Gadget

Smartphone China Laris Manis di Indonesia, Merek Lokal Malah Tersisih

Samsung jadi satu-satunya yang bisa bersaing dengan smartphone China di Indonesia. Tapi Samsung bukan merek lokal.

Agung Pratnyawan

Seorang model sedang memegang sebuah Advan S6 Plus di Jakarta, Selasa (26/2/2019). [Suara.com/Tivan Rahmat]
Seorang model sedang memegang sebuah Advan S6 Plus di Jakarta, Selasa (26/2/2019). [Suara.com/Tivan Rahmat]

Hitekno.com - Menurut analis, merek smartphone Indonesia seperti Advan dan Evercross making tersingkir dari persaingan dalam negeri. Tidak lain tergusur dengan ramainya smartphone China yang makin laris.

Hal ini terungkap dalam hasil analis dari lembaga riset IDC Indonesia yang belum lama ini dipublikasikan.

Menurut riset IDC, merek smartphone Indonesia kalah saing dari merek-merek luar. Khususnya smartphone china yang terus membanjiri Tanah Air.

Analis IDC Indonesia, Risky Febrian, mengatakan tergerusnya merek lokal disebabkan oleh pergeseran tren pasar dari smartphone pemula ke menengah.

Merek lokal seperti Advan dan Evercoss diketahui memproduksi smartphone kelas pemula dengan harga di bawah Rp 1,4 juta.

"Produk lokal makin ke sini, makin sulit berkompetisi karena kami melihat tahun sebelumnya masih ada produk lokal yang masuk ke Top 5. Tahun ini cukup sulit karena seluruh vendor di Top 5 makin masuk ke seluruh segmen," jelas Risky seperti dikuti dari Antara melalui Suara.com.

Dalam laporan kuartal ketiga 2019, IDC mengungkapkan bahwa lima penguasa pasar smartphone Indonesia didominasi oleh merek smartphone China seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Realme.

Advan G3 Pro. (Istimewa)
Advan G3 Pro. (Istimewa)

 

Satu-satunya merek dari luar China yang masuk dalam top 5 adalah Samsung.

Padahal di kuartal-kuartal sebelumnya, merek lokal Advan masih bisa bercokol di daftar lima penguasa pasar smartphone Indonesia

"Makin ke sini, banyak vendor global yang agresif pada rentang harga smartphone satu sampai dua juta. Itu membuat vendor lokal sangat sulit berkompetisi," kata Risky.

Agar bisa tetap bertahan hidup, IDC menduga merek-merek smartphone Indonesia akan menggeser bisnis mereka dengan memproduksi perangkat pintar lainnya.

"Mereka bukan hanya fokus ke smartphone. Banyak merek lokal menawarkan perangkat smart home atau smart tv, wearable devices, seperti smartwatch. Untuk selamat, mereka tidak lagi bergantung pada produk smartphone," beber dia.

IDC mencatat bahwa segmen smartphone menengah (di rentang harga Rp 2,8 juta - Rp5,6 juta) semakin besar di Tanah Air. Pergeseran itu dimulai ketika sejumlah merek smartphone China masuk ke Indonesia.

Deretan smartphone Indonesia. (Hitekno.com)
Deretan smartphone Indonesia. (Hitekno.com)

 

"Tiga tahun lalu, masih 30 sampai 40 persen. Sekarang pada kuartal tiga 2019, segmen ultra low-end hanya 19 persen. Sedangkan, kombinasi low-end dan mid-end sudah mencapai lebih dari 70 persen," kata Risky.

Pergeseran pasar itu juga didorong pola konsumsi konsumen yang cenderung membutuhkan smartphone dengan spesifikasi yang lebih tinggi demi mendukung tren gaya hidup ber-gawai, seperti mobile gaming dan juga konsumsi multi-media yang tinggi.

"Dari sisi pengalaman, produk segmen menengah memang lebih menarik sehingga menyebabkan pergeseran pasar. Makin ke sini, makin ada pergeseran kepada segmen yang mid-range," tutup Risky.

Sampai kapan merek smartphone Indonesia akan bertahan dari gempuran smartphone China ini? (Suara.com/ Liberty Jemadu).

Berita Terkait