Sains

Bisa Ubah Sejarah, Kubus Uranium Ungkap Nazi Pernah Kembangkan Nuklir

Nazi bisa saja memenangkan perang jika kubus uranium mereka dikembangkan menjadi reaktor nuklir.

Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta

Ilustrasi kubus uranium Nazi. (University of Maryland/ John T. Consoli)
Ilustrasi kubus uranium Nazi. (University of Maryland/ John T. Consoli)

Hitekno.com - Fisikawan dari University of Maryland berhasil mengungkapkan fakta tersembunyi tentang kubus uranium milik Nazi yang bisa saja mengubah sejarah apabila berhasil dikembangkan menjadi reaktor nuklir.

Dalam catatan sejarah, Nazi Jerman diketahui merupakan musuh utama bagi AS, Inggris, dan negara Sekutu lainnya.

Seperti yang telah diketahui, setelah Perang Dunia 2, warga keturunan Jerman diusir dari berbagai negara Eropa dan dikirim ke wilayah Jerman dan Austria.

Itu diakibatkan setelah Nazi menderita kekalahan dan pemimpin tertingginya, Adolf Hitler, dilaporkan telah menghilang atau bunuh diri.

Nazi bisa saja mengubah sejarah yang memalukan bagi kaumnya tersebut apabila para ilmuwannya bersatu dan berhasil mengembangkan reaktor nuklir dan senjata nuklir.

Asumsi di atas datang dari penelitian fisikawan bernama Tymothy Koeth mengenai kubus uranium Nazi.

Ilustrasi bendera Nazi. (Pixabay/ WikimediaImages)
Ilustrasi bendera Nazi. (Pixabay/ WikimediaImages)

 

Kubus tersebut sangat kecil, yaitu berukuran 5 sentimeter. Namun dampaknya akan sangat besar apabila kubus itu bersatu dengan ratusan kubus lainnya sehingga reaktor nuklir data tercipta.

Setelah Perang Dunia II, sebanyak 600 kubus uranium disita oleh pasukan Sekutu dan dikirim ke Amerika Serikat.

Fisikawan dan mahasiswa pascasarjana University of Maryland, Miriam Hiebert, melaporkan sesuatu yang luar biasa.

Penelitian yang sudah diterbitkan di jurnal Physics Today mengungkapkan satu kesimpulan yang mengejutkan.

Kesimpulan itu adalah ilmuwan Jerman bisa saja menciptakan reaktor nuklir selama perang, namun persaingan antar tim peneliti menghambat upaya tersebut.

Timothy Koeth (kanan) dan Miriam Hiebert. (University of Maryland/ John T. Consoli)
Timothy Koeth (kanan) dan Miriam Hiebert. (University of Maryland/ John T. Consoli)

 

Jadi, Koeth dan Hiebert mengukur energi sinar gamma (partikel cahaya berenergi tinggi) yang dipancarkan dari kubus sebagai atom dalam peluruhan.

Pengukuran itu mengonfirmasi bahwa kubus adalah uranium alami yang belum diperkaya atau dimodifkasi.

Tes lebih lanjut menunjukkan bahwa kubus tidak pernah berada dalam reaktor nuklir yang berfungsi.

Jika sudah, para peneliti akan mendeteksi sinar gamma dari isotop cesium-137.

Dikutip dari Science News, simulasi komputer modern telah menyimpulkan bahwa simpanan 664 kubus uranium Jerman belum cukup bagi para ilmuwan untuk membuat reaktor nuklir.

Salah satu lorong terowongan rahasia yang mengarah ke bunker pengujian senjata Nazi. (Youtube/ Warren Urbexing)
Salah satu lorong terowongan rahasia yang mengarah ke bunker pengujian senjata Nazi. (Youtube/ Warren Urbexing)

 

Koeth dan Hiebert juga memeriksa dokumen sejarah di National Archives di College Park.

Pasangan peneliti itu menemukan referensi mengenai keberadaan 400 kubus lain yang dipegang oleh kelompok riset Jerman yang berbeda.

Pada saat itu, tim sains Jerman bersaing satu sama lain.

Jika mereka menggabungkan kekuatan, mereka akan memiliki cukup uranium untuk membuat reaktor nuklir.

Kubus uranium yang sangat kecil itu ternyata menguak misteri tersembunyi dan bahkan bisa mengubah sejarah apabila Nazi berhasil mengembangkannya menjadi reaktor nuklir.

Berita Terkait