Sains

Ternyata, Otak Jadi Kecanduan saat Jatuh Cinta

Ternyata, apa yang terjadi pada jaringan otak ketika jatuh cinta punya kemiripan dengan kecanduan.

Agung Pratnyawan

Ilustrasi cinta. (Pixabay/ Photo Mix)
Ilustrasi cinta. (Pixabay/ Photo Mix)

Hitekno.com - Penilitian dari sebuah tim internasional berupaya untuk mendeteksi perubahan organisasi jaringan otak ketika sesorang tengah jatuh cinta atau menjalani hubungan romantis.

Hasilnya, para ilmuwan menemukan kalau seseorang tengah jatuh cinta merupakan kondisi kompleks yang mirip dengan kecanduan.

Keduanya dapat membuat orang mengalami perubahan di area otak, yang mengendalikan perilaku penghargaan dan motivasi. Namun, perubahan terkait dalam jaringan konektivitas otak belum dapat dijelaskan.

Sebagaimana melansir laman Xinhua, Selasa (10/11/2020), peneliti dari China dan Amerika Serikat (AS) menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (functional magnetic resonance imaging/fMRI), untuk membandingkan organisasi jaringan fungsional seluruh otak dalam dua kelompok sukarelawan.

Grup "in-love" terdiri dari 16 perempuan yang sedang jatuh cinta dan grup "single" terdiri dari 14 perempuan yang tidak pernah jatuh cinta atau menjalin hubungan romantis.

Otak manusia diatur menjadi jaringan terpisah dengan koneksi dalam jaringan yang kuat dan relatif lebih lemah antarkoneksi jaringan.

Organisasi "dunia kecil" dianggap penting untuk memelihara sistem yang hemat energi karena otak mengonsumsi sekitar 20 persen energi tubuh.

Ilustrasi pasangan. (unsplash/Pablo Heimplatz)
Ilustrasi pasangan. (unsplash/Pablo Heimplatz)

 

Dibandingkan dengan grup "single", grup "in-love" menunjukkan segregasi jaringan yang lebih rendah dalam hasil fMRI mereka.

Konektivitas otak mengacu pada efisiensi transfer informasi melalui jaringan saraf. Kelompok "in-love" menunjukkan konektivitas yang menurun di angular gyrus kiri, sebuah pusat jaringan saraf yang melibatkan pemrosesan mandiri.

Konektivitas yang lebih rendah pada angular gyrus, dapat menunjukkan bahwa orang yang sedang jatuh cinta kurang memerhatikan diri sendiri dan lebih memerhatikan kekasih mereka.

Sementara itu, kelompok "in-love" menunjukkan peningkatan konektivitas di fusiform gyrus kiri, yang memainkan peran penting dalam pengenalan wajah dan ekspresi wajah.

Peningkatan konektivitas pada fusiform dapat menunjukkan bahwa orang yang sedang jatuh cinta, lebih cenderung terlibat dalam pemrosesan sosial-emosional, seperti membaca dan memahami ekspresi wajah kekasih mereka.

Studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Brain Imaging and Behavior.

Menurut para peneliti, temuan ini memberikan bukti pertama perubahan organisasi jaringan otak terkait cinta dan menemukan perubahan jaringan otak yang serupa, namun berbeda antara cinta romantis dan kecanduan, memberikan wawasan baru mengenai sistem saraf yang mendasari cinta romantis.

Itulah hasil penelitian, yang mendapati kalau otak manusia yang sedang jatuh cinta memiliki kemiripan dengan kecanduan. (Suara.com/ Dythia Novianty).

Berita Terkait