suara.com/ Ruhaeni Intan).

Berita Terkait