Sains

Jadi Faktor Penentu Awal Puasa, Ini Penjelasan Ilmiah Soal Hilal

Secara sains, hilal merupakan bagian dari fase bulan.

Agung Pratnyawan | Amelia Prisilia

Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]
Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]

Hitekno.com - Sebelum puasa dimulai, biasanya akan ramai pembahasan mengenai Hilal. Banyak mencari tahu apakah Hilal sudah tampak atau belum? Lalau apa itu sebenarnya Hilal, kenapa jadi penentu awal puasa dan bagaimana penjelasan ilmiahnya.

Salah satu hal penting yang menjadi acuan umat Muslim untuk melakukan puasa adalah Hilal. Berbicara mengenai Hilal, berikut sedikit penjelasan mengenai Hilal berdasarkan pemahaman sains.

Biasanya mendekati masa puasa, Kemenag akan melakukan pengamatan Hilal sebelum kemudian menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan.

Hilal sendiri merupakan istilah dari bahasa Arab yang berarti bulan sabit. Biasanya menentukan Hilal adalah dengan memantau bulan sabit pertama yang dapat diperhatikan dengan menggunakan mata telanjang atau dengan menggunakan alat bantu pengamatan.

Secara sains, Hilal merupakan bagian dari fase bulan. Menurut Cecep Nurwendaya, anggota Banda Hisab Rukyat Kemenag RI, setidaknya ada lima fase bulan.

Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]
Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]

 

Fase pertama yaitu bulan baru, fase kedua yaitu bulan sabit atau Hilal, fase ketiga yaitu bulan separuh kuartil peryama, fase keempat yaitu bulan besar, dan fase terakhir yaitu bulan tua.

Dilansir dari Jurnal Universum, dalam pandangan astronomi modern, Hilal baru akan terlihat jika posisi bulan dalam jarak minimal 8 derajat di samping matahari.

Memahami Hilal untuk kemudian menentukan kapan awal puasa dimulai, biasanya akan dilakukan pemantauan pada bulan sabit muda yang dapat terlihat usai terjadi bulan baru pada arah matahari terbenam. Penampakan ini yang kemudian menjadi acuan dalam kalender Islam.

Secara bentuk, Hilal pada umumnya memiliki bentuk yang tegak layaknya bulan sabit yang tipis. Lengkungan Hilal biasanya berada pada arah matahari. Sering kali, Hilal nampak bagaikan goresan cahaya yang sangat tipis sehingga sulit dilihat untuk pemula.

Di Indonesia sendiri, penentuan Hilal pada dasarnya dilakukan dengan dua metode, yaitu rukyah dan wujudul Hilal. Dua metode ini yang kemudian membuat Indonesia sering memiliki dua waktu perayaan Ramadan dan Idul Fitri.

Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]
Petugas memantau penampakan Hilal di Masjid Al-Musyari'in, Basmol, Jakarta, Minggu (5/5). [Suara.com/Arief Hermawan P]

 

Metode rukyah biasanya dengan menggunakan pantauan mata yaitu dengan batasan pengamatan mata dua derajat. Jika Hilal terlihat dengan menggunakan metode rukyah, maka besok adalah hari pertama dalam kalender Hijriah.

Metode kedua adalah wujudal Hilal yang percaya jika Hilal berada di atas cakrawala. Saat Hilal sudah berada di atas cakrawala, maka malam tersebut sudah memasuki bulan baru dalam kalender Hijriah.

Untuk memantau Hilal kini sudah tercipta berbagai teknologi super canggih. Sebelumnya, beberapa orang melakukan pengamatan Hilal dengan menggunakan mata telanjang.

Selain menggunakan teleskop, saat ini pengamatan Hilal juga menggunakan kamera digital yang hasilnya bisa diolah untuk meningkatkan kontras antara Hilal dan cahaya syafak atau senja.

Berdasarkan pengamatan Hilal yang dilakukan Kementerian Agama 1 Ramadan 1440 H jatuh pada hari ini, Senin (6/5/2019). Selamat menjalani ibadah puasa ya!

Berita Terkait